Media Dakwah Islam, Seni Bela Diri Dua Dimensi, dan Pengembangan Potensi Spiritual

Sabtu, 23 Oktober 2010

Info Penting Seputar Pelatihan Bouraq Putih Indonesia

A.  Sepuluh Dasar Pokok Lembaga Perguruan “Bouraq Putih”     
      Indonesia Pusat Makassar – Sulawesi Selatan

Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim.
Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah,
wa Asyhadu Anna Muhammadar Rosuulullaah,
Radhiitu Billaahi Rabban, wabil Islaami Diinan,
wabi Muhammadin Nabiyyan wa Rasuulan.
1.   Menjauhkan diri dari segala bentuk kemusyrikan (QS.6:151 / 17:23).
2.   Senantiasa berbuat baik, taat, dan patuh kepada kedua orang tua (QS.6:151 / 17:23).
3.   Senantiasa memelihara dan meningkatkan ukhuwah Islamiyah (QS.49:10).
4.   Senantiasa memelihara dan menjaga diri dan keluarga (QS.66:6).
5.   Menjauhkan diri dari segala bentuk kekejian lahir dan bathin (QS.6:151).
6.   Senantiasa bersikap adil walaupun terhadap kerabat/keluarga sendiri, serta memenuhi takaran dan timbangan (QS.6:152).
7.   Tidak membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah Swt (QS.6:151).
8.   Tidak mendekati/memakan harta anak yatim, kecuali dengan cara yang bermanfaat (QS.6:152).
9.   Menepati perjanjian dengan Allah Swt (QS.6:152).
10.   Siap ittiba’ kepada al-Islam dan konsisten dengan ajaran Islam (QS.6:153).
Billaahi fii sabiilil haq.
Hasbunallaah wani’mal wakiil.
Lahaulaa wala quwwata illaa billaahil ‘aliiyil ‘adziim.
Wassalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Makassar,  15 Juni 1997
Pengurus Besar
LPBPI Pusat Makassar,

Drs. Haery Mogat Patta Raja, M.M.
Ketua Umum
                                                                       

B.  Sanksi bagi Kader yang Melanggar 10  Dasar Pokok
1.   Sanksi Theologis
Sanksi ini merupakan bentuk ganjaran yang secara eksplisit terdapat di dalam al-Qur’an, sebagai berikut:
a.  Sanksi kemunafikan
b.  Sanksi kefasikan
c.  Sanksi kekafiran
d.  Sanksi kedzaliman
2.   Sanksi Organisasi
Sanksi ini merupakan tindak lanjut dari sanksi theologis, berupa:
a.  Peringatan/teguran
b.  Pemecatan dari keanggotaan
c.  Dimusnahkan ilmunya

C.  Persyaratan Menjadi Anggota Latihan
1.   Bagi ikhwan/laki-laki, umur minimal 16 tahun.
Bagi akhwat/perempuan, umur minimal 18 tahun, berbusanah muslimah/-berjilbab.
2.   Sanggup mengikuti pengajian/kajian Islam secara rutin.
3.   Bersedia memenuhi 10 Dasar Pokok LPBPI Pusat Makassar.
4.   Telah lulus seleksi berupa ujian fisik, mental, dan wawasan keislaman/-ketauhidan.
5.   Telah mengisi & menandatangani formulir pendaftaran.
6.   Mendapat persetujuan dari orang tua/wali.
7.   Menyetor pas foto warna ukuran 2x3 cm, 3x4 cm, dan 4x6 cm masing-masing sebanyak 3 lembar.

D.  Persyaratan Menjadi Pelatih
1.   Syarat Umum
a.   Telah mengikuti ujian minimal Tingkat Dasar (Kasaran) yang dipandu langsung oleh  para Pembina/Pelatih senior LPBPI Pusat Makassar Sulawesi Selatan.
b.  Aktif dalam kegiatan kajian/pengajian al-Islam LPBPI baik yang diselenggarakan secara terpusat maupun pada Cabang/Unit pelatihan masing-masing.
c.   Aktif dalam kegiatan-kegiatan yang bernuansa pengabdian pada masyarakat (pengobatan, bakti sosial, dan sebagainya).
d.   Sebelumnya telah aktif mendampingi pelatih pada setiap Cabang/Unit pelatihan yang ada minimal selama 3 (tiga) bulan.
e.   Telah memenuhi 10 Dasar Pokok LPBPI Pusat Makassar.
2.   Syarat Khusus
a.   Sehat lahir dan bathin.
b.  Mempunyai semangat juang yang tinggi dan rela berkorban, serta sikap istiqomah terhadap ad-Dhienul Islam.
c.   Mempunyai loyalitas dan sifat amanah serta bertanggung jawab kepada LPBPI Pusat Makassar.
d.  Telah lulus seleksi/ujian kepelatihan yang diselenggarakan oleh Dewan Penguji yang ditetapkan oleh LPBPI Pusat Makassar.
e.  Telah mengikuti penataran khusus pelatih yang diselenggarakan oleh Pengurus Pusat LPBPI dan dinyatakan LULUS.

D.  Cara Menjaga Keutuhan Ilmu
Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim.
            Sebagai seorang kader olah raga pernapasan  (seni bela diri dua dimensi/-orajira = olah rasa, jiwa & raga) Lembaga Perguruan “Bouraq Putih” Indonesia Pusat Makassar Sulawesi Selatan, diharapkan dapat menjaga keutuhan ilmu ini  dengan senantiasa melatih napas, konsentrasi/dzikir, dan gerakan jurus secara terpadu, di samping untuk meningkatkan potensi diri yang telah dimiliki selama ini. Jadwal latihan dapat diatur sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu kegiatan lainnya, yang penting dilakukan secara teratur dan berkesinambungan minimal sekali sepekan.
Usahakan para kader melatih kembali dan mempermantap semua gerakan jurus yang telah dipelajari, misalnya pada Tingkat Dasar (Kasaran) mulai dari jurus 1 sampai dengan jurus 10, posisi kaki kiri dan kanan secara bergantian dan tertib, serta tidak berhenti sebelum gerakan tuntas/mantap. Para kader dapat pula mengupayakan latihan bersama (gabungan) minimal sekali sebulan dengan melibatkan para pelatih senior/Pembina dan memilih tempat latihan yang representatif, seperti: latihan di pinggir pantai/laut, sungai, gunung, pulau, dan sebagainya. Dan ingat jangan lupa buka dan tutup latihan sesuai prosedur yang telah ditetapkan oleh LPBPI Pusat Makassar, yaitu:
a.   Buat pagar ghaib pada lokasi sebelum latihan dimulai.
b.   Buka latihan dengan membaca do’a sesuai petunjuk lembaga.
c.   Pengajian al-Islam.
d.   Latihan olah raga fisik untuk pemanasan awal.
e.   Latihan olah napas/dzikir posisi duduk (awal).
f.    Latihan olah napas/dzikir posisi berdiri, dilanjutkan dengan latihan gerakan-gerakan jurus sesuai dengan tingkatan masing-masing dari awal sampai akhir, posisi kaki kiri dan kanan secara bergantian.
g.   Latihan olah napas/dzikir posisi duduk (akhir/penyegaran).
h.   Penjelasan aplikasi ilmu dan tanya jawab.
i.    Tutup latihan dengan kembali membaca do’a sesuai petunjuk lembaga.
j.    Buka kembali pagar ghaib yang dibuat sebelumnya.
Di samping itu, para kader juga sangat diharapkan untuk senantiasa mengaplikasikan ilmunya dengan membantu orang yang membutuhkan pertolongan kita, seperti mengobati orang sakit, ikut serta menciptakan ketertiban dan keamanan di lingkungan sekitar, dan sebagainya.
Suatu hal yang perlu kita sadari bahwa manusia hanya mampu berikhtiar dan berdo’a, selebihnya kembali kepada takdir dan kehendak Allah yang Mahakuasa. Dia-lah yang menentukan segalanya atas diri kita, beserta alam dan isinya.  Dia-lah yang Maha Berkehendak, dan makhluk tiada kuasa kecuali dengan perkenan-Nya semata.
Oleh karena itu, perbaikilah komunikasi  dengan Allah Swt (QS.3:191), senantiasalah mendekatkan diri kepada-Nya dengan jalan berpedoman kepada al-Qur’an dan al-Hadits, serta peliharalah hubungan baik dengan sesama manusia dan alam sekitar. Semoga ikhtiar dan ilmu amaliyah kita ini senantiasa mendapat redho Allah Swt, Aaamiien Yaa Robbul ‘aalamiien!
Billaahi fii sabiilil haq
Wassalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Bouraq Putih Indonesai
Haery Mogat Patta Raja

Selasa, 05 Oktober 2010

Muhasabah Harian

1.    Apakah anda setiap hari selalu shalat shubuh berjamaah di masjid ? (bagi ikhwan)
2.     Apakah anda selalu menjaga shalat yang 5 waktu berjamaah di masjid ? (bagi ikhwan)
3.    Apakah anda hari ini membaca Al-Qur’an?
4.    Apakah anda rutin membaca dzikir setelah selesai melaksanakan shalat wajib?
5.    Apakah anda selalu menjaga shalat sunnah rawatib sebelum dan sesudah shalat wajib?
6.    Apakah anda hari ini khusyu’ dalam shalat, menghayati apa yang anda baca?
7.    Apakah anda hari ini mengingat mati dan kubur?
8.    Apakah anda hari ini mengingat hari kiamat, segala peristiwa dan kedahsyatannya?
9.    Apakah anda telah memohon kepada Allah sebanyak 3 kali agar dimasukkan ke dalam syurga?
10.  Apakah anda telah meminta perlindungan kepada Allah sebanyak 3 kali agar diselamatkan dari api neraka? Karena: "Barang siapa yang memohon syurga kepada Allah sebanyak 3 kali, Syurga berkata, "Wahai Allah! Masukkanlah ia ke dalam syurga", dan barang siapa yang meminta perlindungan kepada Allah agar diselamatkan dari api neraka sebanyak 3 kali, Neraka berkata, "Wahai Allah! Selamatkan ia dari api neraka"." (Shahih Al-Jami’ No. 6151 Jilid 6)
11.   Apakah anda hari ini membaca hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?
12.  Apakah anda pernah berfikir untuk menjauhi teman-teman yang tidak baik?
13.  Apakah anda telah berusaha untuk menghindari banyak tertawa dan bergurau?
14.  Apakah anda hari ini menangis karena takut kepada Allah?
15.  Apakah anda selalu membaca dzikir pagi dan sore hari?
16.  Apakah anda hari ini telah memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa yang telah anda perbuat?
17.  Apakah anda telah memohon kepada Allah dengan benar untuk mati syahid? Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang memohon kepada Allah dengan benar untuk mati syahid, maka Allah akan memberikan kedudukan sebagai syuhada meskipun ia meninggal di atas tempat tidurnya." (HR. Muslim)
18.  Apakah anda telah berdo’a kepada Allah agar Ia menetapkan hati anda di atas agama-Nya?
19.  Apakah anda telah mengambil kesempatan untuk berdo’a kepada Allah di waktu–waktu yang mustajab?
20.  Apakah anda telah membeli buku-buku islam untuk memahami islam? (Tentu dengan memilih buku-buku yang sesuai dengan pemahaman yang diikuti oleh para sahabat Nabi, karena banyak juga buku-buku Islam yang tersebar di pasaran justru merusak pemahaman Islam yang benar).
21.  Apakah anda memintakan ampun kepada Allah untuk saudara-saudara mukminin dan mukminah? Karena dengan mendo’akan mereka anda mendapat kebaikan pula. (Shahih Al-Jami’ No. 5902)
22.  Apakah anda telah memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat Islam?
23.  Apakah anda telah memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat mata, telinga, hati dan segala nikmat lainnya?
24.  Apakah hari ini anda telah bersedekah kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan?
25.  Apakah anda dapat menahan amarah yang disebabkan karena urusan pribadi dan berusaha untuk marah karena Allah semata?
26.  Apakah anda telah berusaha untuk selalu menjauhkan diri dari sikap sombong dan membanggakan diri?
27.  Apakah anda telah mengunjungi saudara–saudara seiman dan seagama (ikhlas karena Allah semata)?
28.  Apakah anda telah berdakwah untuk keluarga, saudara-saudara, tetangga, dan siapa saja yang yang ada hubungannya dengan diri anda?
29.  Apakah anda termasuk orang yang berbakti kepada orang tua?
30.  Apakah anda selalu mengucapkan "Innaa Lillaahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun – Sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan sesungguhnya kami kembali kepada-Nya" jika anda mendapat musibah dari Allah? Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Hendaklah masing-masing kalian melakukan istirja’ (mengucapkan Innaa Lillaahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun) pada setiap hal meskipun ketika tali sandalnya putus karena hal itu termasuk musibah." (Hadits hasan, lihat Shahih Al-Kalimut Thayyib No. 140)
31.  Apakah anda hari ini mengucapkan do’a: "Allahumma Innii A’uudzubika an Usyrikabika wa Anaa A’lam wa Astaghfiruka Limaa laa A’lam – Ya allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu sedangkan aku mengetahui dan aku memohon ampunan-Mu terhadap apa-apa yang tidak aku ketahui." (Shahih Al-Jami’ No. 3625). Barang siapa yang mengucapkannya maka Allah akan menjauhkan darinya dari syirik besar dan syirik kecil.
32.  Apakah anda selalu berbuat baik kepada tetangga?
33.  Apakah anda telah membersihkan hati dari sombong, riya, hasad dan dengki?
34.  Apakah anda telah membersihkan lisan anda dari perkataan dusta, mengumpat, mengadu domba, berdebat kusir dan berbuat serta berkata yang tidak ada manfaatnya?
35.  Apakah anda selalu takut kepada Allah dalam hal penghasilan, makanan, minuman dan pakaian?
36.   Apakah anda selalu bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya di segala waktu atas segala dosa dan kesalahan?
"Akhi muslim, jawablah pertanyaan-pertanyaan di atas dengan perbuatan nyata, agar engkau mendapat ridla Allah dan menjadi orang-orang yang beruntung di dunia dan di akherat, Insya Allah."


Sumber:
-  Zaadul Muslim Al-Yaumi, Syaikh Abdullah bin Jaarullah bin Ibrahim Al-Jaarullah.
-   Al-Qabru ‘Adzaabuhu wa Na’iimuhu, Syaikh Husain Al-‘Awaisyah

Macam-macam Hati

Oleh: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah,
Ibnu Rajab al-Hambali, Imam Ghazali


Hati itu bisa hidup dan bisa mati. Sehubungan dengan itu, hati dapat dikelompokkan menjadi:
1.  Hati yang sehat
2.  Hati yang mati
3.  Hati yang sakit

Hati yang sehat adalah hati yang selamat. Pada hari kiamat nanti, barangsiapa menghadap  Allah Subhanahu wa Ta'ala tanpa membawanya tidak akan selamat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: “Adalah hari yang mana harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (QS Asy-Syu'ara: 88-89)
Hati yang selamat didefinisikan sebagai hati yang terbebas dari setiap syahwat, keinginan yang bertentangan dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala dan dari setiap syubhat, ketidakjelasan yang menyeleweng dari kebenaran. Hati ini selamat dari beribadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta'ala dan berhukum kepada selain Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Ubudiyahnya murni kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Iradahnya, mahabbahnya, inabahnya, ikhbatnya, khasyyahnya, roja'nya, dan amalnya, semuanya lillah, karenaNya. Jika ia mencintai, membenci, memberi, dan menahan diri, semuanya karena Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ini saja tidak dirasa cukup. Sehingga ia benar-benar terbebas dari sikap tunduk dan berhukum kepada selain Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Hatinya telah terikat kepadanya dengan ikatan yang kuat untuk menjadikannya sebagai satu-satunya panutan, dalam perkataan dan perbuatan. Ia tidak akan berani bersikap lancang, mendahuluinya dalam hal aqidah, perkataan atau pun perbuatan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, Janganlah kalian bersikap lancang (mendahului) Allah dan RasulNya, dan bertaqwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Hujurat:1)
Hati yang mati adalah hati yang tidak mengenal siapa Rabbnya. Ia tidak beribadah kepadaNya dengan menjalankan perintahNya atau menghadirkan sesuatu yang dicintai dan diridhaiNya. Hati model ini selalu berjalan bersama hawa nafsu dan kenikmatan duniawi, walaupun itu dibenci dan dimurkai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ia tidak peduli dengan keridhaan atau kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Baginya, yang penting adalah memenuhi keinginan hawa nafsu. Ia menghamba kepada selain Allah Subhanahu wa Ta'ala. Jika ia mencintai, membenci, memberi, dan menahan diri, semuanya karena hawa nafsu. Hawa nafsu telah menguasainya dan lebih ia cintai daripada keridhaan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hawa nafsu telah menjadi pemimpin dan pengendali baginya. Kebodohan adalah sopirnya, dan kelalaian adalah kendaraan baginya. Seluruh pikirannya dicurahkan untuk menggapai target-target duniawi. Ia diseru kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan negeri akhirat, tetapi ia berada di tempat yang jauh sehingga ia tidak menyambutnya. Bahkan ia mengikuti setiap setan yang sesat. Hawa nafsu telah menjadikannya tuli dan buta selain kepada kebatilan. Bergaul dengan orang yang hatinya mati ini adalah penyakit, berteman dengannya adalah racun, dan bermajlis dengan mereka adalah bencana.
Hati yang sakit adalah hati yang hidup namun mengandung penyakit. Ia akan mengikuti unsur yang kuat. Kadang-kadang ia cenderung kepada 'kehidupan', dan kadang-kadang pula cenderung kepada 'penyakit'. Padanya ada kecintaan, keimanan, keikhlasan, dan tawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala , yang merupakan sumber kehidupannya. Padanya pula ada kecintaan dan ketamakan terhadap syahwat, hasad 2 , kibr 3, dan sifat ujub, yang merupakan sumber bencana dan kehancurannya. Ia ada di antara dua penyeru; penyeru kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan hari akhir, dan penyeru kepada kehidupan duniawi. Seruan yang akan disambutnya adalah seruan yang paling dekat, paling akrab.
Kesimpulan:
Demikianlah, hati yang pertama adalah hati yang hidup, khusyu', tawadlu', lembut dan selalu berjaga. Hati yang kedua adalah hati yang gersang dan mati, Hati yang ketiga adalah hati yang sakit, kadang-kadang dekat kepada keselamatan dan kadang-kadang dekat kepada kebinasaan.




Catatan kaki:
1.  Disebutkan dalam sebuah hadits,  Cintamu kepada  sesuatu akan membutakanmu dan menulikanmu, Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Al Adab XIV/38 secara marfu'dan oleh Imam Ahmad dalam Musnad V /194 secara marfu', juga VI/450 secara mauquf. Semuanya dari Abu Darda'. Abu Dawud tidak mengomentari hadits ini. Namun sebagian ulama menghasankannya, dan sebagian yang lain mendlaif-kannya.
2.  Hasad  atau dengki  adalah sikap  tidak suka melihat orang lain  mendapat nikmat dan  mengharapkan nikmat itu lenyap darinya.
3. Kibr atau sombong adalah menganggap remeh orang lain. Rasulullah bersabda, Kibr itu menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. HR. Muslim II/89



---------------------------
Diketik ulang dari: “Tazkiyah An-Nafs”, Konsep Penyucian Jiwa Menurut Para Salaf, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Ibnu Rajab al-Hambali, Imam Ghazali.Pentahqiq: Dr. Ahmad Farid. Penerjemah: Imtihan Asy-Syafi'i. Editor: Abu Fatiah Al Adnani. Penerbit: Pustaka Arafah, Solo. Cetakan Pertama: Februari 2001/Dzul Qa'dah 1421 H, hal.22-24

Cara Menangkal dan Menanggulangi Sihir

Allah telah mensyariatkan kepada hamba-hamba-Nya supaya mereka menjauhkan diri dari kejahatan sihir sebelum terjadi pada diri mereka. Allah juga menjelaskan tentang bagaimana cara pengobatan sihir bila telah terjadi. Ini merupakan rahmat dan kasih sayang Allah, kebaikan dan kesempurnaan nikmat-Nya kepada mereka.

Berikut ini beberapa penjelasan tentang usaha menjaga diri dari bahaya sihir sebelum terjadi, begitu pula usaha dan cara pengobatannya bila terkena sihir, yakni cara-cara yang dibolehkan menurut hukum syara’.

Pertama: Tindakan Preventif, yakni usaha menjauhkan diri dari bahaya sihir sebelum terjadi.
Cara yang paling penting dan bermanfaat ialah penjagaan dengan melakukan dzikir yang disyariatkan, membaca doa dan taawudz sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, diantaranya seperti di bawah ini:

1.  Membaca ayat Kursi setiap selesai shalat lima waktu, sesudah membaca wirid atau ketika akan tidur.
Karena ayat Kursi termasuk ayat yang paling besar nilainya di dalam Al Quran. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda dalam salah satu hadits shahihnya:
Barangsiapa membaca ayat Kursi pada amalam hari, Allah senantiasa menjaganya dan syetan tidak mendekatinya sampai shubuh.
Ayat Kursi terdapat dalam surat Al Baqoroh ayat 255 yang artinya:
“Allah tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus (mahluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur, Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengtahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”
2.  Membaca surat Al-Ikhlas, surat Al-Falaq, dan surat An-Naas pada setiap selesai shalat lima waktu, dan membaca ketiga surat tersebut sebanyak tiga kali pada pagi hari sesudah shalat shubuh, dan menjelang malam sesudah shalat maghrib, sesuai dengan hadits riwayat Abu Dawud, At-Tirmidzi dan An-Nasai.
3. Membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqoroh yaitu ayat 285 286 pada permulaan malam, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam:
Barangsiapa membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqoroh pada malam hari, maka cukuplah baginya.”

4.  Banyak berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna.
Hendaklah dibaca pada malam hari dan siang hari ketika berada di suatu tempat, ketika masuk ke dalam suatu bangunan, ketika berada di tengah padang pasir, di udara atau di laut. Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:

Barangsiapa singgah di suatu tempat dan dia mengucapkan:
“Audzu bi kalimaatillahi attaammaati min syarri maa khalaq.”
(Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk ciptaan-Nya), maka tidak ada sesuatupun yang membahayakannya sampai ia pergi dari tempat itu.” (HR Muslim).

5.  Membaca doa di bawah ini masing-masing tiga kali pada pagi hari dan menjelang malam:
     Bismillahilladziilaa ya dhurru ma  asmihi syai-un fiilardhi walaa fiissamaaai wa huwassamiiul aliim.
(Dengan Nama Allah, yang bersama namaNya, tidak ada sesuatupun yang membahayakan, baik di bumi maupun di langit dan Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui).”  (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi).

Bacaaan dzikir dan ta
awwudz ini merupakan sebab-sebab yang besar untuk memperoleh keselamatan dan untuk menjauhkan diri dari kejahatan sihir dan kejahatan lainnya. Yaitu bagi mereka yang selalu mengamalkannya secara benar disertai keyakinan yang penuh kepada Allah, bertumpu dan pasrah kepada-Nya dengan lapang dada dan hati yang khusyu’.

Kedua: Bacaan-bacaan seperti ini juga merupakan senjata ampuh untuk menghilangkan sihir yang sedang menimpa seseorang, dibaca dengan hati yang khusyu’, tunduk dan merendahkan diri, seraya memohon kepada Allah agar dihilangkan bahaya dan malapetaka yang dihadapi. Doa-doa berdasarkan riwayat yang kuat dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam untuk menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh sihir dan lain sebagainya adalah sebagai berikut :

1. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam me-ruqyah (mengobati dengan membaca ayat-ayat Al-Quran atau doa-doa syari) sahabat-sahabatnya dengan bacaan:

“Allahumma robbinnaasi adzhibil ba-sa wasyfi antasy syaafii laa syifaa-a illaa syfaa-uka syifaa-allaa yughoodiru saqomaa.”

“Ya Allah, Tuhan segenap manusia..! Hilangkanlah sakit dan sembuhkanlah, Engkau Maha Penyembuh, tidak ada penyembuhan melainkan penyembuhan dari-Mu, penyembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.”
(HR Muslim).

2.  Doa yang dibaca Jibril Alaihi Sallam, ketika me-ruqyah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam.
“Bismillahi arqiika min kulli syai-in yu-dziika wa min syarriin kulli nafsinn aw aini khaasid. Allahu yasyfiika bismillaho arqiika.”

“Dengan Nama Allah, Aku meruqyahmu dari segala yang meyakitkanmu, dan dari kejahatan setiap diri atau dari pandangan mata yang penuh kedengkian, semoga Allah menyembuhkanmu, dengan Nama Allah aku Meruqyahmu.”
 
Bacaan ini hendaknya diulang tiga kali.

3. Pengobatan sihir cara lainnya, terutama bagi laki-laki yang tidak dapat berjima’’(hubungan seks) dengan istrinya karena terkena sihir. Yaitu, ambillah tujuh lembar daun bidara yang masih hijau, ditumbuk atau digerus dengan batu atau alat tumbuk lainnya, sesudah itu dimasukkan ke dalam bejana secukupnya untuk mandi; bacakan ayat Kursi pada bejana tersebut; bacakan pula surat Al-Kafirun, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas, dan ayat-ayat sihir dalam surat Al-Araf ayat 117-119, surat Yunus ayat 79-82 dan surat Thaha ayat 65-69.

4. Cara pengobatan lainnya, sebagi cara yang paling bermanfaat ialah berupaya mengerahkan tenaga dan daya untuk mengetahui dimana tempat sihir terjadi, di atas gunung atau di tempat manapun ia berada, dan bila sudah diketahui tempatnya, diambil dan dimusnahkan sehingga lenyaplah sihir tersebut.

Inilah beberapa penjelasan tentang perkara-perkara yang dapat menjaga diri dari sihir dan usaha pengobatan atau cara penyembuhannya, dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

Adapun pengobatan dengan cara-cara yang dilakukan tukang-tukang sihir, yaitu dengan mendekatkan diri kepada jin disertai dengan penyembelihan hewan, atau cara-cara mendekatkan diri lainnya, maka semua ini tidak dibenarkan karena termasuk perbuatan syirik paling besar yang wajib dihindari.

Demikian pula pengobatan dengan cara bertanya kepada dukun,
arraf (tukang ramal) dan menggunakan petunjuk sesuai dengan apa yang mereka katakan. Semua ini tidak dibenarkan dalam Islam, karena dukun-dukun tersebut tidak beriman kepada Allah; mereka adalah pendusta dan pembohong yang mengaku mengetahui hal-hal ghaib, dan kemudian menipu manusia.

Rasulullah Shallallahu
Alaihi Wa Sallam telah memperingatkan orang-orang yang mendatangi mereka, menanyakan dan membenarkan apa yang mereka katakan, sebagaimana telah dijelaskan hukum-hukumnya di awal tulisan ini  (Risalah berjudul: Sihir dan Perdukunan).

Kepada Allah Subhanahu wa Ta
ala kita memohon, agar seluruh kaum muslimin dilimpahkan kesejahteraan dan keselamatan dari segala kejahatan, dan semoga Allah melindungi mereka, agama mereka, dan menganugerahkan kepada mereka pemahaman dan agama-Nya, serta memelihara mereka dari segala sesuatu yang menyalahi syariat-Nya.



Maraji':
Hukum Sihir dan Perdukunan, Syaikh Abdul Aziz bin Abdul Aziz bin Baaz, Ditjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Depag RI bekerjasama dengan Al Haramain Islamic Foundation.