Berkenaan dengan nikmat surgawi dan siksaan-siksaan neraka yang akan mengikuti kehidupan ini, semua orang yang percaya pada al-Qur'an dan Sunnah sudah cukup mengetahuinya. Tapi ada suatu hal yang sering terlewatkan oleh mereka, yaitu bahwa ada juga suatu surga ruhaniah dan neraka ruhaniah. Mengenai surga ruhaniah, Allah berfirman kepada NabiNya, "Mata tidak melihat, tidak pula telinga mendengarnya, tak pernah pula terlintas dalam hati manusia apa-apa yang disiapkan bagi orang-orang yang takwa."
Di dalam hati manusia yang tercerahkan ada sebuah jendela yang membuka ke arah hakikat-hakikat dunia ruhaniah, sehingga ia mengetahui - bukan dari kabar angin atau kepercayaan tradisional, melainkan dengan pengalaman nyata - segala sesuatu yang menyebabkan kerusakan ataupun kebahagiaan di dalam jiwa, persis sama jelas dan tegasnya sebagaimana seorang dokter mengetahui apa yang menyebabkan penyakit ataupun menyehatkan tubuh. Ia tahu bahwa pengetahuan tentang Allah dan ibadah bersifat mengobati, dan bahwa kejahilan dan dosa adalah racun-racun maut bagi jiwa. Banyak orang, bahkan juga yang disebut sebagai ulama, karena mengikuti secara membuta pendapat orang lain, tidak mempunyai keyakinan yang sesungguhnya dalam iman mereka berkenaan dengan kebahagiaan atau penderitaan jiwa di akhirat. Tetapi orang yang mau mempelajari masalah ini dengan pikiran yang tak terkotori oleh prasangka akan sampai pada keyakinan yang jelas tentang masalah ini.
Akibat kematian atas sifat gabungan (komposit) manusia adalah sebagai berikut. Manusia punya dua jiwa, jiwa hewani dan jiwa ruhani. Jiwa ruhani ini bersifat malaikat. Tempat jiwa hewaniah adalah dalam hati, tempat dari mana jiwa ini menyebar seperti uap halus dan menyelusupi semua anggota tubuh, memberikan tenaga atau kemampuan melihat pada mata, mendengar pada telinga, serta kepada semua anggota tubuh memberikan kemampuan untuk menyelenggarakan fungsi-fungsinya. Hal ini bisa dibandingkan dengan sebuah lampu yang ditempatkan di dalam suatu pondok yang cahayanya jatuh pada dinding-dinding ke mana pun ia pergi. Hati adalah sumbu lampu ini, dan jika penyaluran minyaknya diputus karena suatu alasan, maka matilah lampu itu. Seperti itulah kematian jiwa hewani. Tidak demikian halnya dengan jiwa ruhani atau jiwa manusiawi. Ia tak terpilahkan dan dengannya manusia mengenali Allah.
Boleh dikatakan dialah pengendara jwa hewani. Dan ketika jiwa hewani musnah, ia tetap tinggal, tetapi laksana seorang penunggang kuda yang telah turun atau seperti seorang pemburu yan gtelah kehilangan senjatanya. Kuda dan senjata-senjata itu dianugerahkan pada jiwa manusia agar dengan itu semua ia bisa mengejar dan menangkap keabadian cinta dan pengetahuan tantang Allah. Jika ia telah berhasil melakukan penangkapan itu, maka bukannya berkeluh kesah, ia pun merasa lega ketika bisa menyingkirkan senjata-senjata itu. Oleh karena itu Rasulullah saw. bersabda, "Kematian adalah suatu hadiah Tuhan yang diharap-harapkan oleh para mukminin." Tapi celakalah kalau jiwa itu kehilangan kuda dan senjata-senjata pemburuannya sebelum berhasil memperoleh hadiah tersebut. Kesedihan dan penyesalannya akan tak terperikan.
Pembahasan yang agak lebih jauh akan menunjukkan betapa bedanya jiwa manusia dari jasad dan anggota-anggotanya. Setiap anggota tubuh bisa rusak dan berhenti bekerja, tapi individualitas jiwa tak terganggu. Lebih jauh lagi, jasad yang anda miliki sekarang tidak lagi berupa jasad sebagaimana yang anda miliki pada waktu kecil, melainkan sudah berbeda sama sekali. Meskipun demikian, kepribadian anda sekarang ini sama dengan pada waktu itu. Karena itu, sangat mudahlah untuk membayangkannya sebagai terus ada bersama-sama sifat-sifat esensialnya yang tak tergantung pada tubuh, seperti pengetahuan dan cinta akan Tuhan. Inilah arti ayat al-Qur'an, "hal-hal yang baik itu abadi." Tetapi, jika sebaliknya daripada membawa pengetahuan bersama anda, anda malah menyeleweng dalam kejahilan tentang Allah. Kejahilan ini juga merupakan suatu sifat esensial dan akan tinggal abadi bagai kegelapan jiwa dan benih kesedihan. Oleh karena itu, al-Qur'an berkata, "Orang yang buta di dalam hidup ini akan buta di akhirat dan tersesat dari jalan yang lurus."
Alasan bagi kembalinya ruh manusia yang sedang kita bicarakan ini merujuk ke dunia yang lebih tinggi adalah bahwa ia berasal dari sana dan bahwa ia bersifat malaikat. Ia dikirim ke ruang yang lebih rendah ini berlawanan dengan kehendaknya demi memperoleh pengetahuan dan pengalaman, sebagaimana Allah berfirman di dalam al-Qur'an, "Turunlah dari sini kamu semuanya, akan datang padamu perintah-perintah dari-Ku dan siapa yang menaatinya tidak perlu takut dan tak perlu pula mereka gelisah." Ayat: "Aku tiupkan ke dalam diri manusia ruh-Ku" juga menunjukkan asal samawi jiwa manusia. Sebagaimana kesehatan jiwa hewani adalah berupa kesimbangan dari bagian-bagian penyusunannya, dan keseimbangan ini bisa dipulihkan jika mengalami gangguan, oleh obat-obat yang sehat, demikian pulalah kesehatan jiwa manusia berbentuk suatu keseimbangan moral yang dipelihara dan diperbaiki, jika dibutuhkan, oleh perintah-perintah etis dan ajaran-ajaran moral.
Berkenaan dengan kemaujudan dunia di masa yang akan datang, telah kita lihat bahwa jiwa manusia secara esensial tak tergantung pada tubuh. Semua keberatan terhadap kemaujudannya setelah kematian, didasarkan pada dugaan adanya keperluan akan pemulihan jasad terdahulunya yang telah jatuh ke tanah. Beberapa ahli kalam menduga bahwa jiwa manusia tak termusnahkan setelah mati, malah terpulihkan. Tetapi hal ini sesungguhnya bertentangan baik dengan nalar maupun al-Qur'an. Yang disebut terdahulu menunjukkan pada kita bahwa kematian tidak menghancurkan individualitas esensial seorang manusia dan al-Qur'an berkata, "Jangan kamu pikir orang-orang yang terbunuh du jalan Allah itu telah mati. Tidak! Mereka masih hidup, bergembira dengan kehadiran Tuhan mereka dan di dalam limpahan karunia atas mereka." Tidak satukata pun disebutkan di dalam syariah tentang orang-orang mati, yang baik maupun jahat, sebagai termusnahkan. Malah, Nabi saw. diriwayatkan telah bertanya kepada arwah orang-orang kafir yang terbunuh tentang apakah mereka mendapati hukuman-hukuman yang diancamkan kepada mereka sesuatu yang benar atau tidak. Ketika para pengikutnya bertanya kepadanya apa gunanya bertanya kepada mereka, beliau menjawab: "Mereka bisa mendengar kata-kataku lebih baik daripada engkau."
Beberapa orang sufi telah dapat menampak dunia dan neraka yang tak kasat mata, diungkapkan kepada mereka pada saat-saat mereka berada dalam keadan kerasukan (trance) seperti mati. Pada saat pulihnya kesadaran, muka-muka mereka menggambarkan sifat ungkapan-ungkapan yang telah mereka terima dengan tanda-tanda kegembiraan yang luar biasa ataupun kepanikan. Tapi tidak perlu lagi visi untuk membuktikan kepada manusia-manusia yang berpikir apa-apa yang akan terjadi. Yaitu ketika kematian telah mencabut indera-inderanya dan meninggalkannya tanpa sesuatu apa pun kecuali kepribadian telanjangnya, jika ketika di atas bumi ia terlalu asyik menyibukkan dirinya dengan benda-benda cerapan indera - seperti isteri, anak, kekayaan, tanah, budak laki-laki dan perempuan dan sebagainya - ia akan menderita ketika kehilangan benda-benda ini. Sebaliknya, jika ia telah membalikkan punggung sejauh-jauhnya dari semua benda-benda duniawi dan meneguhkan kasih sayangnya yang amat besar terhadap Allah, ia akan menyambut kematian sebagai suatu sarana untuk melarikan diri dari kerepotan-kerepotan duniawi dan bergabung dengan Ia yang dicintainya. Dalam kasus ini, sabda Rasul akan akan terbukti: "Kematian adalah jembatan yang menyatukan sahabat dengan sahabat"; "dunia ini surga bagi orang kafir, dan penjara bagi orang-orang mukmin."
Di pihak lain, semua derita yang ditanggung oleh jiwa setelah mati bersumber pada cinta yang berlebih-lebihan terhadap dunia. Rasulullah bersabda bahwa semua oran gkafir setelah mati akan disiksa oleh 99 ular, masing-masing memiliki 9 kepala. Beberapa orang yang berpikiran sederhana telah memeriksa kuburan orang-orang kafir ini dan bertanya-tanya mengapa mereka tak bisa melihat ular-ular ini. Mereka tidak paham bahwa ular-ular ini bersemayam di dalam ruh orang-orang kafir itu dan bahwa kesemuanya itu sudah ada di dlam diri orang-orang kafir tersebut, bahkan sebelum ia mati. Karena semuanya itu sesungguhnya adalah simbol-simbol sifat jahatnya, seperti cemburu, kebencian, kemunafikan, kesombongan, kelicikan dan lain sebagainya. Sifat-sifat itu semuanya bersumber, secara langsung maupun tidak, pada kecintaan terhadap dunia ini. Itulah neraka yang disediakan bagi orang-orang yang di dlam al-Qur'an dikatakan "meneguhkan hati mereka pada dunia ini lebih daripada akhirat". Jika ular-ular itu sekadar bersifat eksternal belaka, mereka akan bisa berharap untuk melarikan diri dari siksanya, meskipun hanya untuk sesaat saja. Tetapi jika semuanya itu sudah menjadi sifat-sifat bawaan mereka, bagaimana mereka bisa melarikan diri?. Ambillah contoh kasus seseorang yang menjual seorang budak perempuan tanpa tahu seberapa jauh ia telah terikat dengannya sampai ketika perempuan itu telah sama sekali berada di luar jangkauannya. Kemudian kecintaan pada budak itu, yang selama ini tertidur, bangun di dalam dirinya dengan suatu intensitas yang menyiksanya, menyengatnya seperti ular. Ia bisa gila karenanya, mencapakkan dirinya ke dalam api atau air untuk melarikan diri darinya. Inilah akibat cinta terhadap dunia, yang tidak pernah terbayang dalam diri orang-orang yang memilikinya sampai ketika dunia direnggut dari mereka dan kemudian siksaan kesia-siaan membuat mereka mau dengan senang hati menukarnya dengan sekadar ular-ular dan kepiting-kepiting eksternal belaka, berapa pun jumlahnya. Karenanya, setiap orang yang berbuat dosa membawa perkakas-perkakas hukumannya sendiri ke dunia di balik kematian. Benar kata al-Qur'an: "Sesungguhnya kalian akan melihat neraka. Kalian akan melihatnya dengan mata keyakinan (ainul-yaqin)", dan "neraka mengitari orang-orang kafir." Ia tidak berkata akan mengitari mereka, karena neraka sudah mengitari mereka sekarang juga.
Mungkin ada orang yang berkeberatan. Jika demikian halnya, kemudian siapakah yang bisa menghindar dari neraka, karena siapakah orang yang sedikit banyak tidak terikat pada dunia dengan berbagai ikatan kesenangan dan kepentingan. Atas pertanyaan ini kita menjawab bahwa ada orang-orang, terutama para faqir, yang telah sama sekali melepaskan diri mereka dari cinta terhadap dunia. Tetapi bahkan di antara orang-orang yang memiliki kekayaan-kekayaan duniawi - seperti isteri, anak, rumah dan lain sebagainya - masih ada juga orang-orang yang, meskipun mereka memiliki kecintaan terhadap benda-benda ini, mencintai Allah lebih dari segalanya. Kasus mereka adalah seperti seseorang yang, meskipun mempunyai sebuah tempat tinggal yan gia cintai di suatu kota, ketika diminta oleh sang raja untuk mengisi suatu pos kekuasaan di kota lain, ia melakukannya dengan senang hati, karena pos kekuasaan itu lebih berharga baginya daripada tempat tinggalnya terdahulu. Para nabi dan banyak di antara para wali adalah orang-orang seperti itu.
Dalam jumlah besar, ada pula orang-orang lain yang memiliki kecintaan pada Allah, tetapi kecintaannya terhadap dunia ini demikian berlebihan dalam diri mereka sehingga mereka akan harus menderita siksaan yang cukup besar setelah kematian sebelum mereka sama sekali terbebaskan daripadanya. Banyak yang memiliki kecintaan kepada Allah, tapi seseorang bisa dengan mudah menguji dirinya dengan melihat ke mana cenderungnya lengan timbangan cintanya ketika perintah-perintah Allah datang berbenturan dengan beberapa keinginannya. Pemilikan akan cinta kepada Allah yang tidak cukup menahan seseorang dari pembangkangan kepada Allah adalah suatu kebohongan.
Telah kita lihat di atas bahwa salah satu jenis neraka ruhani itu berbentuk pemisahan secara paksa dari benda-benda duniawi yang kepadanya hati terikat terlalu erat. Banyak orang yang tanpa sadar membawa dalam dirinya kuman-kuman neraka seperti itu. Mereka akan merasa seperti seorang raja yang setelah menjalani hidup mewah, dicampakkan dari singgasananya dan menjadi bahan tertawaan.
Jenis kedua neraka ruhani adalah malu, yaitu ketika seseorang dibangunkan untuk melihat sifat tindakan-tindakan yang dulu dilakukannya dalam hakikat telanjangnya. Orang yang mengumpat akan melihat dirinya dalam bentuk seorang kanibal yang makan daging saudaranya yang telah mati. Orang yang mempunyai sifat iri hati akan tampak sebagai seseorang yang melemparkan batu-batu ke dinding, kemudian batu-batu itu memantul kembali dan mengenai mata anaknya sendiri.
Neraka jenis ini, yaitu malu, bisa disimpulkan dengan perumpamaan ringkas berikut ini. Misalkan seorang raja baru selesai merayakan perkawinan anak laki-lakinya. Pada malam harinya, laki-laki muda itu pergi keluar dengan beberapa orang sahabat dan kemudian kembali ke istana dalam keadaan mabuk. Ia memasuki sebuah kamar yang terang dan kemudian berbaring di samping tubuh yang diduganya sebagai mempelai wanitanya. Pagi harinya, ketika kesadarannya pulih, ia terperanjat ketika mendapati dirinya berada di dalam sebuah kamar mayat para penyembah-api. Sofanya adalah tandu jenazah, dan bentuk yang disalah-mengertikannya sebagai mempelai perempuannya adalah mayat seorang wanita tua yang mulai membusuk. Ketika keluar dari kamar mayat dengan pakaian kumuh, betapa malunya ia ketika ayahnya, sang raja, menghampirinya dengan serombongan tentara. Itu gambaran perumpamaan tentang rasa malu yang akan dirasakan di akhirat oleh orang-orang yang dengan serakah telah memasrahkan diri mereka pada hal-hal yang mereka anggap sebagai kebahagiaan.
Neraka ruhaniah ketiga berbentuk kekecewaan dan kegagalan untuk mencapai obyek kemaujudan yang sesungguhnya. Manusia diciptakan dengan maksud untuk mencermini cahaya pengetahuan akan Tuhan. Tapi jika ia sampai di akhirat dengan jiwa yang tersaput tebal oleh karat pengumbaran nafsu inderawi, ia akan sama sekali gagal untuk memperoleh tujuan penciptaannya. Kekecewaannya bisa digambarkan dengan cara berikut. Misalkan seseorang sedang melewati sebuah hutan gelap bersama beberapa orang sahabat. Di sana-sini berkelap-kelip di atas tanah, bertebaran batu-batu berwarna. Para sahabatnya mengumpulkan dan membawa benda-benda itu seraya menasehatinya agar ia turut melakukan hal yang sama. "Karena," kata mereka, "kami dengar batu-batu itu akan memperoleh harga tinggi di tempat yang akan kita datangi." Tapi orang ini malah menertawakan mereka dan menyebut mereka sebagai orang-orang pandir karena menyimpan harapan sia-sia untuk memperoleh sesuatu, sementara ia sendiri bisa berjalan bebas tak berbebani. Kemudian mereka pun menjelang terang tanah dan mendapati bahwa batu-batu yang berwarna-warni itu ternyata batu-batu delima, Zamrud dan permata-permata lain yang tak terkira harganya. Kekecewaan dan penyesalan orang itu, karena tidak mengumpulkan benda-benda yang sudah berada dalam jangkauannya itu, lebih mudah dibayangkan daripada diperikan. Seperti itulah jadinya penyesalan orang-orang yang ketika melalui duni aini tidak berusaha memperoleh permata-permata kebajikan dan perbendaharaan-perbendaharaan agama.
Perjalanan manusia di dunia ini bisa dikelompokkan dalam empat tahap - yang inderawi, eksperimental, instingtif dan rasional. Dalam tahap yang pertama ia seperti seekor rayap yang, meskipun memiliki penglihatan, tak punya kemampuan mengingat dan akan menghapuskan dirinya terus-menerus pada lilin yang sama. Tahap kedua, ia seperti seekor anjing yang, setelah sekali digigit, akan lari ketika melihat sebatang rotan pemukul. Pada tahap ketiga, ia seperti seekor kuda atau domba yang, secara instingtif, terbang seketika tatkala melihat seekor macan atau srigala - musuh-musuh alaminya - sementara mereka tak akan lari jika melihat seekor onta atau kerbau, meskipun kedua binatang ini lebih besar ukurannya. Di dalam tahap yang keempat manusia sama sekali mengatasi batas-batas binatang itu sehingga mampu, sampai batas tertentu, meramalkan dan mempersiapkan diri bagi masa depan. Gerakan-gerakannya pada mulanya bisa dibandingkan dengan berjalan biasa di atas tanah, kemudian menyeberangi laut dengan sebuah kapal, kemudian pada pendaratan keempat - ketika ia sudah akrab dengan hakikat-hakikat - berjalan di atas air. Sementara itu, di balik dataran ini masih ada dataran kelima yang dikenal oleh para nabi dan wali yang bisa dibandingkan dengan terbang mengarungi udara.
Jadi manusia punya kemampuan untuk dada pada berbagai dataran yang berbeda, mulai dari dataran hewaniah sampai dataran malaikat. Dan persis dalam hal inilah terletak bahayanya, yaitu dari kemungkinan jatuh ke dataran yang paling rendah. Di dalam al-Qur'an tertulis, "Telah Kami tawarkan (yaitu tanggung jawab atau kehendak bebas) kepada lelangit dan bumi serta gunung-gunung; mereka menolak untuk menanggungnya. Tetapi manusia mau mananggungnya. Sesungguhnya manusia itu bodoh." Tidak hewan tidak pula malaikat bisa mengubah tingkat dan tempat ia ditempatkan. Tetapi seseorang bisa tenggelamke dataran hewaniah atau terbang ke dataran malaikat, dan inilah arti dari "penanggungan beban" sebagaimana disebutkan di atas oleh al-Qur'an. Sebagian besar manusia memilih untuk berada di dua tahap terndah tersebut di atas, dan yang tetap tinggal biasanya selalu bersikap bermusuhan dengan orang yang bepergian atau musafir yang jumlahnya jauh lebih sedikit.
Banyak orang dari kelas yang disebut terdahulu, karena tidak memiliki keyakinan yang teguh tentang dunia yang akan datang, ketika dikuasai oleh nafsu-nafsu inderawi, menolaknya sama sekali. Mereka berkata bahwa neraka adalah suatu temuan para ahli ilmu kalam belaka untuk menakut-nakuti orang. Mereka memandang para ahli ilmu kalam dengan penghinaan terbuka. Berbdebat dengan orang-orang seperti ini sedikit sekali manfaatnya. Meskipun demikian, ada yang bisa dikatakan pada orang yang seperti ini yang mungkin bisa membuatnya berhenti dan merenung. "Benarkah anda sungguh-sungguh berpikir bahwa 124.000 nabi dan wali yang percaya pada kehidupan masa akan datang semuanya salah dan anda, yang menolaknya, benar?" Jika ia menjawab, "Ya," saya sedemikian yakin - sebagaimana saya yakin bahwa dua lebih besar daripada satu - bahwasanya jiwa dan kehidupan masa depan dalam bentuk kebahagiaan maupun hukuman itu tidak ada, maka manusia seperti itu sudah tidak mempunyai harapan lagi. Yang bisa diperbuat hanyalah meninggalkannya sendiri sembari mengingat kata-kata al-Qur'an, "Meskipun kau peringatkan mereka, mereka tak akan ingat."
Tetapi jika ia berkata bahwa kehidupan masa depan adalah suatu kebolehjadian, hanya bahwa doktrin itu penuh mengandung keraguan dan misteri, sehingga tidak mungkin untuk bisa memutuskan benarkah hal itu atau tidak, maka seseorang bisa berkata kepadanya, "Jika demikian, sebaiknya anda selesaikan baik-baik keraguan itu." Misalkan anda sedang akan makan makanan, kemudian seseorang berkata kepada anda bahwa seekor ular telah meludahkan bisa ke dalamnya, maka mungkin sekali anda akan menahan diri dan lebih baik menahan kepedihan rasa lapar daripada memakannya, meskipun orang yang memberi informasi pada anda mungkin hanya bercanda atau berbohong belaka. Atau misalkan anda sedang sakit dan seorang penulis syair berkata, "Beri saya satu dirham dan saya akan menulis sebuah puisi yang bisa kauikatkan di lehermu, yang akan menyembuhkannya dari sakit." Anda boleh jadi akan memberikan dirham yang dimintanya dengan harapan bisa mendapatkan manfaat jimat itu. Atau jika seoran gperamal berkata, "Pada saat bulan telah sampai ke suatu bentuk tertentu, minumlah obat ini dan itu dan engkau pun akan sembuh." Meskipun mungkin anda sedikir sekali percaya pada astrologi, kemungkinan besar anda akan mencoba juga pengalaman itu dengan harapan bahwa orang itu benar. Tidakkah anda berpikir bahwa kebenaran yang bisa dipercaya juga terdapat dalam kata-kata nabi, para wali dan orang-orang suci, yang menyakinkan orang akan adanya kehidupan mendatang, sebagaimana janji seorang penulis jampi-jampi atau seorang peramal. Orang berani melakukan perjalanan lewat laut yan gpenuh resiko demi mengharap suatu keuntungan, maka tidak maukah anda menanggung sedikir penderitaan di masa sekarang demi kebahagiaan abadi di akhirat?
Sayyidina Ali Zainal Abidin (Putra Hesain bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah SAW) ketika berdebat dengan seorang kafir pernah berkata, "Jika anda benar, maka tidak seoran gpun di antara kita yang akan menderita keadaan yang lebih buruk di masa depan. Tetapi jika kami yang benar, maka kami akan terhindar dan anda akan menderita." Hal ini dikatakannya bukan karena ia sendiri berada dalam keraguan, tetapi hanya demi menciptakan suatu kesan bagi orang kafir itu. Berdasar semua pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa urusan utama manusia di dunia ini adalah untuk mempersiapkan diri bagi dunia yang akan datang. Sekalipun jika ia ragu-ragu tentang kemaujudan masa depan, nalar mengajarkan bahwa ia harus bertindak seakan-akan hal itu ada dengan mempertimbangkan akibat luar biasa yang mungkin terjadi. Keselamatan atas orang-orang yang mengikuti ajaran-ajaran Allah.
--------------------------------------------------------------------------------
Buku Kimia Kebahagiaan, edisi berbahasa Indonesia diterjemahkan dari buku aslinya yang berbahasa Inggris, The Alchemy of Happiness karangan Al-Ghazali, terbitan Ashraf Publication, Lahore, Mei 1979.
Penerjemah: Haidar Bagir
Penyunting: Ahmad Muchlis
Diterbitkan oleh Penerbit MIZAN
Jalan Dipati Ukur 45, telp. 83196
Bandung
Rabu, 07 September 2011
Minggu, 04 September 2011
TETES-TETES AIR RUMI
Seperti tetes-tetes air yang mendinginkan kerak bebatuan yang cadas dan keras. Kesan batin inilah bila kita membuka-buka halaman buku tasawuf. Belajar Tasawuf memang tidak menjanjikan kesaktian dan kekuatan badan. Ia juga tidak menjanjikan satu cara agar mendapatkan kekayaan, kekuasaan dan kedigdayaan di dunia. Namun, dari tasawuf kita mendapatkan bekal agar mampu merangkai sesuatu yang berserak di batin, dan selanjutnya bisa menggerakkan kita agar bersiap diri untuk sebuah perjumpaan dengan Tuhan Yang Maha Melihat.
Betapa kering hidup ini bila kita hanya berkutat pada aturan, pada hukum, pada syariat. Namun tidak pernah menyelami samudra hakikat dari hukum syariat tersebut. Syariat itu dibuat tidak hanya untuk ditaati, namun pasti jelas ada tujuannya. Syariat mengharuskan seseorang muslim untuk sholat, namun apa tujuan sholat. Inilah saat kita memasuki wilayah hakikat dan kemudian tujuan sholat ditemukan yaitu bersujudnya “diri” kepada DIRI YANG MAHA SEJATI. Secara otomatis, bila kita bersujud kepada DIRI SEJATI, maka kita diharapkan untuk selalu menyatu dan dekat dengan iradat-NYA, kehendak-NYA. Dalam terminologi agama dikatakan sebagai TAKWA.
Dalam sebuah perjalanan spiritual menuju DIRI YANG MAHA SEJATI, setidaknya kita membutuhkan bekal yaitu pengetahuan sebab perjalanan itu adalah perjalanan yang orientasinya tidak ke luar, namun ke dalam diri. Kita tidak membutuhkan jutaan kilometer jarak tempuh perjalanan dengan kaki dan peluh yang bercucuran, namun yang kita perlukan adalah milyaran kehendak baik di dalam diri untuk selalu ingin berbuat kebajikan. Serta trilyunan perilaku sekecil apapun yang luhur. Inilah sesungguhnya perjalanan batin yang orientasinya hanya agar DIA mendekat menjadi ENGKAU dan kemudian dekat-sedekat-dekatnya menjadi AKU DIRI SEJATI.
Perjalanan mendekati-DIA menjadi AKU inilah yang menjadi fokus tasawuf Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Muhammad bin Husin Al Khatabi Al Bakri, nama lengkap Jalaluddin Rumi. Rumi dilahirkan di Balch Persia pada tahun 604 H atau 1217 Masehi dan meninggal dunia pada tahun 672 H atau 1273 Masehi. Saat usia empat tahun, dia ajak sang ayah ke Asia Kecil (negeri Rum) sehingga dia memakai nama Rumi.
Ajaran tasawufnya tersimpan dalam karya-karya agung, di antaranya Matsnawi yang terdiri dari 20.700 bait syair yang dirangkum dalam enam jilid. Pendirian tasawufnya berdasarkan atas Wihdatul Wujud. Inilah sari tasawuf Rumi:
Karamlah aku di dalam rindu
Mencari Dia, mendekati Dia
Dan telah tenggelam pula
Nenekku dulu, dan yang kemudian mengikut pula
Kalau kukatakan bibirnya
Itulah ibarat bibir dari bibir pantai lautan
Yang luas tak tentu tepinya
Dan jika aku katakan Laa, cucuku adalah Illa
Aku tertarik bukan oleh huruf
Dan bukan pula oleh suara
Makin jauh di belakang dari yang didengar dan diketahui
Apa huruf, apa suara, apa guna kau pikirkan itu
Itu hanya duri yang menyangkut di kakimu
Di pintu gerbang taman indah itu
Kuhapus kata, huruf dan suara
Dan aku langsung menuju ENGKAU
Rumi melanjutkan:
Nyanyian bagiku, wahai harapanku, nyanyian nusyur
Runduklah unta dan berhentilah
Sekarang timbul rasa bahagia dan surur
Telanlah ya bumi, air mata cukuplah
Minumlah hai jika, air mawar yang suci
Engkau kembali, hai hari rayaku
Selamat datang ya marhaban
Alangkah sejuknya engkau, hari yang sepoi
Dan kata Rumi lagi, mengibaratkan Tuhan memanggil kita pulang:
Marilah ke mari, marilah..
Sebab engkau tak akan mendapat sahabat laksana AKU
Manakah kecintaan seperti cinta KU, dalam wujud ini
Marilah ke mari, marilah…
Jangan kau habiskan umurmu dalam ragu-ragu
Tidak ada pasaran bagi hartamu
Kau adalah lembah yang kering, AKU-lah hujan
Kau adalah kota yang telah runtuh, AKU-lah pembangun
Kalau tidak ada pengabdian manusia atas-KU, tidaklah mereka akan bahagia
Pengabdian mutlak adalah Matahari kebahagiaan
Rumi memiliki jawaban atas pertanyaan manusia sebagai berikut:
Kita mendengar suara setiap waktu
Dari utara, dari selatan, panggilan..
Inilah kami! Terbang menuju bintang
Sebab kita dulu datang dari bintang
Dan berteman karib dengan malaikat
Dari sana kita datang, bahkan kita lebih tinggi dari bintang
Kita pulang! Kita pulang!
Lebih baik dari Malaikat, mengapa tidak akan kita atasi?
Tempat kita adalah di Maha Kebesaran
Apa artinya alam bumi bagi diri yang suci?
Kita pulang! Kita pulang!
Dan jika terjatuh lagi, tempat kita bukan di sini
Datanglah empasan ombak
Hancurlah bahtera badan
Itulah saat pertemuan…..
Hakikat hidup adalah CINTA, Rumi menyimpulkan tujuan perjalanan mendekati-NYA:
Aku tak kenal lagi siapa diriku
Tubuhku, tunjuki aku apa dayaku
Bukan bulan sabit dan bukan pula kayu palang
Bukan aku kafir dan bukan Yahudi
Bukan di timur bukan di barat tanah asalku
Tak ada keluarga, baik malaikat atau pun jin
Geligaku bukan dari bumi dan bukan batu karang
Bukan dari benua Cina bukan dari yang lain
Bukan dari Bulgaria tanah lahirku, Bukan..
Bukan dari Irak, bukan Khurasan
Bukan dari India dengan sungainya yang lima
Bukan disini dan bukan di sana
Bukan di surga bukan di neraka, wathan asalku
Aku juga bukan orang usiran dari surga Adam atau lembah Yazhan
Bukan dari Adam aku mengambil nasabku,
Tetapi dari satu tempat… alangkah jauh
Jalan yang sunyi sepi tiada bertanda
Aku lepaskan diriku dari tubuhku dan nyawaku
Dan aku telah menempuh hidup baru
Dalam nyawa KECINTAANKU
Demikian sekelumit tasawuf Rumi yang menyejukkan tersebut. Semoga ada manfaatnya bagi kita yang selama ini berada di dalam ombak lautan dunia fana dan terombang ambing dalam kebimbangan menentukan jalan hidup sejati.
BELAJAR ILMU SUPRANATURAL BOLEH ASAL WASPADA
Kajian sejarah menyebutkan bahwa sebelum agama-agama (Hindu, Budha, Islam) masuk ke nusantara, masyarakat Jawa sudah sangat mengenal tradisi mistik dan kebatinan yang tinggi. Kedatangan para wali di Pulau Jawa (Wali Songo) tidak menolak tradisi jawa tersebut. Melainkan memanfaatkannya sebagi sarana dakwah.
Dalam hasanah ilmu supanatural di tanah air, kita mengenal dua aliran utama yaitu Aliran Hikmah dan Aliran Kejawen. Aliran Hikmah berkembang di kalangan pesantren dengan ciri khas rapalannya berbahasa Arab misalnya hizib/hijib/asma. Sedangkan Aliran Kejawen (sebetulnya sudah tidak murni Kejawen lagi, melainkan bercampur dengan tradisi arab) mantranya murni berbahasa Jawa. Namun sekarang mantra tersebut sudah diawali dengan membaca “Basmalah” kemudian dilanjutkan dengan mantra Jawa dan diakhiri dengan memohon ijin Tuhan (Soko Kersaning Allah)..
Baik Aliran Hikmah dan Aliran Kejawen itu sudah diketahui oleh para penyebar agama. Awalnya aliran hikmah dan oleh Para Wali kemudian dikoreksi dan direvisi dengan menyusun amalan ilmu-ilmu supranatural dengan tatacara yang sesuai dengan akidah agama, misalnya dilakukan puasa, wirid dan rapal yang biasanya dicampur antara bahasa arab-jawa. Intinya adalah do’a dan permohonan agar diijinkan Tuhan memiliki amalan tertentu. Mungkin itu alasan para wali mengapa mantra kejawen tersebut tidak seluruhnya berbahasa Arab. Yaitu agar orang jawa tidak merasa asing dengan ajaran yang baru mereka kenal.
Salah seorang wali yang terkenal dengan kemampuan mengolah amalan ilmu supranatural adalah Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga adalah tokoh yang pandai dan cerdas memanfaatkan berbagai media dan sarana untuk berdakwah. Misalnya melalu suluk, tembang, kidung. Suluk dan kidung yang dikarangnya mengandung ajaran falsafah ketuhanan dan ajaran kebatinan yang sangat berharga.
CADANGAN ENERGI DI ALAM ASTRAL
Setiap perilaku manusia akan menimbulkan sebuah bentuk fisik di alam astral. Apapun perilakunya, suatu ketika akan kembali ke pelakunya dan akan menimbulkan akibat yang bersifat metafisik. Amalan ilmu supranatural yang diniatkan untuk tujuan baik akan membangkitkan energi astral yang sangat dasyat sehingga seseorang bisa melakukan sesuatu yang melebihi kemampuan manusia biasa. Amalan sebuah ilmu adalah olah batin sebagai syarat yang perlu dipenuhi untuk mendapatkan suatu ilmu supranatural.
Olah batin adalah mengisi energi batin yang gaib. Pengisian energi cukup dilakukan satu kali untuk seumur hidup. Penabungan energi ini dapat dilakukan dengan cara bermacam-macam tergantung jenis ilmu yang ingin dikuasai. Jadi syarat mendapatkan ilmu adalah mengamalkan bacaan wirid doa/mantra, menjauhi pantangan, berpuasa. Di Jawa kita mengenal puasa patigeni (tidak makan, minum, tidur dan tidak boleh kena cahaya), nglowong, ngebleng dan lain-lain. Biasanya beratnya tirakat sesuai dengan tingkat kesaktian suatu ilmu. Seseorang harus banyak melakukan kebajikan dan menjaga bersihnya hati ketika sedang mengamalkan sebuah ilmu.
KHODAM
Setiap Ilmu Gaib memiliki khodam. Khodam bukanlah mahluk ghaib sejenis jin, namun khodam itu sebuah energi bentukan batin kita. Khodam adalah “roh” suatu ilmu. Khodam itu berada di alam astral dan akan tetap ada di badan orang yang sudah mengamalkan ilmu.
MACAM ILMU SUPRANATURAL
BeRdasarkan fungsinya ilmu supranatural digolongan menjadi sebagai berikut:
1. Ilmu Kanuragan atau Ilmu Kekebalan
Berfungsi untuk bela diri secara metafisik. Ilmu ini mencakup kemampuan bertahan (kebal) terhadap serangan dan kemampuan untuk menyerang dengan kekuatan yang luar biasa.
2. Ilmu Kawibaan dan Ilmu Pengasihan
Fungsinya mempengaruhi kejiwaan dan perasaan orang lain. lmu Kawibaan dimanfaatkan untuk menambah daya tarik kepemimpinan dan menguatkan energi komunikasi atau kata-kata yang diucapkan, disegani masyarakat dan perintahnya dituruti. Ilmu Pengasihan atau ilmu pelet adalah ilmu yang membuat simpati dan rasa sayang orang lain. Membuat pujaan hati jatuh cinta. Ilmu ini juga dapat dimanfaatkan untuk membuat lawan yang berhati keras menjadi kawan yang mudah diajak berunding termasuk memulangkan orang yang pergi jauh. Termasuk dalam ilmu pengasihan ini adalah ilmu penglarisan untuk menggaet pembeli agar datang ke toko dan usaha bisnis kita.
3. Ilmu Trawangan & Meraga Sukma
Ilmu trawangan berfungsi untuk menajamkan mata batin hingga dapat menangkap isyarat yang halus, melihat jarak jauh, tembus pandang dan lain-lain. Sedangkan Ilmu Meraga Sukma adalah kelanjutan dari Ilmu Trawagan. Dalam ilmu trawangan hanya mata batin saja yang berkeliaran kemana-mana, sedangkan jika sudah menguasai ilmu Meraga Sukma seseorang bisa melepaskan ruh untuk melakukan perjalanan astral. Baik Ilmu Trawangan maupaun Meraga sukma adalah ilmu yang membutuhkan keteguhan dan kebersihan hati. Biasanya hanya dikuasi oleh orang yang sudah tua.
4. Ilmu untuk Pertunjukan
Hanya bisa digunakan untuk pertunjukan di panggung. Ilmu ini mirip dengan ilmu kanuragan karena bisa memperlihatkan kekebalan tubuh terhadap benda tajam, minyak panas dan air keras namun sebenarnya hanya dipakai sebagai pertunjukan saja
5. Ilmu Pengobatan
Ilmu kesehatan tubuh dan dimanfaatkan untuk mengobati berbagai jenis penyakit baik yang fisik maupun yang metafisik. Misalnya ilmu yang dimiliki mak erot, amalan agar kuat seks, dan ilmu supranatural alternatif yang digunakan untuk mengobati darah tinggi, diabetes dan lainnya.
Olah kanuragan adalah seperti olah raga. Namun biasanya tidak hanya raganya saja yang dilatih untuk menguasai jurus-jurus, kuncian maupun kemahiran untuk menyerang dan bertahan. Namun juga kemampuan membangkitkan tenaga dalam. Tenaga dalam yang diganbung dengan amalan batin khusus (laku) kemudian menjadi ilmu dan ajian yang sangat banyak jenisnya. Ajian ini bersumber dari energi yang tidak nampak oleh mata.
DARI MANA ASAL ILMU SUPRANATURAL?
Setidaknya, seseorang memiliki kemampuan atau mampu menguasai ilmu ajian berasal dari:
1. Warisan
Seseorang bisa mendapatkan warisan ilmu supranatural dari kakek-buyut simbah-canggah, orang tua maupun orang lain yang yang tidak dikenalnya sama sekali. Mereka yang mendapatkan ajian ini secara otomatis tanpa belajar dan tanpa sepengetahuannya sudah memiliki ajian tertentu. Maka orang menyebut sebagai “ilmu tiban” yang artinya datang tanpa disangka-sangka sebelumnya.
2. Menjalankan Laku Tirakat.
Tirakat adalah bentuk olah rohani khas jawa yang tujuannya untuk memperoleh energi supranatural atau tercapainya suatu keinginan. Tirakat tersebut bisa berupa amalan, mantra, pantangan, puasa atau gabungan dari unsur tersebut. Inilah yang disebut belajar ilmu supranatural. Berhasil atau tidaknya menjalankan tirakat hingga menguasai ilmu, tergantung sepenuhnya pada dirinya sendiri. Dalam hal ini guru hanya memberi bimbingan.
3. Pengisian.
Seseorang yang tidak mau susah payah juga bisa mempunyai kemampuan supranatural, yaitu dengan cara pengisian. Pengisian adalah pemindahan energi supranatural dari Guru kepada Murid. Dengan begitu murid langsung memiliki kemampuan sama seperti gurunya. Pengisian ilmu hanya bisa dilakukan oleh Guru yang sudah mencapai tingkatan spiritual yang tinggi.
APA EFEK SAMPINGNYA?
Beberapa orang masih menyakini bahwa pemilik Ilmu Gaib akan mengalami kesulitan hidup dan siksaan saat sakaratul maut menjelang kematian dan ini benar JIKA orang yang bersangkutan menanam NIAT BURUK dan MENGAMALKAN AJIAN tersebut untuk tujuan buruk. Maka hukum karma/sebab akibat harus ditanggungnya. Namun, apabila dia menanam NIAT BAIK dan MENGAMALKAN AJIAN tersebut untuk tujuan yang baik dan positif, misalnya untuk membela diri, membela kebenaran dan ajaran keyakinan yang dimiliki maka hukum sebab akibat juga akan diterimanya langsung dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
Ada sebuah mitos bila orang akan miskin bila memiliki ajian tertentu, maka hal ini tidak benar. Rizqi dan nasib kita ada di “tangan-Nya”. Bukan di tangan khodam ajian. Bila kebetulan orang yang memiliki ajian itu miskin, maka itu bukan disebabkan oleh ilmunya, melainkan karena malas bekerja, tidak memiliki kemampuan dan kompetensi tertentu dan sebagainya.
Yang perlu diperhatikan bahwa kebanyakan orang yang memiliki ilmu gaib maka dia biasanya menjadi SOMBONG. Perlu diketahui bahwa KESOMBONGAN inilah sebenarnya yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. RASA MEMILIKI yang berakibat KESOMBONGAN inilah yang tidak diperkenankan dan akan nyrimpeti LAKU kita dalam menjalani SANGKAN PARANING DUMADI nya manusia. Jadi bukan ilmu supranaturalnya yang dilarang namun karena dampak sifat negatif yang ditimbulkannya yang berpengaruh. Apalagi bila pemilik ilmu spuranatural ini malas bekerja dan hanya menunggu uluran tangan orang lain maka dia akan dikutuk oleh Tuhan. Akhirnya bisa disimpulkan bahwa negatif dan positifnya Ilmu Suptanartural tergantung pada NIAT DAN LAKU AMALAN dan PERBUATAN pemiliknya. ***
@wongalus
Dalam hasanah ilmu supanatural di tanah air, kita mengenal dua aliran utama yaitu Aliran Hikmah dan Aliran Kejawen. Aliran Hikmah berkembang di kalangan pesantren dengan ciri khas rapalannya berbahasa Arab misalnya hizib/hijib/asma. Sedangkan Aliran Kejawen (sebetulnya sudah tidak murni Kejawen lagi, melainkan bercampur dengan tradisi arab) mantranya murni berbahasa Jawa. Namun sekarang mantra tersebut sudah diawali dengan membaca “Basmalah” kemudian dilanjutkan dengan mantra Jawa dan diakhiri dengan memohon ijin Tuhan (Soko Kersaning Allah)..
Baik Aliran Hikmah dan Aliran Kejawen itu sudah diketahui oleh para penyebar agama. Awalnya aliran hikmah dan oleh Para Wali kemudian dikoreksi dan direvisi dengan menyusun amalan ilmu-ilmu supranatural dengan tatacara yang sesuai dengan akidah agama, misalnya dilakukan puasa, wirid dan rapal yang biasanya dicampur antara bahasa arab-jawa. Intinya adalah do’a dan permohonan agar diijinkan Tuhan memiliki amalan tertentu. Mungkin itu alasan para wali mengapa mantra kejawen tersebut tidak seluruhnya berbahasa Arab. Yaitu agar orang jawa tidak merasa asing dengan ajaran yang baru mereka kenal.
Salah seorang wali yang terkenal dengan kemampuan mengolah amalan ilmu supranatural adalah Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga adalah tokoh yang pandai dan cerdas memanfaatkan berbagai media dan sarana untuk berdakwah. Misalnya melalu suluk, tembang, kidung. Suluk dan kidung yang dikarangnya mengandung ajaran falsafah ketuhanan dan ajaran kebatinan yang sangat berharga.
CADANGAN ENERGI DI ALAM ASTRAL
Setiap perilaku manusia akan menimbulkan sebuah bentuk fisik di alam astral. Apapun perilakunya, suatu ketika akan kembali ke pelakunya dan akan menimbulkan akibat yang bersifat metafisik. Amalan ilmu supranatural yang diniatkan untuk tujuan baik akan membangkitkan energi astral yang sangat dasyat sehingga seseorang bisa melakukan sesuatu yang melebihi kemampuan manusia biasa. Amalan sebuah ilmu adalah olah batin sebagai syarat yang perlu dipenuhi untuk mendapatkan suatu ilmu supranatural.
Olah batin adalah mengisi energi batin yang gaib. Pengisian energi cukup dilakukan satu kali untuk seumur hidup. Penabungan energi ini dapat dilakukan dengan cara bermacam-macam tergantung jenis ilmu yang ingin dikuasai. Jadi syarat mendapatkan ilmu adalah mengamalkan bacaan wirid doa/mantra, menjauhi pantangan, berpuasa. Di Jawa kita mengenal puasa patigeni (tidak makan, minum, tidur dan tidak boleh kena cahaya), nglowong, ngebleng dan lain-lain. Biasanya beratnya tirakat sesuai dengan tingkat kesaktian suatu ilmu. Seseorang harus banyak melakukan kebajikan dan menjaga bersihnya hati ketika sedang mengamalkan sebuah ilmu.
KHODAM
Setiap Ilmu Gaib memiliki khodam. Khodam bukanlah mahluk ghaib sejenis jin, namun khodam itu sebuah energi bentukan batin kita. Khodam adalah “roh” suatu ilmu. Khodam itu berada di alam astral dan akan tetap ada di badan orang yang sudah mengamalkan ilmu.
MACAM ILMU SUPRANATURAL
BeRdasarkan fungsinya ilmu supranatural digolongan menjadi sebagai berikut:
1. Ilmu Kanuragan atau Ilmu Kekebalan
Berfungsi untuk bela diri secara metafisik. Ilmu ini mencakup kemampuan bertahan (kebal) terhadap serangan dan kemampuan untuk menyerang dengan kekuatan yang luar biasa.
2. Ilmu Kawibaan dan Ilmu Pengasihan
Fungsinya mempengaruhi kejiwaan dan perasaan orang lain. lmu Kawibaan dimanfaatkan untuk menambah daya tarik kepemimpinan dan menguatkan energi komunikasi atau kata-kata yang diucapkan, disegani masyarakat dan perintahnya dituruti. Ilmu Pengasihan atau ilmu pelet adalah ilmu yang membuat simpati dan rasa sayang orang lain. Membuat pujaan hati jatuh cinta. Ilmu ini juga dapat dimanfaatkan untuk membuat lawan yang berhati keras menjadi kawan yang mudah diajak berunding termasuk memulangkan orang yang pergi jauh. Termasuk dalam ilmu pengasihan ini adalah ilmu penglarisan untuk menggaet pembeli agar datang ke toko dan usaha bisnis kita.
3. Ilmu Trawangan & Meraga Sukma
Ilmu trawangan berfungsi untuk menajamkan mata batin hingga dapat menangkap isyarat yang halus, melihat jarak jauh, tembus pandang dan lain-lain. Sedangkan Ilmu Meraga Sukma adalah kelanjutan dari Ilmu Trawagan. Dalam ilmu trawangan hanya mata batin saja yang berkeliaran kemana-mana, sedangkan jika sudah menguasai ilmu Meraga Sukma seseorang bisa melepaskan ruh untuk melakukan perjalanan astral. Baik Ilmu Trawangan maupaun Meraga sukma adalah ilmu yang membutuhkan keteguhan dan kebersihan hati. Biasanya hanya dikuasi oleh orang yang sudah tua.
4. Ilmu untuk Pertunjukan
Hanya bisa digunakan untuk pertunjukan di panggung. Ilmu ini mirip dengan ilmu kanuragan karena bisa memperlihatkan kekebalan tubuh terhadap benda tajam, minyak panas dan air keras namun sebenarnya hanya dipakai sebagai pertunjukan saja
5. Ilmu Pengobatan
Ilmu kesehatan tubuh dan dimanfaatkan untuk mengobati berbagai jenis penyakit baik yang fisik maupun yang metafisik. Misalnya ilmu yang dimiliki mak erot, amalan agar kuat seks, dan ilmu supranatural alternatif yang digunakan untuk mengobati darah tinggi, diabetes dan lainnya.
Olah kanuragan adalah seperti olah raga. Namun biasanya tidak hanya raganya saja yang dilatih untuk menguasai jurus-jurus, kuncian maupun kemahiran untuk menyerang dan bertahan. Namun juga kemampuan membangkitkan tenaga dalam. Tenaga dalam yang diganbung dengan amalan batin khusus (laku) kemudian menjadi ilmu dan ajian yang sangat banyak jenisnya. Ajian ini bersumber dari energi yang tidak nampak oleh mata.
DARI MANA ASAL ILMU SUPRANATURAL?
Setidaknya, seseorang memiliki kemampuan atau mampu menguasai ilmu ajian berasal dari:
1. Warisan
Seseorang bisa mendapatkan warisan ilmu supranatural dari kakek-buyut simbah-canggah, orang tua maupun orang lain yang yang tidak dikenalnya sama sekali. Mereka yang mendapatkan ajian ini secara otomatis tanpa belajar dan tanpa sepengetahuannya sudah memiliki ajian tertentu. Maka orang menyebut sebagai “ilmu tiban” yang artinya datang tanpa disangka-sangka sebelumnya.
2. Menjalankan Laku Tirakat.
Tirakat adalah bentuk olah rohani khas jawa yang tujuannya untuk memperoleh energi supranatural atau tercapainya suatu keinginan. Tirakat tersebut bisa berupa amalan, mantra, pantangan, puasa atau gabungan dari unsur tersebut. Inilah yang disebut belajar ilmu supranatural. Berhasil atau tidaknya menjalankan tirakat hingga menguasai ilmu, tergantung sepenuhnya pada dirinya sendiri. Dalam hal ini guru hanya memberi bimbingan.
3. Pengisian.
Seseorang yang tidak mau susah payah juga bisa mempunyai kemampuan supranatural, yaitu dengan cara pengisian. Pengisian adalah pemindahan energi supranatural dari Guru kepada Murid. Dengan begitu murid langsung memiliki kemampuan sama seperti gurunya. Pengisian ilmu hanya bisa dilakukan oleh Guru yang sudah mencapai tingkatan spiritual yang tinggi.
APA EFEK SAMPINGNYA?
Beberapa orang masih menyakini bahwa pemilik Ilmu Gaib akan mengalami kesulitan hidup dan siksaan saat sakaratul maut menjelang kematian dan ini benar JIKA orang yang bersangkutan menanam NIAT BURUK dan MENGAMALKAN AJIAN tersebut untuk tujuan buruk. Maka hukum karma/sebab akibat harus ditanggungnya. Namun, apabila dia menanam NIAT BAIK dan MENGAMALKAN AJIAN tersebut untuk tujuan yang baik dan positif, misalnya untuk membela diri, membela kebenaran dan ajaran keyakinan yang dimiliki maka hukum sebab akibat juga akan diterimanya langsung dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
Ada sebuah mitos bila orang akan miskin bila memiliki ajian tertentu, maka hal ini tidak benar. Rizqi dan nasib kita ada di “tangan-Nya”. Bukan di tangan khodam ajian. Bila kebetulan orang yang memiliki ajian itu miskin, maka itu bukan disebabkan oleh ilmunya, melainkan karena malas bekerja, tidak memiliki kemampuan dan kompetensi tertentu dan sebagainya.
Yang perlu diperhatikan bahwa kebanyakan orang yang memiliki ilmu gaib maka dia biasanya menjadi SOMBONG. Perlu diketahui bahwa KESOMBONGAN inilah sebenarnya yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. RASA MEMILIKI yang berakibat KESOMBONGAN inilah yang tidak diperkenankan dan akan nyrimpeti LAKU kita dalam menjalani SANGKAN PARANING DUMADI nya manusia. Jadi bukan ilmu supranaturalnya yang dilarang namun karena dampak sifat negatif yang ditimbulkannya yang berpengaruh. Apalagi bila pemilik ilmu spuranatural ini malas bekerja dan hanya menunggu uluran tangan orang lain maka dia akan dikutuk oleh Tuhan. Akhirnya bisa disimpulkan bahwa negatif dan positifnya Ilmu Suptanartural tergantung pada NIAT DAN LAKU AMALAN dan PERBUATAN pemiliknya. ***
@wongalus
MAKRIFAT SUNAN KALIJAGA
Jeng Sunan Kalijaga ngling
Amdehar ing pangawikan
Den waspada ing mangkene
Sampun nganggo kumalamat
Den awas ing pangeran
Kadya paran awasipun
Pangeran pan ora rupa
Nora arah nora warni
Tan ana ing wujudira
Tanpa mangsa tanpa enggon
Sajatine nora nana
Lamun ora anaa
Dadi jagadipun suwung
Nora nana wujudira
(Sunan Kalijaga berkata, memaparkan pengetahuannya.
Hendaknya waspada pada yang berikut ini.
Janganlah ragu-ragu. Lihatlah Tuhan secara jelas.
Tapi, bagaimana melihat-Nya.
Karena Tuhan itu tidak memiliki rupa.
Tuhan tidak berarah dan tidak berwarna.
Tidak ada wujud-Nya. Tidak terikat oleh waktu dan tempat.
Sebenarnya Ada-Nya itu tiada.
Seandainya Dia tidak ada,
maka alam raya ini kosong dan tidak ada wujudnya.)
–Serat Siti Jenar, Tan Khoen Swie Kediri 1922
Pendakian spiritual itu mulai dari mana? Mulai dari syariat dulu, kemudian menuju tarikat, hakikat dan akhirnya sampai pada makrifat? Atau Makrifat (mengenal Tuhan) dulu, kemudian penghayatan hakikat, kemudian menjalankan tarikat dan melaksanakan syariat? Menurut saya, pendakian spiritual bisa dari mana-mana. Kita tidak perlu kebingungan terhadap mana yang harus terlebih dulu kita jalani. Semuanya boleh sebagai titik pijak untuk memulai perjalanan.
Ada banyak teman yang memulai perjalanan spiritual dengan “tidak percaya” terhadap adanya Tuhan. Lalu belajar tentang ilmu ketuhanan, dan setelah kedewasaan intelektualnya mengalami kemapanan dan kemudian dia yakin adanya Tuhan dan kemudian menjalankan syariat. Yang demikian ini hebat.
Ada yang memulai dengan menjalankan syariat agama. Sebab dari kecil dia berada di dalam lingkungan yang taat beragama. Oleh orang tuanya, dia dididik untuk menjalankan syariat agama secara leterluks. Kemudian seiring perjalanan usianya, dia mulai mencari tahu dengan banyak belajar tentang agama, yang telah dijalaninya selama ini. Himngga kemudian pengetahuan dan perenungannya sampai pada hakikat. Kemudian dia menjalani laku suluk/tasawuf dan akhirnya mendapatkan pencerahan Makrifat. Yang demikian ini luar biasa.
Ada pula yang tidak mulai apa-apa. Ya tidak menjalankan syariat agama, ya tidak berusaha mencari tahu tentang Tuhan. Dia skeptis dan agnostik terhadap berbagai wacara agama serta kerokhanian. Dia seakan puas dengan apa yang ada pada dirinya. Otaknya tidak digunakan untuk berpikir tentang Tuhan. Namun, di tengah hidupnya dia dipaksa untuk menerima banyak hal yang tidak mauk akal hingga suatu ketika kesadarannya mengalami “BYAR”. Tiba-tiba dia sadar apa yang telah dijalaninya selama ini. Dia pun menemukan Tuhan di dalam hidupnya. Sukur alhamdulillah.
Suatu saat dalam hidupnya, Tuhan pasti akan datang membawa cahaya-Nya yang suci. Dia akan menerangi diri pribadi kita sehingga yang sebelumnya hanya mampu melihat fakta-fakta dengan inderanya, maka setelah pencerahan Tuhan itu datang maka dia mampu untuk melihat hubungan antar fakta dan akhirnya menemukan kesimpulan bahwa hanya ada satu Tuhan yang wajib disembah oleh manusia.
Tuhan itu bukan benda-benda. Tuhan ya Tuhan. Adanya berbeda dengan apa yang pernah diketahui oleh manusia. Yang pernah diketahui oleh manusia berasal dari pengalaman inderanya. Nah, wujud Tuhan ini tidak ada di dalam gudang memori manusia. Sehingga mengatakan Tuhan seperti A, B, C pasti jelas bukan Tuhan. Tuhan sebagaimana yang dibayangkan oleh manusia, tentu berbeda dengan Tuhan sebagaimana wujud-Nya yang asli. Anggapan tentang Tuhan beda dengan Tuhan yang sebenarnya. Sama seperti anggapan saya tentang mobil Mercy, tidak sama dengan mobil Mercy yang sebenarnya. Sebab saya buta tentang mobil, apalagi tidak pernah memiliki mercy sebelumnya sehingga penggambaran saya tentang Mercy berbeda dengan Mercy yang sebenarnya.
Dikatakan oleh Sunan Kalijaga, sebenarnya wujud Tuhan sangat jelas… sangat sangat jelas! Nah, kejelasan ini pasti tidak dimaknai sebagaimana kejelasan benda-benda. Benda bisa dilihat oleh indera. Namun wujud Tuhan? Disinilah kita akan semakin beranjak arif bahwa Tuhan yang tidak bisa digambarkan oleh kata-kata manusia itu harusnya tidak dilihat dengan indera. Namun oleh “sesuatu” yang adanya jauh berada di dalam diri manusia. Yaitu batin yang intuitif yang disebut dengan guru sejati. Guru sejatilah yang mampu mengantarkan kita untuk melihat dengan jelas diri pribadi. (sukma sejati) Diri sejati adalah tempat bersemayam Tuhan dalam diri manusia. Di situlah Tuhan duduk di atas arasy.
Sukma sejati atau Diri Sejati berasal dari Cahaya Yang Terpuji yaitu dari NUR MUHAMMAD. Nur Muhammad hanya ada SATU. Dan NUR MUHAMMAD inlah yang selalu mendapatkan PANCARAN ILAHI. Semua yang ada ini pada mulanya satu, termasuk manusia. Asal cahaya itu satu. Pancarannya ke segenap arah inilah yang menyebabkan terjadinya “aku” yang jumlahnya banyak. Meski sekarang kita melihat YANG BANYAK namun itu semua adalah perwujudan dari satu CAHAYA.
Melatih kepekaan batin yang intuitif oleh karenanya sangat penting. Berbagai macam cara dilakukan oleh peradaban manusia untuk menemukan Tuhan di dalam diri manusia. Misalnya dengan berkhalwat, atau mengadakan perjalanan spiritual ke tempat-tempat yang sepi untuk kemudian berdzikir hingga dia merasakan kefanaan.
Dalam kesendiriannya, sang pejalan spiritual akan menemui banyak ilusi/bayangan yang mempesona batin. Namun dia tidak boleh menggap bayangan itulah kenyataan Tuhan. Perjalanan diteruskan hingga pendakian memasuki godaan besar. Dia ditawari berbagai macam kemuliaan dunia. Egonya yang masih melekat pada harta, benda, tahta dan wanita ditantang agar dituruti namun dengan imbalan dia harus menghentikan perjalanannya. Ini tahap berbahaya menuju final.
Bila perjalanan diteruskan lagi, dia akan sampai pada kesendirian dan kesenyapan, Tiba-tiba semua yang nggandoli egonya terlepas begitu saja. Dia tidak butuh apa-apa lagi. Di tahap ini, semua pendamping perjalanan yang selama ini menemaninya satu persatu otomatis terlepas. Pengiring batin terlepas, Malaikat lepas karena tidak sanggup menemani lagi, semua saudara gaib melepaskan dirinya. Ya, dia polos seorang diri menuju Tuhan. Dia kini sudah dituntun oleh Tuhan sendiri untuk melihat Sang Penuntun, yaitu AKU. Ya, manusia sudah bisa melihat AKU SEJATI-NYA tanpa was-was tanpa samar-samar lagi. AKU SEJATI itu begitu terang benderang.
Inilah saat mind/pikiran/budi/rasa sudah tidak lagi digunakan. Atau disebut dengan NO MIND. Dia sampai tahap SUWUNG atau FANA. Kata tidak lagi mampu untuk membahasakan apa fana itu. Sebab kata sangatlah terbatas untuk menggambarkan sesuatu. Apalagi ini menunjuk pada kata yang bukan kata benda, bukan kata sifat, bukan kata keterangan, bukan kata kerja, bukan apa-apa…. ya paling gampang kita sebut saja SUWUNG alias MBUH ORA WERUH. Sebab kita tidak membutuhkan berbagai alat indera dan batin lagi. Kita hanya pasrah, sumeleh, sumarah saja pada Iradat GUSTI. **
(wongalus)
Amdehar ing pangawikan
Den waspada ing mangkene
Sampun nganggo kumalamat
Den awas ing pangeran
Kadya paran awasipun
Pangeran pan ora rupa
Nora arah nora warni
Tan ana ing wujudira
Tanpa mangsa tanpa enggon
Sajatine nora nana
Lamun ora anaa
Dadi jagadipun suwung
Nora nana wujudira
(Sunan Kalijaga berkata, memaparkan pengetahuannya.
Hendaknya waspada pada yang berikut ini.
Janganlah ragu-ragu. Lihatlah Tuhan secara jelas.
Tapi, bagaimana melihat-Nya.
Karena Tuhan itu tidak memiliki rupa.
Tuhan tidak berarah dan tidak berwarna.
Tidak ada wujud-Nya. Tidak terikat oleh waktu dan tempat.
Sebenarnya Ada-Nya itu tiada.
Seandainya Dia tidak ada,
maka alam raya ini kosong dan tidak ada wujudnya.)
–Serat Siti Jenar, Tan Khoen Swie Kediri 1922
Pendakian spiritual itu mulai dari mana? Mulai dari syariat dulu, kemudian menuju tarikat, hakikat dan akhirnya sampai pada makrifat? Atau Makrifat (mengenal Tuhan) dulu, kemudian penghayatan hakikat, kemudian menjalankan tarikat dan melaksanakan syariat? Menurut saya, pendakian spiritual bisa dari mana-mana. Kita tidak perlu kebingungan terhadap mana yang harus terlebih dulu kita jalani. Semuanya boleh sebagai titik pijak untuk memulai perjalanan.
Ada banyak teman yang memulai perjalanan spiritual dengan “tidak percaya” terhadap adanya Tuhan. Lalu belajar tentang ilmu ketuhanan, dan setelah kedewasaan intelektualnya mengalami kemapanan dan kemudian dia yakin adanya Tuhan dan kemudian menjalankan syariat. Yang demikian ini hebat.
Ada yang memulai dengan menjalankan syariat agama. Sebab dari kecil dia berada di dalam lingkungan yang taat beragama. Oleh orang tuanya, dia dididik untuk menjalankan syariat agama secara leterluks. Kemudian seiring perjalanan usianya, dia mulai mencari tahu dengan banyak belajar tentang agama, yang telah dijalaninya selama ini. Himngga kemudian pengetahuan dan perenungannya sampai pada hakikat. Kemudian dia menjalani laku suluk/tasawuf dan akhirnya mendapatkan pencerahan Makrifat. Yang demikian ini luar biasa.
Ada pula yang tidak mulai apa-apa. Ya tidak menjalankan syariat agama, ya tidak berusaha mencari tahu tentang Tuhan. Dia skeptis dan agnostik terhadap berbagai wacara agama serta kerokhanian. Dia seakan puas dengan apa yang ada pada dirinya. Otaknya tidak digunakan untuk berpikir tentang Tuhan. Namun, di tengah hidupnya dia dipaksa untuk menerima banyak hal yang tidak mauk akal hingga suatu ketika kesadarannya mengalami “BYAR”. Tiba-tiba dia sadar apa yang telah dijalaninya selama ini. Dia pun menemukan Tuhan di dalam hidupnya. Sukur alhamdulillah.
Suatu saat dalam hidupnya, Tuhan pasti akan datang membawa cahaya-Nya yang suci. Dia akan menerangi diri pribadi kita sehingga yang sebelumnya hanya mampu melihat fakta-fakta dengan inderanya, maka setelah pencerahan Tuhan itu datang maka dia mampu untuk melihat hubungan antar fakta dan akhirnya menemukan kesimpulan bahwa hanya ada satu Tuhan yang wajib disembah oleh manusia.
Tuhan itu bukan benda-benda. Tuhan ya Tuhan. Adanya berbeda dengan apa yang pernah diketahui oleh manusia. Yang pernah diketahui oleh manusia berasal dari pengalaman inderanya. Nah, wujud Tuhan ini tidak ada di dalam gudang memori manusia. Sehingga mengatakan Tuhan seperti A, B, C pasti jelas bukan Tuhan. Tuhan sebagaimana yang dibayangkan oleh manusia, tentu berbeda dengan Tuhan sebagaimana wujud-Nya yang asli. Anggapan tentang Tuhan beda dengan Tuhan yang sebenarnya. Sama seperti anggapan saya tentang mobil Mercy, tidak sama dengan mobil Mercy yang sebenarnya. Sebab saya buta tentang mobil, apalagi tidak pernah memiliki mercy sebelumnya sehingga penggambaran saya tentang Mercy berbeda dengan Mercy yang sebenarnya.
Dikatakan oleh Sunan Kalijaga, sebenarnya wujud Tuhan sangat jelas… sangat sangat jelas! Nah, kejelasan ini pasti tidak dimaknai sebagaimana kejelasan benda-benda. Benda bisa dilihat oleh indera. Namun wujud Tuhan? Disinilah kita akan semakin beranjak arif bahwa Tuhan yang tidak bisa digambarkan oleh kata-kata manusia itu harusnya tidak dilihat dengan indera. Namun oleh “sesuatu” yang adanya jauh berada di dalam diri manusia. Yaitu batin yang intuitif yang disebut dengan guru sejati. Guru sejatilah yang mampu mengantarkan kita untuk melihat dengan jelas diri pribadi. (sukma sejati) Diri sejati adalah tempat bersemayam Tuhan dalam diri manusia. Di situlah Tuhan duduk di atas arasy.
Sukma sejati atau Diri Sejati berasal dari Cahaya Yang Terpuji yaitu dari NUR MUHAMMAD. Nur Muhammad hanya ada SATU. Dan NUR MUHAMMAD inlah yang selalu mendapatkan PANCARAN ILAHI. Semua yang ada ini pada mulanya satu, termasuk manusia. Asal cahaya itu satu. Pancarannya ke segenap arah inilah yang menyebabkan terjadinya “aku” yang jumlahnya banyak. Meski sekarang kita melihat YANG BANYAK namun itu semua adalah perwujudan dari satu CAHAYA.
Melatih kepekaan batin yang intuitif oleh karenanya sangat penting. Berbagai macam cara dilakukan oleh peradaban manusia untuk menemukan Tuhan di dalam diri manusia. Misalnya dengan berkhalwat, atau mengadakan perjalanan spiritual ke tempat-tempat yang sepi untuk kemudian berdzikir hingga dia merasakan kefanaan.
Dalam kesendiriannya, sang pejalan spiritual akan menemui banyak ilusi/bayangan yang mempesona batin. Namun dia tidak boleh menggap bayangan itulah kenyataan Tuhan. Perjalanan diteruskan hingga pendakian memasuki godaan besar. Dia ditawari berbagai macam kemuliaan dunia. Egonya yang masih melekat pada harta, benda, tahta dan wanita ditantang agar dituruti namun dengan imbalan dia harus menghentikan perjalanannya. Ini tahap berbahaya menuju final.
Bila perjalanan diteruskan lagi, dia akan sampai pada kesendirian dan kesenyapan, Tiba-tiba semua yang nggandoli egonya terlepas begitu saja. Dia tidak butuh apa-apa lagi. Di tahap ini, semua pendamping perjalanan yang selama ini menemaninya satu persatu otomatis terlepas. Pengiring batin terlepas, Malaikat lepas karena tidak sanggup menemani lagi, semua saudara gaib melepaskan dirinya. Ya, dia polos seorang diri menuju Tuhan. Dia kini sudah dituntun oleh Tuhan sendiri untuk melihat Sang Penuntun, yaitu AKU. Ya, manusia sudah bisa melihat AKU SEJATI-NYA tanpa was-was tanpa samar-samar lagi. AKU SEJATI itu begitu terang benderang.
Inilah saat mind/pikiran/budi/rasa sudah tidak lagi digunakan. Atau disebut dengan NO MIND. Dia sampai tahap SUWUNG atau FANA. Kata tidak lagi mampu untuk membahasakan apa fana itu. Sebab kata sangatlah terbatas untuk menggambarkan sesuatu. Apalagi ini menunjuk pada kata yang bukan kata benda, bukan kata sifat, bukan kata keterangan, bukan kata kerja, bukan apa-apa…. ya paling gampang kita sebut saja SUWUNG alias MBUH ORA WERUH. Sebab kita tidak membutuhkan berbagai alat indera dan batin lagi. Kita hanya pasrah, sumeleh, sumarah saja pada Iradat GUSTI. **
(wongalus)
SYEKH SITI JENAR
Saat Pemerintahan Kerajaan Islam Sultan Bintoro Demak I (1499) Kehadiran Syekh Siti Jenar ternyata menimbulkan kontraversi, apakah benar ada atau hanya tokoh imajiner yang direkayasa untuk suatu kepentingan politik. Tentang ajarannya sendiri, sangat sulit untuk dibuat kesimpulan apa pun, karena belum pernah diketemukan ajaran tertulis yang membuktikan bahwa itu tulisan Syekh Siti Jenar, kecuali menurut para penulis yang identik sebagai penyalin yang berakibat adanya berbagai versi. Tapi suka atau tidak suka, kenyataan yang ada menyimpulkan bahwa Syekh Siti Jenar dengan falsafah atau faham dan ajarannya sangat terkenal di berbagai kalangan Islam khususnya orang Jawa, walau dengan pandangan berbeda-beda. Pandangan Syekh Siti Jenar yang menganggap alam kehidupan manusia di dunia sebagai kematian, sedangkan setelah menemui ajal disebut sebagai kehidupan sejati, yang mana ia adalah manusia dan sekaligus Tuhan, sangat menyimpang dari pendapat Wali Songo, dalil dan hadits, sekaligus yang berpedoman pada hukum Islam yang bersendikan sebagai dasar dan pedoman kerajaan Demak dalam memerintah yang didukung oleh para Wali.
Siti Jenar dianggap telah merusak ketenteraman dan melanggar peraturan kerajaan, yang menuntun dan membimbing orang secara salah, menimbulkan huru-hara, merusak kelestarian dan keselamatan sesama manusia. Oleh karena itu, atas legitimasi dari Sultan Demak, diutuslah beberapa Wali ke tempat Siti Jenar di suatu daerah (ada yang mengatakan desa Krendhasawa), untuk membawa Siti Jenar ke Demak atau memenggal kepalanya. Akhirnya Siti Jenar wafat (ada yang mengatakan dibunuh, ada yang mengatakan bunuh diri). Akan tetapi kematian Siti Jenar juga bisa jadi karena masalah politik, berupa perebutan kekuasaan antara sisa-sisa Majapahit non Islam yang tidak menyingkir ke timur dengan kerajaan Demak, yaitu antara salah satu cucu Brawijaya V yang bernama Ki Kebokenongo/Ki Ageng Pengging dengan salah satu anak Brawijaya V yang bernama Jin Bun/R. Patah yang memerintah kerajaan Demak dengan gelar Sultan Bintoro Demak I, dimana Kebokenongo yang beragama Hindu-Budha beraliansi dengan Siti Jenar yang beragama Islam. Nama lain dari Syekh Siti Jenar antara lain Seh Lemahbang atau Lemah Abang, Seh Sitibang, Seh Sitibrit atau Siti Abri, Hasan Ali Ansar dan Sidi Jinnar.
Menurut Bratakesawa dalam bukunya Falsafah Siti Djenar (1954) dan buku Wejangan Wali Sanga himpunan Wirjapanitra, dikatakan bahwa saat Sunan Bonang memberi pelajaran iktikad kepada Sunan Kalijaga di tengah perahu yang saat bocor ditambal dengan lumpur yang dihuni cacing lembut, ternyata si cacing mampu dan ikut berbicara sehingga ia disabda Sunan Bonang menjadi manusia, diberi nama Seh Sitijenar dan diangkat derajatnya sebagai Wali. Dalam naskah yang tersimpan di Musium Radyapustaka Solo, dikatakan bahwa ia berasal dari rakyat kecil yang semula ikut mendengar saat Sunan Bonang mengajar ilmu kepada Sunan kalijaga di atas perahu di tengah rawa. Sedangkan dalam buku Sitijenar tulisan Tan Koen Swie (1922), dikatakan bahwa Sunan Giri mempunyai murid dari negeri Siti Jenar yang kaya kesaktian bernama Kasan Ali Saksar, terkenal dengan sebutan Siti Jenar (Seh Siti Luhung/Seh Lemah Bang/Lemah Kuning), karena permohonannya belajar tentang makna ilmu rasa dan asal mula kehidupan tidak disetujui Sunan Bonang, maka ia menyamar dengan berbagai cara secara diam-diam untuk mendengarkan ajaran Sunan Giri. Namun menurut Sulendraningrat dalam bukunya Sejarah Cirebon (1985) dijelaskan bahwa Syeh Lemahabang berasal dari Bagdad beraliran Syi’ah Muntadar yang menetap di Pengging Jawa Tengah dan mengajarkan agama kepada Ki Ageng Pengging (Kebokenongo) dan masyarakat, yang karena alirannya ditentang para Wali di Jawa maka ia dihukum mati oleh Sunan Kudus di Masjid Sang Cipta Rasa (Masjid Agung Cirebon) pada tahun 1506 Masehi dengan Keris Kaki Kantanaga milik Sunan Gunung Jati dan dimakamkan di Anggaraksa/Graksan/Cirebon. Informasi tambahan di sini, bahwa Ki Ageng Pengging (Kebokenongo) adalah cucu Raja Brawijaya V (R. Alit/Angkawijaya/Kertabumi yang bertahta tahun 1388), yang dilahirkan dari putrinya bernama Ratu Pembayun (saudara dari Jin Bun/R. Patah/Sultan Bintoro Demak I yang bertahta tahun 1499) yang dinikahi Ki Jayaningrat/Pn. Handayaningrat di Pengging. Ki Ageng Pengging wafat dengan caranya sendiri setelah kedatangan Sunan Kudus atas perintah Sultan Bintoro Demak I untuk memberantas pembangkang kerajaan Demak. Nantinya, di tahun 1581, putra Ki Ageng Pengging yaitu Mas Karebet, akan menjadi Raja menggantikan Sultan Demak III (Sultan Demak II dan III adalah kakak-adik putra dari Sultan Bintoro Demak I) yang bertahta di Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijoyo Pajang I.
Keberadaan Siti Jenar diantara Wali-wali (ulama-ulama suci penyebar agama Islam yang mula-mula di Jawa) berbeda-beda, dan malahan menurut beberapa penulis ia tidak sebagai Wali. Mana yang benar, terserah pendapat masing-masing. Sekarang mari kita coba menyoroti falsafah/faham/ajaran Siti Jenar. Konsepsi Ketuhanan, Jiwa, Alam Semesta, Fungsi Akal dan Jalan Kehidupan dalam pandangan Siti Jenar dalam buku Falsafah Siti Jenar tulisan Brotokesowo (1956) yang berbentuk tembang dalam bahasa Jawa, yang sebagian merupakan dialog antara Siti Jenar dengan Ki Ageng Pengging, yaitu kira-kira:
1. Siti Jenar yang mengaku mempunyai sifat-sifat dan sebagai dzat Tuhan, dimana sebagai manusia mempunyai 20 (dua puluh) atribut/sifat yang dikumpulkan di dalam budi lestari yang menjadi wujud mutlak dan disebut dzat, tidak ada asal-usul serta tujuannya.
2. Hyang Widi sebagai suatu ujud yang tak tampak, pribadi yang tidak berawal dan berakhir, bersifat baka, langgeng tanpa proses evolusi, kebal terhadap sakit dan sehat, ada dimana-mana, bukan ini dan itu, tak ada yang mirip atau menyamai, kekuasaan dan kekuatannya tanpa sarana, kehadirannya dari ketiadaan, luar dan dalam tiada berbeda, tidak dapat diinterpretasikan, menghendaki sesuatu tanpa dipersoalkan terlebih dahulu, mengetahui keadaan jauh diatas kemampuan pancaindera, ini semua ada dalam dirinya yang bersifat wujud dalam satu kesatuan, Hyang Suksma ada dalam dirinya.
3. Siti Jenar menganggap dirinya inkarnasi dari dzat yang luhur, bersemangat, sakti, kebal dari kematian, manunggal dengannya, menguasai ujud penampilannya, tidak mendapat suatu kesulitan, berkelana kemana-mana, tidak merasa haus dan lesu, tanpa sakit dan lapar, tiada menyembah Tuhan yang lain kecuali setia terhadap hati nurani, segala sesuatu yang terjadi adalah ungkapan dari kehendak dzat Allah.
4. Segala sesuatu yang terjadi adalah ungkapan dari kehendak dzat Allah, maha suci, sholat 5 (lima) waktu dengan memuji dan dzikir adalah kehendak pribadi manusia dengan dorongan dari badan halusnya, sebab Hyang Suksma itu sebetulnya ada pada diri manusia.
5. Wujud lahiriah Siti jenar adalah Muhammad, memiliki kerasulan, Muhammad bersifat suci, sama-sama merasakan kehidupan, merasakan manfaat pancaindera.
6. Kehendak angan-angan serta ingatan merupakan suatu bentuk akal yang tidak kebal atas kegilaan, tidak jujur dan membuat kepalsuan demi kesejahteraan pribadi, bersifat dengki memaksa, melanggar aturan, jahat dan suka disanjung, sombong yang berakhir tidak berharga dan menodai penampilannya.
7. Bumi langit dan sebagainya adalah kepunyaan seluruh manusia, jasad busuk bercampur debu menjadi najis, nafas terhembus di segala penjuru dunia, tanah dan air serta api kembali sebagai asalnya, menjadi baru.
Dalam buku Suluk Wali Sanga tulisan R. Tanojo dikatakan bahwa : Tuhan itu adalah wujud yang tidak dapat di lihat dengan mata, tetapi dilambangkan seperti bintang bersinar cemerlang yang berwujud samar-samar bila di lihat, dengan warna memancar yang sangat indah; Siti Jenar mengetahui segala-galanya sebelum terucapkan melebihi makhluk lain ( kawruh sakdurunge minarah), karena itu ia juga mengaku sebagai Tuhan; Sedangkan mengenai dimana Tuhan, dikatakan ada di dalam tubuh, tetapi hanya orang terpilih (orang suci) yang bisa melihatnya, yang mana Tuhan itu (Maha Mulya) tidak berwarna dan tidak terlihat, tidak bertempat tinggal kecuali hanya merupakan tanda yang merupakan wujud Hyang Widi; Hidup itu tidak mati dan hidup itu kekal, yang mana dunia itu bukan kehidupan (buktinya ada mati) tapi kehidupan dunia itu kematian, bangkai yang busuk, sedangkan orang yang ingin hidup abadi itu adalah setelah kematian jasad di dunia; Jiwa yang bersifat kekal/langgeng setelah manusia mati (lepas dari belenggu badan manusia) adalah suara hati nurani, yang merupakan ungkapan dari dzat Tuhan dan penjelmaan dari Hyang Widi di dalam jiwa dimana raga adalah wajah Hyang Widi, yang harus ditaati dan dituruti perintahnya.
Dalam buku Bhoekoe Siti Djenar karya Tan Khoen Swie (1931) dikatakan bahwa : Saat diminta menemui para Wali, dikatakan bahwa ia manusia sekaligus Tuhan, bergelar Prabu Satmata; Ia menganggap Hyang Widi itu suatu wujud yang tak dapat dilihat mata, dilambangkan seperti bintang-bintang bersinar cemerlang, warnanya indah sekali, memiliki 20 (dua puluh) sifat (antara lain : ada, tak bermula, tak berakhir, berbeda dengan barang yang baru, hidup sendiri dan tanpa bantuan sesuatu yang lain, kuasa, kehendak, mendengar, melihat, ilmu, hidup, berbicara) yang terkumpul menjadi satu wujud mutlak yang disebut DZAT dan itu serupa dirinya, jelmaan dzat yang tidak sakit dan sehat, akan menghasilkan perwatakan kebenaran, kesempurnaan, kebaikan dan keramah-tamahan; Tuhan itu menurutnya adalah sebuah nama dari sesuatu yang asing dan sulit dipahami, yang hanya nyata melalui kehadiran manusia dalam kehidupan duniawi.
Menurut buku Pantheisme en Monisme in de Javaavsche tulisan Zoetmulder, SJ.(1935) dikatakan bahwa Siti Jenar memandang dalam kematian terdapat sorga neraka, bahagia celaka ditemui, yakni di dunia ini. Sorga neraka sama, tidak langgeng bisa lebur, yang kesemuanya hanya dalam hati saja, kesenangan itu yang dinamakan sorga sedangkan neraka, yaitu sakit di hati. Namun banyak ditafsirkan salah oleh para pengikutnya, yang berusaha menjalani jalan menuju kehidupan (ngudi dalan gesang) dengan membuat keonaran dan keributan dengan cara saling membunuh, demi mendapatkan jalan pelepasan dari kematian. Siti Jenar yang berpegang pada konsep bahwa manusia adalah jelmaan dzat Tuhan, maka ia memandang alam semesta sebagai makrokosmos sama dengan mikrokosmos. Manusia terdiri dari jiwa dan raga yang mana jiwa sebagai penjelmaan dzat Tuhan dan raga adalah bentuk luar dari jiwa dengan dilengkapi pancaindera maupun berbagai organ tubuh. Hubungan jiwa dan raga berakhir setelah manusia mati di dunia, menurutnya sebagai lepasnya manusia dari belenggu alam kematian di dunia, yang selanjutnya manusia bisa manunggal dengan Tuhan dalam keabadian. Siti Jenar memandang bahwa pengetahuan tentang kebenaran Ketuhanan diperoleh manusia bersamaan dengan penyadaran diri manusia itu sendiri, karena proses timbulnya pengetahuan itu bersamaan dengan proses munculnya kesadaran subyek terhadap obyek (proses intuitif).
Menurut Widji Saksono dalam bukunya Al-Jami’ah (1962) dikatakan bahwa wejangan pengetahuan dari Siti jenar kepada kawan-kawannya ialah tentang penguasaan hidup, tentang pintu kehidupan, tentang tempat hidup kekal tak berakhir di kelak kemudian hari, tentang hal mati yang dialami di dunia saat ini dan tentang kedudukannya yang Mahaluhur. Dengan demikian tidaklah salah jika sebagian orang ajarannya merupakan ajaran kebatinan dalam artian luas, yang lebih menekankan aspek kejiwaan dari pada aspek lahiriah, sehingga ada juga yang menyimpulkan bahwa konsepsi tujuan hidup manusia tidak lain sebagai bersatunya manusia dengan Tuhan (Manunggaling Kawula-Gusti).
Dalam pandangan Siti Jenar, Tuhan adalah dzat yang mendasari dan sebagai sebab adanya manusia, flora, fauna dan segala yang ada, sekaligus yang menjiwai segala sesuatu yang berwujud, yang keberadaannya tergantung pada adanya dzat itu. Ini dibuktikan dari ucapan Siti Jenar bahwa dirinya memiliki sifat-sifat dan secitra Tuhan/Hyang Widi. Namun dari berbagai penulis dapat diketahui bahwa bisa jadi benturan kepentingan antara kerajaan Demak dengan dukungan para Wali yang merasa hegemoninya terancam yang tidak hanya sebatas keagamaan (Islam), tapi juga dukungan nyata secara politis tegaknya pemerintahan Kesultanan di tanah Jawa (aliansi dalam bentuk Sultan mengembangkan kemapanan politik sedang para Wali menghendaki perluasan wilayah penyebaran Islam).
Dengan sisa-sisa pengikut Majapahit yang tidak menyingkir ke timur dan beragama Hindu-Budha yang memunculkan tokoh kontraversial beserta ajarannya yang dianggap “subversif” yaitu Syekh Siti Jenar (mungkin secara diam-diam Ki Kebokenongo hendak mengembalikan kekuasaan politik sekaligus keagamaan Hindu-Budha sehingga bergabung dengan Siti jenar). Bisa jadi pula, tragedi Siti Jenar mencerminkan perlawanan kaum pinggiran terhadap hegemoni Sultan Demak yang memperoleh dukungan dan legitimasi spiritual para Wali yang pada saat itu sangat berpengaruh. Disini politik dan agama bercampur-aduk, yang mana pasti akan muncul pemenang, yang terkadang tidak didasarkan pada semangat kebenaran. Kaitan ajaran Siti Jenar dengan Manunggaling Kawula-Gusti seperti dikemukakan di atas, perlu diinformasikan di sini bahwa sepanjang tulisan mengenai Siti Jenar yang diketahui, tidak ada secara eksplisit yang menyimpulkan bahwa ajarannya itu adalah Manunggaling Kawula-Gusti, yang merupakan asli bagian dari budaya Jawa.
Sebab Manunggaling Kawula-Gusti khususnya dalam konteks religio spiritual, menurut Ir. Sujamto dalam bukunya Pandangan Hidup Jawa (1997), adalah pengalaman pribadi yang bersifat “tak terbatas” (infinite) sehingga tak mungkin dilukiskan dengan kata untuk dimengerti orang lain. Seseorang hanya mungkin mengerti dan memahami pengalaman itu kalau ia pernah mengalaminya sendiri. Dikatakan bahwa dalam tataran kualitas, Manunggaling Kawula-Gusti adalah tataran yang dapat dicapai tertinggi manusia dalam meningkatkan kualitas dirinya. Tataran ini adalah Insan Kamilnya kaum Muslim, Jalma Winilisnya aliran kepercayaan tertentu atau Satriyapinandhita dalam konsepsi Jawa pada umumnya, Titik Omeganya Teilhard de Chardin atau Kresnarjunasamvadanya Radhakrishnan. Yang penting baginya bukan pengalaman itu, tetapi kualitas diri yang kita pertahankan secara konsisten dalam kehidupan nyata di masyarakat. Pengalaman tetaplah pengalaman, tak terkecuali pengalaman paling tinggi dalam bentuk Manunggaling kawula Gusti, yang tak lebih pula dari memperkokoh laku. Laku atau sikap dan tindakan kita sehari-hari itulah yang paling penting dalam hidup ini. Kalau misalnya dengan kekhusuk-an manusia semedi malam ini, ia memperoleh pengalaman mistik atau pengalaman religius yang disebut Manunggaling Kawula-Gusti, sama sekali tidak ada harga dan manfaatnya kalau besok atau lusa lantas menipu atau mencuri atau korupsi atau melakukan tindakan-rindakan lain yang tercela.
Kisah Dewa Ruci adalah yang menceritakan kejujuran dan keberanian membela kebenaran, yang tanpa kesucian tak mungkin Bima berjumpa Dewa Ruci. Kesimpulannya, Manunggaling Kawula-Gusti bukan ilmu melainkan hanya suatu pengalaman, yang dengan sendirinya tidak ada masalah boleh atau tidak boleh, tidak ada ketentuan/aturan tertentu, boleh percaya atau tidak percaya. Kita akhiri kisah singkat tentang Syekh Siti Jenar, dengan bersama-sama merenungkan kalimat berikut yang berbunyi : “Janganlah Anda mencela keyakinan/kepercayaan orang lain, sebab belum tentu kalau keyakinan/kepercayaan Anda itu yang benar sendiri”. Sidang para Wali Sunan Giri membuka musyawarah para wali. Dalam musyawarah itu ia mengajukan masalah Syeh Siti Jenar. Ia menjelaskan bahwa Syeh Siti Jenar telah lama tidak kelihatan bersembahyang jemaah di masjid. Hal ini bukanlah perilaku yang normal. Syeh Maulana Maghribi berpendapat bahwa itu akan menjadi contoh yang kurang baik dan bisa membuat orang mengira wali teladan meninggalkan syariah nabi Muhammad. Sunan Giri kemudian mengutus dua orang santrinya ke gua tempat syeh Siti Jenar bertapa dan memintanya untuk datang ke masjid. Ketika mereka tiba, mereka diberitahu hanya ALLAH yang ada dalam gua.Mereka kembali ke masjid untuk melaporkan hal ini kepada Sunan Giri dan para wali lainnya. Sunan Giri kemudian menyuruh mereka kembali ke gua dan menyuruh ALLAH untuk segera menghadap para wali. Kedua santri itu kemudian diberitahu, ALLAH tidak ada dalam gua, yang ada hanya Syeh Siti Jenar. Mereka kembali kepada Sunan Giri untuk kedua kalinya. Sunan Giri menyuruh mereka untuk meminta datang baik ALLAH maupun Syeh Siti Jenar. Kali ini Syeh Siti Jenar keluar dari gua dan dibawa ke masjid menghadap para wali. Ketika tiba Syeh Siti Jenar memberi hormat kepada para wali yang tua dan menjabat tangan wali yang muda. Ia diberitahu bahwa dirinya diundang kesini untuk menghadiri musyawarah para wali tentang wacana kesufian. Didalam musyawarah ini Syeh Siti Jenar menjelaskan wacana kesatuan makhluk yaitu dalam pengertian akhir hanya ALLAH yang ada dan tidak ada perbedaan ontologis yang nyata yang bisa dibedakan antara ALLAH, manusia dan segala ciptaan lainnya. Sunan Giri menyatakan bahwa wacana itu benar,tetapi meminta jangan diajarkan karena bisa membuat masjid kosong dan mengabaikan syariah. Siti Jenar menjawab bahwa ketundukan buta dan ibadah ritual tanpa isi hanyalah perilaku keagamaan orang bodoh dan kafir.Dari percakapan Siti Jenar dan Sunan Giri itu kelihatannya bahwa yang menjadi masalah substansi ajaran Syeh Siti Jenar, tetapi penyampaian kepada masyarakat luas. Menurut Sunan Giri paham Syeh Siti Jenar belum boleh disampaikan kepada masyarakat luas sebab mereka bisa bingung, apalagi saat itu masih banyak orang yang baru masuk islam, karena seperti disampaika di muka bahwa Syeh Siti Jenar hidup dalam masa peralihan dari kerajaan Hindu kepada kerajaan Islam di Jawa pada akhir abad ke 15 M.
Percakapan Syeh Siti Jenar dan Sunan Giri juga diceritakan dalam buku Siti Jenar terbitan Tan Koen Swie sbb:
Pedah punapa mbibingung, Ngangelaken ulah ngelmi, NJeng Sunan Giri ngandika, Bener kang kaya sireki, Nanging luwih kaluputan, Wong wadheh ambuka wadi. Telenge bae pinulung, Pulunge tanpa ling aling, Kurang waskitha ing cipta, Lunturing ngelmu sajati, Sayekti kanthi nugraha, Tan saben wong anampani.
Artinya:
Syeh Siti Jenar berkata, untuk apa kita membuat bingung, untuk apa kita mempersulit ilmu? Sunan Giri berkata, benar apa yang anda ucapkan, tetapi anda bersalah besar, karena berani membuka ilmu rahasia secara tidak semestinya. Hakikat Tuhan langsung diajarkan tanpa ditutup tutupi. Itu tidaklah bijaksana. Semestinya ilmu itu hanya dianugerahkan kepada mereka yang benar-benar telah matang. Tak boleh diberikan begitu saja kepada setiap orang.
Ngrame tapa ing panggawe Iguh dhaya pratikele Nukulaken nanem bibit Ono saben galengane Mili banyu sumili Arerewang dewi sri Sumilir wangining pari Sêrat Niti Mani . . . Wontên malih kacarios lalampahanipun Seh Siti Jênar, inggih Seh Lêmah Abang. Pepuntoning tekadipun murtad ing agami, ambucal dhatêng sarengat. Saking karsanipun nêgari patrap ing makatên wau kagalih ambêbaluhi adamêl risaking pangadilan, ingriku Seh Siti Jênar anampeni hukum kisas, têgêsipun hukuman pêjah. Sarêng jaja sampun tinuwêg ing lêlungiding warastra, naratas anandhang brana, mucar wiyosing ludira, nalutuh awarni seta. Amêsat kuwanda muksa datan ana kawistara. Anulya ana swara, lamat-lamat kapiyarsa, surasa paring wasita. Kinanti Wau kang murweng don luhung, atilar wasita jati, e manungsa sesa-sesa, mungguh ing jamaning pati, ing reh pêpuntoning tekad, santa-santosaning kapti. Nora saking anon ngrungu, riringa rêngêt siningit, labêt sasalin salaga, salugune den-ugêmi, yeka pangagême raga, suminggah ing sangga runggi. Marmane sarak siningkur, kêrana angrubêdi, manggung karya was sumêlang, êmbuh-êmbuh den-andhêmi, iku panganggone donya, têkeng pati nguciwani. Sajati-jatining ngelmu, lungguhe cipta pribadi, pusthinên pangesthinira, ginêlêng dadi sawiji,wijanging ngelmu jatmika, neng kaanan ênêng êning.
By alang alang.
WAHYU YANG GAIB (FUTUH AL GHAIB) SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI
Untuk menambah perbendaharaan pengetahuan kita tentang kebatinan Islam (tasawuf), pada kesempatan kali ini akan dipaparkan perkataan Syekh Abdul Qadir Al Jilani yang tersebar dalam buku-bukunya. Akan kami mulai dengan biografi dilanjutkan dengan perkataan beliau di dalam buku “Futuh Al Ghaib”. (wongalus).
BIOGRAFI
Sulthanul Auliya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Rahimahullah, (bernama lengkap Muhyi al Din Abu Muhammad Abdul Qadir ibn Abi Shalih Al-Jailani). Lahir di Jailan atau Kailan tahun 470 H/1077 M kota Baghdad sehingga di akhir nama beliau ditambahkan kata al Jailani atau al Kailani. Biografi beliau dimuat dalam Kitab الذيل على طبق الØÙ†Ø§Ø¨Ù„Ø© Adz Dzail ‘Ala Thabaqil Hanabilah I/301-390, nomor 134, karya Imam Ibnu Rajab al Hambali. Ia wafat pada hari Sabtu malam, setelah magrib, pada tanggal 9 Rabiul akhir di daerah Babul Azajwafat di Baghdad pada 561 H/1166 M. Bila dirunut ke atas dari nasabnya, beliau masih keturunan Rasulallah Muhammad SAW dari Hasan bin Ali ra, yaitu Abu Shalih Sayidi Muhammad Abdul Qadir bin Musa bin Abdullah bin Yahya Az-zahid bin Muhammad bin Dawud bin Musa Al-Jun bin Abdullah Al-Mahdi bin Hasan Al-Mutsana bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra.
Sulthanul Auliya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Rahimahullah, (bernama lengkap Muhyi al Din Abu Muhammad Abdul Qadir ibn Abi Shalih Al-Jailani). Lahir di Jailan atau Kailan tahun 470 H/1077 M kota Baghdad sehingga di akhir nama beliau ditambahkan kata al Jailani atau al Kailani. Biografi beliau dimuat dalam Kitab الذيل على طبق الØÙ†Ø§Ø¨Ù„Ø© Adz Dzail ‘Ala Thabaqil Hanabilah I/301-390, nomor 134, karya Imam Ibnu Rajab al Hambali. Ia wafat pada hari Sabtu malam, setelah magrib, pada tanggal 9 Rabiul akhir di daerah Babul Azajwafat di Baghdad pada 561 H/1166 M. Bila dirunut ke atas dari nasabnya, beliau masih keturunan Rasulallah Muhammad SAW dari Hasan bin Ali ra, yaitu Abu Shalih Sayidi Muhammad Abdul Qadir bin Musa bin Abdullah bin Yahya Az-zahid bin Muhammad bin Dawud bin Musa Al-Jun bin Abdullah Al-Mahdi bin Hasan Al-Mutsana bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra.
Masa Muda
Dalam usia 8 tahun ia sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M. Karena tidak diterima belajar di Madrasah Nizhamiyah Baghdad, yang waktu itu dipimpin Ahmad al Ghazali, yang menggantikan saudaranya Abu Hamid al Ghazali. Di Baghdad beliau belajar kepada beberapa orang ulama seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthat, Abul Husein al Farra’ dan juga Abu Sa’ad al Muharrimi. Belaiu menimba ilmu pada ulama-ulama tersebut hingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama. Dengan kemampuan itu, Abu Sa’ad al Mukharrimi yang membangun sekolah kecil-kecilan di daerah Babul Azaj menyerahkan pengelolaan sekolah itu sepenuhnya kepada Syeikh Abdul Qadir al Jailani. Ia mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim di sana sambil memberikan nasehat kepada orang-orang di sekitar sekolah tersebut. Banyak orang yang bertaubat setelah mendengar nasehat beliau. Banyak pula orang yang bersimpati kepada beliau, lalu datang menimba ilmu di sekolah beliau hingga sekolah itu tidak mampu menampung lagi.
Murid-Murid
Murid-murid beliau banyak yang menjadi ulama terkenal, seperti al Hafidz Abdul Ghani yang menyusun kitab Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam, Syeikh Qudamah, penyusun kitab fiqh terkenal al Mughni.
Perkataan Ulama tentang Beliau
Syeikh Ibnu Qudamah sempat tinggal bersama beliau selama satu bulan sembilan hari. Kesempatan ini digunakan untuk belajar kepada Syeikh Abdul Qadir al Jailani sampai beliau meninggal dunia. (Siyar A’lamin Nubala XX/442).
Syeikh Ibnu Qudamah ketika ditanya tentang Syeikh Abdul Qadir menjawab, ”Kami sempat berjumpa dengan beliau di akhir masa kehidupannya. Ia menempatkan kami di sekolahnya. Ia sangat perhatian terhadap kami. Kadang beliau mengutus putra beliau yang bernama Yahya untuk menyalakan lampu buat kami. Ia senantiasa menjadi imam dalam shalat fardhu.”
Beliau adalah seorang yang berilmu, beraqidah Ahlu Sunnah, dan mengikuti jalan Salaf al Shalih. Belaiau dikenal pula banyak memiliki karamah. Tetapi, banyak (pula) orang yang membuat-buat kedustaan atas nama beliau. Kedustaan itu baik berupa kisah-kisah, perkataan-perkataan, ajaran-ajaran, tariqah (tarekat/jalan) yang berbeda dengan jalan Rasulullah, para sahabatnya, dan lainnya. Di antaranya dapat diketahui dari pendapat Imam Ibnu Rajab.
Tentang Karamahnya
Syeikh Abdul Qadir al Jailani adalah seorang yang diagungkan pada masanya. Diagungkan oleh para syeikh, ulama, dan ahli zuhud. Ia banyak memiliki keutamaan dan karamah. Tetapi, ada seorang yang bernama al Muqri’ Abul Hasan asy Syathnufi al Mishri (nama lengkapnya adalah Ali Ibnu Yusuf bin Jarir al Lakhmi asy Syathnufi) yang mengumpulkan kisah-kisah dan keutamaan-keutamaan Syeikh Abdul Qadir al Jailani dalam tiga jilid kitab. Al Muqri’ lahir di Kairo tahun 640 H, meninggal tahun 713 H. Dia dituduh berdusta dan tidak bertemu dengan Syeikh Abdul Qadir al Jailani. Dia telah menulis perkara-perkara yang aneh dan besar (kebohongannya).
“Cukuplah seorang itu berdusta, jika dia menceritakan yang dia dengar”, demikian kata Imam Ibnu Rajab. “Aku telah melihat sebagian kitab ini, tetapi hatiku tidak tentram untuk berpegang dengannya, sehingga aku tidak meriwayatkan apa yang ada di dalamnya. Kecuali kisah-kisah yang telah masyhur dan terkenal dari selain kitab ini. Karena kitab ini banyak berisi riwayat dari orang-orang yang tidak dikenal. Juga terdapat perkara-perkara yang jauh dari agama dan akal, kesesatan-kesesatan, dakwaan-dakwaan dan perkataan yang batil tidak berbatas, seperti kisah Syeikh Abdul Qadir menghidupkan ayam yang telah mati, dan sebagainya. Semua itu tidak pantas dinisbatkan kepada Syeikh Abdul Qadir al Jailani rahimahullah.”
Kemudian didapatkan pula bahwa al Kamal Ja’far al Adfwi (nama lengkapnya Ja’far bin Tsa’lab bin Ja’far bin Ali bin Muthahhar bin Naufal al Adfawi), seorang ulama bermadzhab Syafi’i. Ia dilahirkan pada pertengahan bulan Sya’ban tahun 685 H dan wafat tahun 748 H di Kairo. Biografi beliau dimuat oleh al Hafidz di dalam kitab Ad Durarul Kaminah, biografi nomor 1452. al Kamal menyebutkan bahwa asy Syathnufi sendiri tertuduh berdusta atas kisah-kisah yang diriwayatkannya dalam kitab ini.(Dinukil dari kitab At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 509, karya Syeikh Abdul Qadir bin Habibullah as Sindi, Penerbit Darul Manar, Cet. II, 8 Dzulqa’dah 1415 H / 8 April 1995 M.).
Karya
Imam Ibnu Rajab juga berkata, ”Syeikh Abdul Qadir al Jailani Rahimahullah memiliki pemahaman yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu ma’rifat yang sesuai dengan sunnah.”
Karya beliau, antara lain :
al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq,
Futuhul Ghaib.
al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq,
Futuhul Ghaib.
Murid-muridnya mengumpulkan ihwal yang berkaitan dengan nasehat dari majelis-majelis beliau. Dalam masalah-masalah sifat, takdir dan lainnya, ia berpegang dengan sunnah. Ia membantah dengan keras terhadap orang-orang yang menyelisihi sunnah.
Beberapa Ajaran Beliau
Sam’ani berkata, ” Syeikh Abdul Qadir Al Jailani adalah penduduk kota Jailan. Ia seorang Imam bermadzhab Hambali. Menjadi guru besar madzhab ini pada masa hidup beliau.” Imam Adz Dzahabi menyebutkan biografi Syeikh Abdul Qadir Al Jailani dalam Siyar A’lamin Nubala, dan menukilkan perkataan Syeikh sebagai berikut,”Lebih dari lima ratus orang masuk Islam lewat tanganku, dan lebih dari seratus ribu orang telah bertaubat.”
Imam Adz Dzahabi menukilkan perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan Syeikh Abdul Qadir yang aneh-aneh sehingga memberikan kesan seakan-akan beliau mengetahui hal-hal yang ghaib. Kemudian mengakhiri perkataan, ”Intinya Syeikh Abdul Qadir memiliki kedudukan yang agung. Tetapi terdapat kritikan-kritikan terhadap sebagian perkataannya dan Allah menjanjikan (ampunan atas kesalahan-kesalahan orang beriman ). Namun sebagian perkataannya merupakan kedustaan atas nama beliau.”( Siyar XX/451 ). Imam Adz Dzahabi juga berkata, ” Tidak ada seorangpun para kibar masyasyeikh yang riwayat hidup dan karamahnya lebih banyak kisah hikayat, selain Syeikh Abdul Qadir Al Jailani, dan banyak di antara riwayat-riwayat itu yang tidak benar bahkan ada yang mustahil terjadi“.
Syeikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali berkata dalam kitabnya, Al Haddul Fashil,hal.136, ” Aku telah mendapatkan aqidah beliau ( Syeikh Abdul Qadir Al Jaelani ) di dalam kitabnya yang bernama Al Ghunyah. (Lihat kitab Al-Ghunyah I/83-94) Maka aku mengetahui bahwa dia sebagai seorang Salafi. Ia menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah dan aqidah-aqidah lainnya di atas manhaj Salaf. Ia juga membantah kelompok-kelompok Syi’ah, Rafidhah, Jahmiyyah, Jabariyyah, Salimiyah, dan kelompok lainnya dengan manhaj Salaf.” (At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 509, karya Syeikh Abdul Qadir bin Habibullah As Sindi, Penerbit Darul Manar, Cet. II, 8 Dzulqa’dah 1415 H / 8 April 1995 M.)
Inilah tentang beliau secara ringkas. Seorang ‘alim Salafi, Sunni, tetapi banyak orang yang menyanjung dan membuat kedustaan atas nama beliau. Sedangkan beliau berlepas diri dari semua kebohongan itu. Wallahu a’lam bishshawwab.
Awal Kemasyhuran
Al-Jaba’i berkata bahwa Syeikh Abdul Qadir pernah berkata kepadanya, “Tidur dan bangunku sudah diatur. Pada suatu saat dalam dadaku timbul keinginan yang kuat untuk berbicara. Begitu kuatnya sampai aku merasa tercekik jika tidak berbicara. Dan ketika berbicara, aku tidak dapat menghentikannya. Pada saat itu ada dua atau tiga orang yang mendengarkan perkataanku. Kemudian mereka mengabarkan apa yang aku ucapkan kepada orang-orang, dan merekapun berduyun-duyun mendatangiku di masjid Bab Al-Halbah. Karena tidak memungkinkan lagi, aku dipindahkan ke tengah kota dan dikelilingi dengan lampu. Orang-orang tetap datang di malam hari dengan membawa lilin dan obor hingga memenuhi tempat tersebut. Kemudian, aku dibawa ke luar kota dan ditempatkan di sebuah mushalla. Namun, orang-orang tetap datang kepadaku, dengan mengendarai kuda, unta bahkan keledai dan menempati tempat di sekelilingku. Saat itu hadir sekitar 70 orang para wali radhiallahu ‘anhum.
Kemudian, Syeikh Abdul Qadir melanjutkan, “Aku melihat Rasulallah SAW sebelum dzuhur, beliau berkata kepadaku, “anakku, mengapa engkau tidak berbicara?”. Aku menjawab, “Ayahku, bagaimana aku yang non arab ini berbicara di depan orang-orang fasih dari Baghdad?”. Ia berkata, “buka mulutmu”. Lalu, beliau meniup 7 kali ke dalam mulutku kemudian berkata, ”bicaralah dan ajak mereka ke jalan Allah dengan hikmah dan peringatan yang baik”. Setelah itu, aku shalat dzuhur dan duduk serta mendapati jumlah yang sangat luar biasa banyaknya sehingga membuatku gemetar. Kemudian aku melihat Ali r.a. datang dan berkata, “buka mulutmu”. Ia lalu meniup 6 kali ke dalam mulutku dan ketika aku bertanya kepadanya mengapa beliau tidak meniup 7 kali seperti yang dilakukan Rasulallah SAW, beliau menjawab bahwa beliau melakukan itu karena rasa hormat beliau kepada Rasulallah SAW. Kemudian, aku berkata, “Pikiran, sang penyelam yang mencari mutiara ma’rifah dengan menyelami laut hati, mencampakkannya ke pantai dada , dilelang oleh lidah sang calo, kemudian dibeli dengan permata ketaatan dalam rumah yang diizinkan Allah untuk diangkat”. Ia kemudian menyitir, “Dan untuk wanita seperti Laila, seorang pria dapat membunuh dirinya dan menjadikan maut dan siksaan sebagai sesuatu yang manis.”
Dalam beberapa manuskrip didapatkan bahwa Syeikh Abdul Qadir berkata, ”Sebuah suara berkata kepadaku saat aku berada di pengasingan diri, “kembali ke Baghdad dan ceramahilah orang-orang”. Aku pun ke Baghdad dan menemukan para penduduknya dalam kondisi yang tidak aku sukai dan karena itulah aku tidak jadi mengikuti mereka”. “Sesungguhnya” kata suara tersebut, “Mereka akan mendapatkan manfaat dari keberadaan dirimu”. “Apa hubungan mereka dengan keselamatan agamaku/keyakinanku” tanyaku. “Kembali (ke Baghdad) dan engkau akan mendapatkan keselamatan agamamu” jawab suara itu.
Aku pun membuat 70 perjanjian dengan Allah. Di antaranya adalah tidak ada seorang pun yang menentangku dan tidak ada seorang muridku yang meninggal kecuali dalam keadaan bertaubat. Setelah itu, aku kembali ke Baghdad dan mulai berceramah.
Beberapa Kejadian Penting
Suatu ketika, saat aku berceramah aku melihat sebuah cahaya terang benderang mendatangi aku. “Apa ini dan ada apa?” tanyaku. “Rasulallah SAW akan datang menemuimu untuk memberikan selamat” jawab sebuah suara. Sinar tersebut semakin membesar dan aku mulai masuk dalam kondisi spiritual yang membuatku setengah sadar. Lalu, aku melihat Rasulallah SAW di depan mimbar, mengambang di udara dan memanggilku, “Wahai Abdul Qadir”. Begitu gembiranya aku dengan kedatangan Rasalullah SAW, aku melangkah naik ke udara menghampirinya. Ia meniup ke dalam mulutku 7 kali. Kemudian Ali datang dan meniup ke dalam mulutku 3 kali. “Mengapa engkau tidak melakukan seperti yang dilakukan Rasulallah SAW?” tanyaku kepadanya. “Sebagai rasa hormatku kepada Rasalullah SAW” jawab beliau.
Rasulallah SAW kemudian memakaikan jubah kehormatan kepadaku. “apa ini?” tanyaku. “Ini” jawab Rasulallah, “adalah jubah kewalianmu dan dikhususkan kepada orang-orang yang mendapat derajad Qutb dalam jenjang kewalian”. Setelah itu, aku pun tercerahkan dan mulai berceramah.
Saat Nabi Khidir As. Datang hendak mengujiku dengan ujian yang diberikan kepada para wali sebelumku, Allah membukakan rahasianya dan apa yang akan dikatakannya kepadaku. Aku berkata kepadanya, ”Wahai Khidir, apabila engkau berkata kepadaku, “Engkau tidak akan sabar kepadaku”, aku akan berkata kepadamu, “Engkau tidak akan sabar kepadaku”. “Wahai Khidir, Engkau termasuk golongan Israel sedangkan aku termasuk golongan Muhammad, inilah aku dan engkau. Aku dan engkau seperti sebuah bola dan lapangan, yang ini Muhammad dan yang ini ar Rahman, ini kuda berpelana, busur terentang dan pedang terhunus.”
Al-Khattab pelayan Syeikh Abdul Qadir meriwayatkan bahwa suatu hari ketika beliau sedang berceramah tiba-tiba beliau berjalan naik ke udara dan berkata, “Hai orang Israel, dengarkan apa yang dikatakan oleh kaum Muhammad” lalu kembali ke tempatnya. Saat ditanya mengenai hal tersebut beliau menjawab, ”Tadi Abu Abbas Al-Khidir As lewat dan aku pun berbicara kepadanya seperti yang kalian dengar tadi dan ia berhenti”.
Hubungan Guru dan Murid
Guru dan teladan kita Syeikh Abdul Qadir berkata, ”Seorang Syeikh tidak dapat dikatakan mencapai puncak spiritual kecuali apabila 12 karakter berikut ini telah mendarah daging dalam dirinya.
1. Dua karakter dari Allah yaitu dia menjadi seorang yang sattar (menutup aib) dan ghaffar (pemaaf).
2. Dua karakter dari Rasulullah SAW yaitu penyayang dan lembut.
3. Dua karakter dari Abu Bakar yaitu jujur dan dapat dipercaya.
4. Dua karakter dari Umar yaitu amar ma’ruf nahi munkar.
5. Dua karakter dari Utsman yaitu dermawan dan bangun (tahajjud) pada waktu orang lain sedang tidur.
6. Dua karakter dari Ali yaitu alim (cerdas/intelek) dan pemberani.
1. Dua karakter dari Allah yaitu dia menjadi seorang yang sattar (menutup aib) dan ghaffar (pemaaf).
2. Dua karakter dari Rasulullah SAW yaitu penyayang dan lembut.
3. Dua karakter dari Abu Bakar yaitu jujur dan dapat dipercaya.
4. Dua karakter dari Umar yaitu amar ma’ruf nahi munkar.
5. Dua karakter dari Utsman yaitu dermawan dan bangun (tahajjud) pada waktu orang lain sedang tidur.
6. Dua karakter dari Ali yaitu alim (cerdas/intelek) dan pemberani.
Masih berkenaan dengan pembicaraan di atas dalam bait syair yang dinisbatkan kepada beliau dikatakan:
Bila lima perkara tidak terdapat dalam diri seorang syeikh maka ia adalah Dajjal yang mengajak kepada kesesatan.
Dia harus sangat mengetahui hukum-hukum syariat dzahir, mencari ilmu hakikah dari sumbernya, hormat dan ramah kepada tamu, lemah lembut kepada si miskin, mengawasi para muridnya sedang ia selalu merasa diawasi oleh Allah.
Syeikh Abdul Qadir juga menyatakan bahwa Syeikh al Junaid mengajarkan standar al Quran dan Sunnah kepada kita untuk menilai seorang syeikh. Apabila ia tidak hafal al Quran, tidak menulis dan menghafal Hadits, dia tidak pantas untuk diikuti.
Menurut saya (penulis buku) yang harus dimiliki seorang syeikh ketika mendidik seseorang adalah dia menerima si murid untuk Allah, bukan untuk dirinya atau alasan lainnya. Selalu menasihati muridnya, mengawasi muridnya dengan pandangan kasih. Lemah lembut kepada muridnya saat sang murid tidak mampu menyelesaikan riyadhah. Dia juga harus mendidik si murid bagaikan anak sendiri dan orang tua penuh dengan kasih dan kelemahlembutan dalam mendidik anaknya. Oleh karena itu, dia selalu memberikan yang paling mudah kepada si murid dan tidak membebaninya dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukannya. Dan setelah sang murid bersumpah untuk bertobat dan selalu taat kepada Allah baru sang syaikh memberikan yang lebih berat kepadanya. Sesungguhnya bai’at bersumber dari hadits Rasulullah SAW ketika beliau mengambil bai’at para sahabatnya.
Kemudian dia harus mentalqin si murid dengan zikir lengkap dengan silsilahnya. Sesungguhnya Ali ra. bertanya kepada Rasulallah SAW, “Wahai Rasulallah, jalan manakah yang terdekat untuk sampai kepada Allah, paling mudah bagi hambanya dan paling afdhal di sisi-Nya. Rasulallah berkata, “Ali, hendaknya jangan putus berzikir (mengingat) kepada Allah dalam khalwat (kontemplasinya)”. Kemudian, Ali ra. kembali berkata, “Hanya demikiankah fadhilah zikir, sedangkan semua orang berzikir”. Rasulullah berkata, “Tidak hanya itu wahai Ali, kiamat tidak akan terjadi di muka bumi ini selama masih ada orang yang mengucapkan ‘Allah’, ‘Allah’. “Bagaimana aku berzikir?” tanya Ali. Rasulallah bersabda, “Dengarkan apa yang aku ucapkan. Aku akan mengucapkannya sebanyak tiga kali dan aku akan mendengarkan engkau mengulanginya sebanyak tiga kali pula”. Lalu, Rasulallah berkata, “Laa Ilaaha Illallah” sebanyak tiga kali dengan mata terpejam dan suara keras. Ucapan tersebut di ulang oleh Ali dengan cara yang sama seperti yang Rasulullah lakukan. Inilah asal talqin kalimat Laa Ilaaha Illallah. Semoga Allah memberikan taufiknya kepada kita dengan kalimat tersebut.
Syeikh Abdul Qadir berkata, ”Kalimat tauhid akan sulit hadir pada seorang individu yang belum di talqin dengan zikir bersilsilah kepada Rasullullah oleh mursyidnya saat menghadapi sakaratul maut”.
Karena itulah Syeikh Abdul Qadir selalu mengulang-ulang syair yang berbunyi: Wahai yang enak diulang dan diucapkan (kalimat tauhid) jangan engkau lupakan aku saat perpisahan (maut).
Lain-Lain
Kesimpulannya beliau adalah seorang ‘ulama besar. Apabila sekarang ini banyak kaum muslimin menyanjung-nyanjungnya dan mencintainya, maka itu adalah suatu kewajaran. Bahkan suatu keharusan. Akan tetapi kalau meninggi-ninggikan derajat beliau di atas Rasulullah shollallahu’alaihi wasalam, maka hal ini merupakan kekeliruan yang fatal. Karena Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasalam adalah rasul yang paling mulia di antara para nabi dan rasul. Derajatnya tidak akan terkalahkan di sisi Allah oleh manusia manapun. Adapun sebagian kaum muslimin yang menjadikan Syeikh Abdul Qadir sebagai wasilah (perantara) dalam do’a mereka, berkeyakinan bahwa do’a seseorang tidak akan dikabulkan oleh Allah, kecuali dengan perantaranya. Ini juga merupakan kesesatan. Menjadikan orang yang meninggal sebagai perantara, maka tidak ada syari’atnya dan ini diharamkan. Apalagi kalau ada orang yang berdo’a kepada beliau. Ini adalah sebuah kesyirikan besar. Sebab do’a merupakan salah satu bentuk ibadah yang tidak diberikan kepada selain Allah. Allah melarang mahluknya berdo’a kepada selain Allah. “Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. (QS. Al-Jin: 18)”
Jadi sudah menjadi keharusan bagi setiap muslim untuk memperlakukan para ‘ulama dengan sebaik mungkin, namun tetap dalam batas-batas yang telah ditetapkan syari’ah. Akhirnya mudah-mudahan Allah senantiasa memberikan petunjuk kepada kita sehingga tidak tersesat dalam kehidupan yang penuh dengan fitnah ini.
Pada tahun 521 H/1127 M, dia mengajar dan berfatwa dalam semua madzhab pada masyarakat sampai dikenal masyarakat luas. Selama 25 tahun Syeikh Abdul Qadir menghabiskan waktunya sebagai pengembara sufi di Padang Pasir Iraq dan akhirnya dikenal oleh dunia sebagai tokoh sufi besar dunia Islam. Selain itu dia memimpin madrasah dan ribath di Baghdad yang didirikan sejak 521 H sampai wafatnya di tahun 561 H. Madrasah itu tetap bertahan dengan dipimpin anaknya Abdul Wahab (552-593 H/1151-1196 M), diteruskan anaknya Abdul Salam (611 H/1214 M). Juga dipimpin anak kedua Syeikh Abdul Qadir, Abdul Razaq (528-603 H/1134-1206 M), sampai hancurnya Baghdad pada tahun 656 H/1258 M.
Syeikh Abdul Qadir juga dikenal sebagai pendiri sekaligus penyebar salah satu tarekat terbesar didunia bernama Tarekat Qodiriyah. (sumber: wikipedia)
FUTUH AL-GHAIB (WAHYU YANG GAIB)
WACANA KETUJUH FUTUH AL-GHAIB
“Menghapus peduli dari hati/qalb”
Syaikh (semoga Allah berkenan dengan dia, dan memberinya kepuasan) berkata:
Langkah keluar dari diri Anda sendiri dan menjaga jarak darinya. Praktek lepas dari posesif Anda, dan menyerahkan segalanya kepada Allah. Menjadi penjaga pintu-Nya di pintu hati Anda, mematuhi perintah-Nya dengan mengakui orang-orang Dia menginstruksikan Anda untuk mengakui, dan menghormati larangan-Nya dengan menutup keluar yang Dia menginstruksikan Anda untuk berpaling, sehingga Anda tidak membiarkan semangat kembali ke dalam hatimu setelah telah diusir. Gairah adalah diusir dari jantung oleh perlawanan untuk itu dan penolakan untuk mengikuti dorongan tersebut, apa pun keadaan, sementara kepatuhan dan persetujuan memungkinkan untuk mendapatkan entri. Jadi jangan menggunakan apapun akan terlepas dari kehendak-Nya, untuk yang lain adalah keinginan Anda sendiri, dan bahwa adalah Lembah pondok, di mana kematian dan kehancuran menanti Anda, dan jatuh dari pandangan Allah dan menjadi terpencil dari-Nya. Selalu menjaga perintah-Nya, selalu menghormati larangan-Nya, dan selalu tunduk kepada apa yang telah Dia tetapkan. Jangan persekutukan Dia dengan bagian manapun dari ciptaan-Nya. Anda akan, gairah hidup Anda dan selera duniawi milik Anda semua ciptaan-Nya, sehingga menahan diri dari memanjakan salah satu dari mereka agar Anda menjadi seorang politeis. Allah (Maha Suci Allah) mengatakan:
Siapa yang mengharapkan untuk bertemu Tuhannya, biarkan dia melakukan pekerjaan orang benar, dan membuat pengikut tidak ada dalam menyembah kepada Tuhan haknya. (18:110)
Politeisme [syirik] bukan hanya penyembahan berhala. Hal ini juga politeisme keinginan untuk menghasilkan gairah Anda sendiri, dan untuk menyamakan Tuhan dengan sesuatu apapun selain Allah Anda, baik itu di dunia ini dan isinya atau di akhirat dan apa yang terkandung di dalamnya. Apa yang selain Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) adalah selain Dia, sehingga ketika Anda mengandalkan apapun selain Dia Anda mengasosiasikan sesuatu yang lain dengan-Nya (Maha Esa dan Agung adalah Dia). Oleh karena itu berhati-hati dan tidak santai menjaga Anda, menjadi takut dan tidak mengembangkan rasa aman, dan menjaga akal Anda tentang Anda sehingga Anda tidak menjadi ceroboh dan puas.
Jangan atribut negara bagian atau stasiun kepada diri sendiri, dan tidak memiliki pretensi ke hal-hal seperti itu. Jika Anda diberi keadaan khusus, atau meningkat ke stasiun tertentu, tidak menjadi diidentifikasi dengan cara apapun sama sekali, karena Allah setiap hari tentang bisnis tertentu, mempengaruhi perubahan dan transformasi. Dia mungkin campur antara manusia dan hatinya, sehingga memisahkan Anda dari apa yang Anda telah mengaku menjadi sendiri, dan membuat Anda berbeda dari apa yang telah dibayangkan kondisi Anda tetap dan permanen. Anda kemudian akan malu di hadapan orang-orang yang Anda membuat klaim seperti itu, sehingga Anda lebih baik menjaga hal-hal untuk diri sendiri dan tidak menyampaikan kepada orang lain. Jika sesuatu tidak membuktikan stabil dan abadi, mengakui itu sebagai hadiah, berdoa untuk kasih karunia yang akan bersyukur, dan tetap tak terlihat. Tapi bahkan jika ternyata sebaliknya, ia masih akan membawa kemajuan dalam pengetahuan dan pemahaman, pencerahan, kewaspadaan dan disiplin. Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) mengatakan:
Seperti ayat-ayat Kami sebagaimana Kami telah membatalkan atau menyebabkan dilupakan, Kami ganti dengan yang lebih baik atau sebagai yang baik. Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu? (2:106)
Jadi, jangan meremehkan tingkat kekuasaan Allah, tidak memiliki keraguan tentang perencanaan-Nya dan manajemen-Nya, dan tidak pernah meragukan janji-Nya. Ambil sebagai model Anda contoh baik yang ditetapkan oleh Rasulullah (Allah memberkatinya dan memberinya kedamaian). Dia mengalami pembatalan ayat dan bab wahyukan kepadanya, diadopsi dalam praktek, dibacakan dalam relung [masjid], dan ditulis dalam buku-buku, seperti mereka telah ditarik dan diubah dan diganti oleh orang lain, Nabi diberkati dipindahkan untuk menerima wahyu baru. Ini berlaku untuk dispensasi luar hukum. Adapun aspek batin, pengetahuan dan keadaan rohani yang berpengalaman dalam hubungan sendiri dengan Allah, ia biasa berkata: “Hatiku akan dilapisi dengan karat, jadi aku mohon ampun kepada Allah tujuh puluh kali setiap hari” (“seratus kali,” menurut untuk laporan lain).
Nabi (Allah memberkatinya dan memberinya kedamaian) akan pindah dari satu negara menjadi lain, dan dibuat untuk melintasi stasiun kedekatan ilahi dan lingkup yang gaib. Jubah cahaya dianugerahkan kepadanya sudah diubah sebagai ia berkembang, sehingga setiap tahap baru akan membuat sebelumnya tampak gelap, dirusak oleh kekurangan dan penghormatannya tidak memadai pedoman. Dengan demikian, ia dilatih untuk praktek berdoa untuk pengampunan, karena itu adalah keadaan terbaik untuk melayani dan pertobatan konstan, karena ini melibatkan pengakuan dosa dan kekurangan sifat-sifat manusia yang diwariskan dari Adam (saw), ayah dari manusia.
Ketika kemurnian keadaan rohani Adam diwarnai dengan melupakan janji dan perjanjian, ia ingin tinggal selamanya di tempat tinggal perdamaian, di sekitar Tuhan Yang Maha Pemurah dan Pemurah Teman, dikunjungi oleh para malaikat yang mulia dengan ucapan dan salam, tapi dirinya-akan datang untuk dihubungkan dengan kehendak Kebenaran. Itu kehendak-Nya karena itu rusak, bahwa negara menghilang, bahwa keintiman menjadi remote, stasiun yang rusak, lampu-lampu yang redup, dan kemurnian yang manja. Lalu ini memilih salah satu Tuhan Yang Maha Pemurah pulih kesadarannya dan mengingatkan. Setelah diperintahkan dalam pengakuan dosa dan lupa, dan dilatih dalam pengakuan, ia berkata: “Ya Tuhan kami Kami telah menganiaya diri kita sendiri.! Jika Anda tidak mengampuni kami, dan kasihanilah kami, kami akan pasti diantara mereka yang terhilang!” (7:23).
Kemudian datang kepadanya cahaya pedoman, pengetahuan dan pemahaman dalam pertobatan dan manfaat yang tersembunyi, tapi untuk yang sesuatu yang sebelumnya misterius tidak akan menjadi nyata. Itu akan lama digantikan dengan yang berbeda, dan negara asli oleh lain. Ia menerima konsekrasi tertinggi, dan istirahat di dunia ini dan kemudian di akhirat, karena dunia ini menjadi rumah untuk dia dan keturunannya, dan akhirat mereka berlindung dan tempat istirahat kekal.
Dalam Rasulullah dan sahabat favorit, karena itu, seperti ayahnya Adam, Terpilih Allah, nenek moyang semua penuh kasih sayang dan teman-teman, Anda memiliki contoh untuk mengikuti mengakui kesalahan dan berdoa untuk pengampunan dalam semua keadaan.
WACANA KEDELAPAN FUTUH AL-GHAIB
Gambaran dekat kepada Allah
Syaikh (semoga Allah berkenan dengan dia, dan memberinya kepuasan) berkata:
Bila Anda berada dalam kondisi tertentu, jangan berusaha untuk pertukaran lain, entah lebih tinggi atau lebih rendah. Jika Anda berada di pintu gerbang istana Raja, oleh karena itu, tidak mencari pengakuan ke istana itu sendiri sampai Anda diwajibkan untuk memasukkan, karena paksaan dan bukan atas kemauannya sendiri. Dengan keharusan Maksudku perintah, keras-menerus diulang. Jangan puas diri dengan izin hanya untuk masuk, karena ini mungkin hanya trik dan penipuan pada bagian Raja. Anda bukan harus menunggu dengan sabar sampai Anda dipaksa untuk masuk, sehingga masuk ke dalam istana akan melalui paksaan murni dan nikmat karunia dari Raja. Kemudian, karena tindakan itu sendiri Raja, Dia tidak akan menghukum Anda untuk itu. Jika hukuman apapun dijatuhkan kepada Anda, hanya akan terjadi karena motivasi yang salah Anda, keserakahan, ketidaksabaran, uncouthness dan ketidakpuasan dengan situasi di mana Anda telah ditempatkan. Ketika Anda memperoleh hak masuk ke istana, karena itu Anda harus menundukkan kepala Anda dalam keheningan, mata Anda tetap tertunduk rendah hati dan pikiran perilaku Anda saat Anda melakukan tugas dan layanan diberikan kepada Anda, tanpa mencari promosi ke puncak tertinggi. Perhatikan kata Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia):
Strain tidak mata Anda terhadap apa yang telah Kami berikan untuk beberapa pasangan antara mereka untuk menikmati-bunga kehidupan dunia ini, bahwa Kami sehingga dapat menempatkan mereka untuk menguji. Ketentuan Tuhan Anda adalah lebih baik dan lebih kekal. (20:131)
Ini adalah peringatan oleh yang dipilih-Nya Ia memerintahkan Nabi (Allah memberkatinya dan memberinya kedamaian) tentang perhatian ke kondisi saat seseorang dan kepuasan dengan hadiah yang diterima. Mengutip kata-Nya, “Tuhan penyediaan Anda adalah lebih baik dan lebih kekal,” Ia berkata: “Apa yang saya berikan kepada Anda di jalan kabar baik, kenabian, pengetahuan, kepuasan, kesabaran, perwalian agama dan dukungan kuat di dalamnya -semua ini adalah lebih pas dan tepat dari apa yang telah saya berikan [kepada orang lain]. “
Jadi, semua terletak baik dalam memperhatikan kondisi yang ada seseorang, dalam konten yang dengan itu dan berhenti mendambakan setelah alternatif, untuk itu hanya dapat bahwa sesuatu adalah milikmu oleh banyak atau diperuntukkan untuk yang lain, kecuali milik siapa-siapa dan Allah telah menciptakan hanya sebagai percobaan. Jika diperuntukkan bagi Anda, itu akan datang kepada Anda, suka atau tidak. Setiap menampilkan perilaku tidak pantas dan keserakahan dalam mengejar karenanya akan tidak tepat pada bagian Anda, dengan tidak ada dalam pengetahuan atau alasan untuk memuji itu. Jika ditakdirkan untuk orang lain, cadangan sendiri upaya sia-sia mengejar sesuatu yang tidak bisa dan yang tidak akan pernah datang kepada Anda. Jika hanya cobaan, tidak ditakdirkan menjadi milik siapa pun, bagaimana mungkin orang yang cerdas merasa berharga untuk melanjutkan hal seperti itu dan berusaha mendapatkan untuk dirinya sendiri? Jadi, terbukti bahwa semua yang baik dan keselamatan terletak pada benar menghadiri ke kondisi saat seseorang.
Bila Anda dipromosikan ke ruang atas, dan kemudian ke atap, Anda harus mengamati semua sopan santun perilaku yang tenang dan sopan yang telah disebutkan. Bahkan Anda harus melipatgandakan usaha Anda dalam hal tersebut, karena Anda sekarang lebih dekat dengan Raja dan lebih dekat dengan bahaya. Jadi, jangan berharap untuk suatu perubahan keadaan baik oleh promosi atau penurunan pangkat, dan keinginan tidak permanen dan kontinuitas maupun perubahan dalam kondisi yang ada. Anda seharusnya tidak memiliki pilihan degil apapun, karena yang akan berjumlah tidak bersyukur untuk berkat-berkat ini, dan tidak berterima kasih kepadanya membawa aib yang bersalah padanya, di dunia dan akhirat.
Biarkan tindakan Anda selalu seperti yang telah kita katakan kepada Anda, sampai Anda dipromosikan ke posisi yang akan menjadi stasiun permanen untuk Anda, dari mana Anda tidak akan terhapus. Anda kemudian akan mengenalinya sebagai hadiah, jelas dan jelas, sehingga menempel untuk itu dan jangan lepaskan. ] Orang-orang kudus Biasa awliya ['telah menyatakan berubah, sedangkan stasiun permanen milik Abdal.
Allah bertanggung jawab atas bimbingan Anda!
WACANA KESEPULUH FUTUH AL-GHAIB
Pada diri dan negara nya
Syaikh (semoga Allah berkenan dengan dia, dan memberinya kepuasan) berkata:
Ada Allah, dan ada diri Anda sendiri [nafsuka], dan Anda harus mengatasi situasi. Diri adalah lawan dan musuh Allah. Segala sesuatu tunduk kepada Allah, dan benar-benar milik diri-Nya sebagai makhluk dan milik, tetapi menghibur diri praduga dan aspirasi terikat dengan selera keinginan duniawi dan sensual. Jadi, jika Anda sekutu diri dengan kebenaran ilahi dalam oposisi dan permusuhan terhadap diri sendiri, Anda akan demi Allah musuh untuk diri Anda sendiri. Sebagaimana Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) berkata kepada Daud (saw): “Hai Daud, aku mendukung sangat diperlukan Anda, sehingga berpegang teguh untuk mendukung Anda Benar perbudakan berarti musuh untuk diri Anda sendiri..”
Saat itulah persahabatan dan penghambaan kepada Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) akan dikonfirmasi dalam realitas. Semua yang disediakan untuk Anda kemudian akan datang kepada Anda untuk kesenangan dan kesenangan. Anda akan diselenggarakan untuk menghormati dan menghargai, dan segala sesuatu akan siap melayani Anda dengan martabat dan rasa hormat, karena mereka semua tunduk kepada Tuhan mereka dan sesuai dengan Dia, karena Dia adalah Pencipta mereka dan Originator dan mereka mengakui perbudakan mereka untuk Nya. Allah (Maha Suci Allah) mengatakan:
Tidak ada hal yang tidak merayakan memuji-Nya, tetapi Anda tidak mengerti perayaan mereka. (17:44)
[Lalu Dia berbalik ke langit ketika] asap dan berkata kepada pohon itu dan bumi: “Datanglah kamu berdua dengan sukarela atau terpaksa.” Mereka berkata: “Kami datang, patuh.” (41:11)
Jadi semua perbudakan-perbudakan-terdiri dalam menentang diri Anda sendiri. Allah (Maha Suci Allah) mengatakan:
Ikuti tidak menginginkan, jangan sampai menyesatkanmu dari jalan Allah. (38:26)
Untuk Daud (damai padanya) Dia berkata:
Melepaskan hasrat gairah Anda, karena itu adalah menjengkelkan.
Ada juga kisah terkenal Abu Yazid Al-Bistamii (semoga Allah kasihanilah dia). Ketika ia melihat Tuhan Yang Maha Esa dalam mimpi, ia bertanya kepada-Nya: “Bagaimana saya dapat menemukan cara untuk Anda?” Tuhan berkata: “Abaikan diri Anda dan datang ke sini!” Sebagai tanggapan, Saint memberitahu kita: “Aku menumpahkan saya sendiri sebagai sloughs ular dari kulitnya.”
Jadi, semua yang baik terletak pada melancarkan perang total melawan diri dalam semua keadaan. Jika Anda berada dalam keadaan pengabdian benar, karena itu, Anda harus menentang diri dengan tidak terlibat dengan orang, apakah perilaku mereka melanggar hukum, hanya meragukan atau bahkan bermaksud baik, tidak tergantung atau bergantung pada mereka, tidak takut mereka dan tidak menjepit ada harapan pada mereka, dan tidak mengingini apapun keuntungan duniawi mereka dapat menikmati. Jangan meminta hadiah dari mereka dalam bentuk hadiah, dari sedekah atau amal, atau persembahan nazar. Singkirkan semua kepentingan mereka dan dalam masalah materi ke titik di mana, jika Anda memiliki relatif kaya, Anda tidak akan ingin dia mati sehingga Anda dapat mewarisi kekayaannya. Memisahkan diri dari makhluk dalam kesungguhan semua. Menganggap mereka sebagai pintu yang berayun terbuka dan menutup, atau pohon yang kadang berbuah dan pada waktu lain adalah tandus, semua sesuai dengan tindakan seorang Pelaku dan manajemen dari suatu Perencana, yaitu Allah (Agung dan Maha Suci Allah ), sehingga Anda mungkin salah satu yang menegaskan Kesatuan Tuhan.
Pada saat yang sama, namun, kami tidak boleh melupakan peran yang tepat usaha manusia, untuk menghindari berlangganan dengan ajaran fatalistik dari Jabariyya. Percayalah bahwa tidak ada tindakan manusia tercapai tanpa Allah. Jangan menyembah makhluk-Nya dan melupakan Allah, dan tidak mempertahankan bahwa tindakan kita yang independen terhadap Allah, untuk itu akan membuat Anda kafir, pelanggan dengan doktrin ekstrim [bebas-akan dari Qadariyya] .* Anda lebih harus menegaskan bahwa tindakan kita milik Allah dalam titik penciptaan, dan untuk hamba-Nya di titik ‘akuisisi’] kasb [, ini menjadi pernyataan Islam tradisional pada subyek balasan dengan pahala atau hukuman.
Taatilah perintah Allah dalam berurusan dengan sesama makhluk. Jauhkan dari mereka apa yang saham dialokasikan Anda dengan perintah-Nya, tapi jangan melampaui batas ini. keputusan Allah dalam hal ini akan dikenakan pada Anda dan pada mereka, jadi jangan menjadi hakim sendiri. Anda bersama mereka adalah Keputusan takdir, dan takdir yang terselubung dalam kegelapan, sehingga kegelapan yang mengekspos ke Lampu, arti Kitab Allah dan praktik teladan [Sunnah] dari Rasul-Nya (Allah memberkatinya dan memberinya kedamaian). Jangan melangkah keluar kedua. Jika ide beberapa terjadi kepada Anda, atau jika Anda menerima inspirasi, periksa terhadap Kitab dan Sunnah.
Dengan kriteria ini, Anda mungkin menemukan bahwa ide atau gagasan terinspirasi dinyatakan melanggar hukum. Anggaplah, misalnya, Anda telah menerima indikasi untuk berzina, untuk praktek riba, mendampingi dengan karakter bermoral dan tidak bermoral, atau berperilaku dalam beberapa cara lain berdosa. Ini, Anda harus menolak, menolak, menolak untuk menerima dan menahan diri dari bertindak keluar. Jadilah yakin bahwa itu adalah dari setan yang terkutuk.
Mungkin apa yang Anda temukan akan ada lisensi, seperti yang diberikan kepada selera normal untuk makanan, minuman, pakaian atau perkawinan. Ini Anda juga harus menolak dan menolak untuk menerima, mengakui bahwa usulan itu berasal dari diri yang lebih rendah dan cravings hewan, yang Anda berada di bawah perintah untuk menentang dan memerangi.
Bisa juga terjadi bahwa Anda menemukan apa pun di Buku dan Sunnah untuk menunjukkan bahwa apa yang telah terjadi kepada Anda adalah dengan salah satu larangan atau lisensi. Mungkin itu adalah sesuatu yang Anda bingung untuk memahami, seperti dorongan mendorong Anda untuk pergi ke anu tempat untuk bertemu dengan orang baik tertentu, meskipun Anda punya apa-apa untuk mendapatkan sana atau dari orang baik yang bersangkutan, karena Anda kebutuhan sudah diurus melalui pengetahuan dan hikmat Allah telah berikan kepada Anda dengan ramah. Dalam kasus seperti ini, Anda harus berhenti dan tidak bereaksi segera. Alih-alih mengatakan, “Ini merupakan inspirasi dari Kebenaran [al-Haqq] (Agung dan Maha Suci Allah), jadi saya harus bertindak atasnya,” lebih memilih untuk menunggu untuk kepentingan potensi penuh. Kebenaran ilahi bekerja sedemikian rupa sehingga] [inspirasi Ilham akan diperjelas melalui pengulangan, dan Anda akan diberi tahu apa langkah yang harus diambil. Untuk orang dengan [pengetahuan 'ilm] Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia), tanda akan menyatakan dirinya, dimengerti hanya untuk orang-orang kudus pemahaman matang dan dikonfirmasi Abdal.
Alasan untuk tidak terburu-buru untuk bertindak adalah bahwa Anda tidak tahu konsekuensi dan tujuan akhir urusan, maupun jerat dan jebakan itu berisi, dengan cerdik tes yang dibuat oleh Allah. Jadi pasien sampai Dia adalah salah satu bekerja di dalam Anda. Bila tindakan yang benar-benar dilucuti diri, dan Anda ditanggung menuju tujuan itu, Anda akan dilakukan dengan aman melalui persidangan yang masih mungkin Anda hadapi, karena Allah (Maha Suci Allah) tidak akan menghukum Anda untuk melakukan sendiri; hukuman tidak dapat berlaku bagi Anda, kecuali Anda terlibat secara pribadi.
Jika Anda berada dalam keadaan realitas [Haqiqa], yang merupakan keadaan kesucian [] wilaya, Anda harus menentang gairah hidup Anda dan mematuhi perintah-perintah secara keseluruhan. Patuh akan perintahNya adalah dua macam:
Salah satu jenis yang cukup berarti mengambil dari dunia ini untuk memenuhi kebutuhan pribadi asli, meninggalkan kegemaran berlebihan, melaksanakan kewajiban agama, dan membuat upaya untuk menyingkirkan dosa-dosa Anda, baik lahir dan batin.
Jenis kedua adalah kepatuhan kepada perintah batin, salah satu yang dipakai Tuhan Kebenaran (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) perintah atau melarang hamba-Nya untuk melakukan sesuatu. perintah tersebut hanya berlaku dalam lingkup ‘netral’ hal-hal, yang tidak termasuk dalam setiap perintah positif dalam hukum Islam, dalam arti bahwa mereka tidak termasuk ke dalam kategori hal-hal yang dilarang, atau ke kategori hal-hal yang wajib; sejak mereka secara hukum acuh tak acuh, hamba berada di kebebasan untuk menangani mereka sesuai dengan kebijakannya sendiri, mereka disebut [Mubah netral / tidak peduli /] diperbolehkan. Ketimbang mengambil inisiatif apapun di daerah ini, hamba harus menunggu untuk menerima petunjuk, maka taatilah perintahku ketika datang. Dengan demikian ia akan bersama dengan Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) di semua inikah tindakan-Nya, baik dalam gerakan atau istirahat, melalui rasa hormatnya untuk aturan-aturan hukum agama mana mereka menerapkan, dan bahwa perintah batin dalam kasus lain. Pada tahap ini dia benar-benar milik antara ahli [Realita ahl al-Haqiqa].
Dengan tidak adanya perintah ini bahkan batin, tidak ada untuk itu tetapi tindakan spontan dalam keadaan menyerah. Jika Anda berhubungan dengan kebenaran kebenaran, ini adalah keadaan penghapusan [mahw] dan pemusnahan fana ['], keadaan Abdal yang patah hati karena-Nya, keadaan monoteis murni, orang tercerahkan kebijaksanaan, dikaruniai dengan pengetahuan dan kekuatan pemahaman, itu, komandan-di-kepala sipir dan penjaga manusia, yang vicegerents dari Tuhan Yang Maha Pemurah, dan rekan-rekan-Nya dan pembantu dan teman-teman, damai mereka.
Untuk mematuhi perintah dalam hal-hal seperti itu berarti akan melawan diri Anda sendiri, mengosongkan dari setiap kekuasaan atau kekuatan, sama sekali tidak memiliki semua akan dan ambisi untuk apa ini dunia atau akhirat. Anda datang untuk menjadi pelayan Raja, bukan Kerajaan, dari perintah-Nya dan bukan kehendak dan gairah. Kau datang menyerupai seorang bayi pada payudara perawat nya, mayat menerima mencuci ritualnya, pasien berbaring telentang untuk pengobatan oleh dokter, dalam segala hal yang tidak tunduk pada perintah dan larangan [ditetapkan dalam] hukum agama.
Hanya Allah Maha Mengetahui!
WACANA KETIGA BELAS DARI FUTUH AL-GHAIB
Ketika diserahkan kepada perintah Allah
Syaikh (semoga Allah berkenan dengan dia, dan memberinya kepuasan) berkata:
Jangan memaksakan diri untuk menarik kemakmuran atau untuk mencegah kemalangan. Kesejahteraan akan datang kepada Anda jika banyak Anda, apakah Anda mencari untuk mendapatkan atau melihatnya dengan jijik. Nasib sial juga akan menyusul Anda jika dimaksudkan untuk Anda oleh SK takdir itu, apakah Anda akan menolak untuk itu, atau berdoa untuk itu untuk pergi, atau menghadapinya dengan kesabaran dan ketabahan untuk menyenangkan Tuhan.
Satu-satunya resor adalah penyerahan total, memungkinkan proses untuk bekerja dalam diri Anda. Jika pengalaman yang akan membuktikan satu bahagia, Anda harus berusaha untuk menunjukkan rasa terima kasih. Apakah harus siksaan, Anda harus latihan kesabaran dan ketekunan, cobalah untuk menerimanya dengan rahmat yang baik, atau kehilangan diri Anda di dalamnya dan menjadi terpisah berdasarkan negara rohani [] halat Anda diberikan kepada traverse, dan stasiun-stasiun [] manazil untuk yang dibuat untuk perjalanan di jalan Tuhan, yang Anda diperintahkan untuk taat dan bersahabat, yang mungkin Anda bisa bertemu Sahabat Yang Maha Tinggi.
Anda kemudian akan diinstal dalam posisi di mana para pendahulu Anda adalah pejuang kebenaran, para martir dan orang-orang benar, sehingga Anda dapat melihat dengan mata sendiri semua orang yang telah pergi sebelum Anda untuk mencapai Raja, yang telah diambil dekat Dia dan ditemukan di hadirat-Nya setiap kenikmatan yang sangat indah, sukacita dan keamanan, kehormatan dan kebahagiaan.
Mari kesusahan mengunjungi Anda. Memungkinkan untuk mengambil kursus nya, dan jangan khawatir tentang timbulnya dan pendekatan, untuk api yang tidak lebih buruk dari api neraka dan neraka yang menyala-nyala. Menurut tradisi terpercaya dinisbahkan kepada manusia terbaik, yang terbaik dari yang pernah dilakukan oleh bumi dan terlindung oleh langit, Muhammad Yang Terpilih (Allah memberkatinya dan memberinya kedamaian), ia berkata: “Api neraka akan berkata beriman, ‘Teruskan, percaya! cahaya Anda telah memadamkan api saya! ” “
Apakah cahaya orang percaya yang menempatkan keluar api neraka yang lain daripada yang escort dia di dunia, sementara orang-orang berdosa tidak patuh pergi terarah dengan itu? Biarkan cahaya yang sama memadamkan api kemalangan, dan biarkan kesejukan kesabaran Anda dan harmoni Anda dengan Tuhan mengambil panas dari penderitaan Anda harus menjalani. penderitaan kemudian akan datang bukan untuk menghancurkan Anda, tapi Anda dan mencoba untuk mengkonfirmasi kesehatan iman Anda, untuk mengkonsolidasikan kekuatan keyakinan Anda, dan memberikan Anda hati kabar baik dari Tuhanmu bahwa Dia adalah bangga padamu. Allah (Maha Suci Allah) mengatakan:
Sesungguhnya Kami akan menguji kamu sampai Kami tahu orang-orang di antara kamu yang berusaha keras dan bertekun dalam kesabaran, dan sampai Kami menguji catatan Anda. (47:31)
Ketika iman Anda telah dibentuk dengan Tuhan Kebenaran, dan Anda sudah sesuai untuk pekerjaan-Nya dengan penuh keyakinan, semua melalui pertolongan-Nya dan rahmat, Anda kemudian harus pernah sabar, sesuai dan tunduk. Membiarkan apa pun terjadi dalam diri Anda atau orang lain yang bertentangan dengan perintah-perintah atau larangan Tuhan. Kemudian, ketika order diterima dari-Nya (Maha Esa dan Agung adalah Dia), berikan perhatian penuh dan cepat untuk merespon. Dapatkan bergerak dan tidak duduk-duduk. Jauh dari yang pasif mengundurkan diri untuk keputusan ilahi dan perbuatan, Anda harus mengerahkan kemampuan Anda dan melakukan segala upaya untuk menjalankan perintah.
Jika Anda tidak mampu ini, Anda harus segera berlindung dengan Tuhanmu (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia). Resort kepada-Nya dan mohon ampun. Mencari penyebab ketidakmampuan untuk menjalankan perintah-Nya, dan untuk apa menghambat kecenderungan Anda untuk mentaatiNya. Masalahnya mungkin karena meminta Anda untuk masalah dan berperilaku dengan rahmat yang buruk dalam pelayanan-Nya, untuk sikap sembrono dan keyakinan pada kemampuan dan kekuatan sendiri, untuk kebanggaan sombong Anda dalam pengetahuan Anda sendiri, atau Anda menghubungkan diri Anda sendiri dan Nya makhluk dengan-Nya. Akibatnya, Dia telah melarang kamu dari pintu-Nya, Anda diberhentikan dari layanan taat-Nya, Anda kehilangan dukungan dari bimbingan membantu-Nya, berpaling wajah ramah-Nya menjauh dari Anda, memperlakukan Anda dengan jijik dan kebencian, dan meninggalkan Anda asyik dengan Anda kekhawatiran duniawi, nafsu, akan diri dan keinginan.
Apakah Anda tidak menyadari bahwa semua ini mengalihkan perhatian Anda dari tujuan Anda, dan menjaga Anda dari melihat Dia yang telah menciptakan kamu, gizi Anda, memberkati Anda dengan banyak hadiah, dan terus hidup Anda?
Hati-hati yang dialihkan dari Tuhanmu demi selain Tuhanmu. Semuanya selain Tuhanmu adalah selain Dia, sehingga menerima apa-apa lagi di preferensi kepada-Nya, karena Dia telah menciptakan kamu demi-Nya sendiri. Jangan salah jiwa Anda sendiri dengan menjadi sibuk dengan hal-hal lain untuk mengabaikan perintah-perintah-Nya, untuk itu akan menyebabkan Anda untuk memasukkan “Api, yang bahan bakar adalah manusia dan batu” (2:24). Anda akan menyesal, tetapi kesedihan Anda tidak akan sia-sia Anda. Anda akan membuat alasan, tetapi alasan akan diterima. Anda akan membela kesempatan lain, namun permohonan Anda tidak akan diberikan. Anda akan berusaha untuk kembali ke dunia ini untuk menebus kesalahan dan menempatkan hal yang benar, tetapi Anda tidak akan diizinkan untuk kembali.
Kasihanilah jiwa Anda dan semacam itu. Manfaatkan alat dan instrumen Anda telah diberikan, dengan mendedikasikan kecerdasan Anda, iman, kesadaran batin dan pengetahuan untuk melayani Tuhanmu. Biarkan mereka memberikan iluminasi cahaya di tengah kegelapan takdir. Berpegang teguh pada perintah ilahi dan larangan, menggunakannya sebagai pedoman di jalan Tuhanmu, dan membiarkan sisanya untuk penyimpanan yang Satu yang menciptakan kamu dan membawa kamu ke menjadi. Jangan berterima kasih kepada Dia yang menciptakan kamu dari debu dan membuat Anda tumbuh, yang mengembangkan Anda dari sperma menjadi manusia. Tidak menginginkan apa pun kecuali yang Dia perintah, dan tidak punya keengganan kecuali yang Dia melarang. Mari kita berharap ini cukup untuk semua tujuan dunia dan akhirat, dan penghindaran ini juga. Bila Anda sesuai dengan perintah-Nya, semua makhluk berada pada perintah Anda, dan ketika Anda membenci apa yang Dia melarang, segala sesuatu menjijikkan akan lari dari padamu di mana pun Anda berada atau membuat kunjungan Anda. Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) mengatakan dalam salah satu dari Buku-Nya:
Hai anak Adam, aku adalah Allah, tidak ada yang patut disembah selain Aku. Aku katakan kepada sesuatu, “Jadilah,” dan ia datang menjadi ada. Patuhi Aku, Aku akan membuat Anda seperti yang Anda katakan kepada sesuatu, “Jadilah,” dan akan ada.
Dia juga mengatakan (Maha Kuasa dan Agung adalah Dia):
O dunia yang lebih rendah, kalau ada yang melayani Aku, melayani Dia, dan kalau ada yang melayani Anda, memberinya masalah.
Ketika larangan-Nya datang, Anda harus seolah-olah Anda sudah lembek pada sendi, dengan indra Anda keluar dari tindakan, kehabisan energi, secara fisik lumpuh, gairah semua menghabiskan, semua persepsi luar dihapus dan tayangan dihapuskan, tidak menyadari pengaruh, seperti singgasana digulingkan di ruang kosong di sebuah bangunan rusak pada banyak gelap, tanpa sensasi dan tidak berhubungan. Biarkan telinga Anda seakan-akan tuli sejak lahir, Anda mata seolah-olah menutup mata atau meradang atau benar-benar kehilangan penglihatan, Anda bibir seolah-olah ditutupi dengan bengkak dan luka, lidah Anda seakan bisu dan tuli, gigi Anda seolah-olah mereka abscessed dan sakit dan lemas, tangan Anda seolah-olah mereka lumpuh dan tanpa pegangan apapun, kaki dan kaki seolah-olah mereka gemetar dan gemetar dan berdarah, organ genital Anda seolah-olah itu impoten dan tanpa bunga di seks, Anda seolah-olah perut itu adalah kembung dan acuh tak acuh terhadap makanan, pikiran Anda seolah-olah itu gila dan gila, tubuh Anda seolah-olah Anda sudah mati dan yang dibawa ke kuburan Anda.
Perintah panggilan untuk perhatian yang ketat dan respon cepat. larangan Sebuah panggilan untuk menahan diri, takut dan bercerai. Sebuah Keputusan panggilan takdir untuk bertindak mati, untuk menghilang ke non-eksistensi. Minum RUU ini, menelan obat ini dan dipelihara oleh diet ini, sehingga Anda dapat berkembang dalam kesehatan yang baik, dan disembuhkan dari penyakit dosa dan penyakit keinginan, dengan izin Allah (Maha Suci Allah) dan jika Dia menghendaki.
WACANA KEENAM BELAS DARI FUTUH AL-GHAIB
Pada kepercayaan dan tahapan
Syaikh (semoga Allah berkenan dengan dia, dan memberinya kepuasan) berkata:
Tidak ada blok Anda langsung menerima rahmat Allah dan pertolongan kecuali kepercayaan Anda terhadap orang, koneksi, pada berubah baik dan handout. Jadi makhluk hambatan Anda untuk mendapatkan mata pencaharian yang tepat, sesuai dengan praktek teladan Nabi. Selama Anda terus bergantung pada sesama makhluk, berharap untuk hadiah dan nikmat, pergi dari pintu ke pintu dengan permintaan Anda, Anda menghubungkan makhluk-Nya dengan Allah. Karena itu ia akan menghukum Anda dengan perampasan yang mata pencaharian yang tepat, yaitu pendapatan yang sah dari dunia ini.
Kemudian, bila Anda telah meninggalkan kebiasaan tergantung pada orang dan menghubungkan mereka dengan Tuhanmu (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia), dan telah mengambil jalan untuk mendapatkan mata pencaharian sendiri, Anda bisa mengandalkan kekuatan produktif dan menjadi puas tentang hal itu, lupa nikmat karunia dari Tuhanmu. Anda sekali lagi bertingkah seperti seorang politeis [] musyrik, hanya sekarang [politeisme syirik] adalah tersembunyi, bersifat halus daripada jenis sebelumnya. Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) sehingga akan menghukum kamu dengan mencabut Anda dari kebaikan dan akses langsung kepada-Nya.
Ketika Anda berbalik dari ini dalam pertobatan, berhenti untuk memungkinkan perambahan politeisme, dan mengabaikan ketergantungan daya produktif dan kemampuan Anda sendiri, Anda akan melihat bahwa Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) adalah Provider. Dialah yang menyediakan sarana, fasilitas dan energi yang perlu mencari nafkah, dan Dia adalah Satu yang memungkinkan semua hasil yang baik yang akan dicapai. Semua rezeki di tangan-Nya. Pada waktu Dia mungkin suplai kepada Anda dengan cara orang lain, melalui Anda menarik bagi mereka sementara dalam marabahaya atau mencoba selat, atau sebagai respons untuk menarik Anda kepada-Nya (Maha Esa dan Agung adalah Dia), kadang-kadang dengan cara remunerasi yang diterima, dan pada masih kali lain dengan bantuan spontan-Nya, sedemikian rupa sehingga Anda tidak melihat penyebab campur tangan dan berarti.
Anda telah berpaling lagi kepada-Nya, casting diri di hadapan-Nya, dan Dia telah mengangkat tabir antara Anda dan nikmat-Nya. Ia telah membuat diriNya dapat diakses oleh Anda, dan anggun menteri untuk semua kebutuhan Anda dalam ukuran yang sesuai untuk kondisi Anda, bertindak seperti dokter yang baik dan bijaksana yang juga teman pasien. Sebagai tindakan pencegahan pada bagian-Nya, dan untuk membersihkan Anda dari setiap lampiran kepada siapa pun selain Dia, Dia memuaskan Anda dengan kebaikan.
Setelah hati Anda telah terlepas dari semua diri akan, semua nafsu dan kepuasan, keinginan dan keinginan, tidak ada yang tersisa di dalam hati Anda, kecuali kehendak-Nya (Maha Kuasa dan Agung adalah Dia). Jadi, ketika Dia ingin mengirim Anda berbagi dialokasikan Anda (yang Anda terikat untuk menerima dan yang tidak diperuntukkan bagi semua makhluk-Nya terpisah dari Anda), Ia akan menyebabkan keinginan untuk berbagi yang timbul dalam diri Anda, dan akan mengirimkan ke Anda sehingga mencapai Anda ketika Anda membutuhkannya. Kemudian Dia akan membantu Anda untuk mengenali bahwa ia datang dari-Nya dan mengakui-Nya dengan rasa syukur sadar sebagai pengirim dan pemasok dari apa yang Anda terima. Saat ini menggerakkan Anda lebih jauh dari keterikatan dengan makhluk, dari keterlibatan dengan orang, Anda batin dikosongkan dari semua selain Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia).
Kemudian, ketika pengetahuan dan keyakinan telah difortifikasi, ketika perasaan Anda telah diperluas dan hati Anda telah tercerahkan, dan kedekatan kepada Tuhanmu dan berdiri Anda di mata-Nya telah demikian meningkat, serta kompetensi Anda untuk menjaga rahasia, Anda akan diijinkan untuk tahu terlebih dahulu bila Anda untuk menerima bagian yang diberikan Anda. hak istimewa ini akan diberikan untuk menghormati Anda, untuk meninggikan martabat Anda, sebagai nikmat ramah dan bimbingan dari-Nya. Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) mengatakan:
Dan Kami jadikan dari antara mereka para pemimpin membimbing dengan perintah Kami, ketika mereka bertahan dengan sabar, dan memiliki iman yakin dalam ayat-ayat Kami. (32:24)
Allah (Maha Suci Allah) juga mengatakan:
Adapun orang-orang yang berjihad di jalan Kami, Kami pasti membimbing mereka dengan cara kami. (29:69)
Dan Yang Maha Esa mengatakan:
Bertakwalah kepada Allah. Allah akan mengajar Anda. (2:282)
Kemudian Dia akan berinvestasi Anda dengan daya kreatif, yang mungkin Anda latihan dengan izin yang jelas dan tidak ambigu, dengan token brilian sebagai matahari bersinar, dengan kata-kata manis-Nya jauh lebih manis dari manis semua, dengan inspirasi yang benar dan tegas, tidak ternoda oleh bisikan-bisikan dari diri dan bisikan-bisikan setan yang terkutuk. Allah (Maha Suci Allah) mengatakan di salah satu tulisan suci-Nya:
Hai anak Adam, aku adalah Allah. Tidak ada patut disembah tapi aku sendirian. Aku katakan kepada sesuatu, “Jadilah,” dan ia datang menjadi ada. Patuhi Aku dan Aku akan membuat Anda seperti yang Anda katakan kepada sesuatu, “Jadilah,” dan itu akan terwujud.
Jadi Dia telah menangani banyak nabi-Nya, orang-orang kudus-Nya, dan favorit khusus-Nya di antara anak-anak Adam.
WACANA KETUJUHBELAS DARI FUTUH AL-GHAIB
Bagaimana menghubungi wusul kepada Allah dicapai
Syaikh (semoga Allah berkenan dengan dia, dan memberinya kepuasan) berkata:
Ketika Anda mencapai kontak dengan Allah dan dekat kepada-Nya melalui daya tarik-Nya dan bimbingan-Nya membantu apa yang dimaksud dengan mencapai kontak dengan Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) adalah bahwa Anda membuat Anda keluar dari lingkup penciptaan, dari gairah dan akan dan keinginan, dan menjadi aman terkait dengan tindakan-Nya, sehingga tidak ada pergerakan Anda mempengaruhi baik Anda atau ciptaan-Nya kecuali dengan keputusan-Nya, pada perintah-Nya dan melalui tindakan-Nya ini adalah keadaan fana peniadaan ['], yang istilah lain untuk kontak tersebut. Namun mencapai ke kontak dengan Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) tidak seperti apa yang biasa kita mengerti dengan membuat kontak dengan salah satu makhluk-Nya.
Tidak ada seperti kepada-Nya, dan Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (42:11)
Sang Pencipta jauh di atas dibandingkan dengan makhluk-Nya atau analogi dengan artifak-Nya. Ketika seseorang mencapai ke kontak dengan-Nya (Maha Esa dan Agung adalah Dia), bahwa orang menjadi dikenal, melalui pengenalan-Nya, kepada orang lain yang telah mengalami kontak. Dalam setiap kasus pengalaman yang unik dan khas untuk individu yang bersangkutan.
Dengan masing-masing rasul-rasul-Nya, Nabi dan Awliya, Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) saham rahasia yang tidak ada orang lain jamban. Bahkan mungkin bahwa murid memegang rahasia dengan yang itu Syaikh tidak mengenal, seperti Syaikh dapat memegang rahasia yang tidak diketahui seorang murid yang kemajuan membawanya ke ambang yang sangat dari Syaikh keadaan rohaninya.
Bila murid tidak mencapai keadaan rohani-nya Syaikh, ia terpisah dari Syaikh dan hubungannya dengan dia terputus. Kebenaran Tuhan (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) menjadi walinya, dan weans dia dari makhluk sama sekali. Oleh karena itu Syaikh seperti perawat basah. Sama seperti menyusui ibu-angkat itu tidak berlanjut lebih dari dua tahun, ketergantungan pada makhluk tidak hidup lebih lama dr penghentian gairah dan akan diri. Syaikh diperlukan selama gairah dan self-akan masih ada untuk dilanggar, tapi tidak setelah ini telah dimusnahkan, tanpa meninggalkan noda atau cela.
Bila Anda telah mencapai ke kontak dengan Kebenaran Tuhan (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) dalam cara kita telah menjelaskan, Anda harus selalu merasa aman dari apa pun selain Dia, karena Anda tidak akan melihat apapun selain Dia sebagai memiliki keberadaan apapun sama sekali. Apakah rugi atau laba, dalam memberikan atau menahan, dalam ketakutan atau harapan, Anda hanya akan melihat Dia (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia), yang layak pengabdian yang saleh dan pantas untuk memohon maaf. Karena itu Anda harus selalu waspada terhadap tindakan-Nya, siap untuk perintah-Nya, yang bekerja di layanan taat Nya, menjauhkan diri dari semua duniawi atau makhluk dunia lain ciptaan-Nya. Jangan memasang hati untuk setiap jenis makhluk.
Menganggap seluruh alam semesta diciptakan sebagai orang yang telah bertepuk tangan di besi oleh penguasa otoritas yang luas dan perintah tegas, yang mungkin menakutkan dan kekuasaan. Beliau memiliki orang dibelenggu oleh leher dan kaki, kemudian menyalibnya di pohon aras di tepi sebuah sungai yang sangat bergejolak, dengan lebar besar dan mendalam dan dengan arus cepat. Sekarang penguasa duduk di atas takhta kolosal, yang menara tinggi di luar jangkauan. Ditumpuk di sisinya adalah tumpukan panah, tombak, busur dan anak panah dan segala macam senjata, dalam jumlah yang hanya bisa memperkirakan. Dia mulai melempari korban disalibkan dengan apa pun dari senjata yang naksir … Well, saya bertanya: Apakah ini masuk akal baik untuk orang menyaksikan semua ini untuk menghentikan memperhatikan penguasa sebagai fokus dari ketakutan dan harapan, dan mengarahkan perhatiannya, dengan semua ketakutan dan harapan, menuju disalibkan korban saja? Tentu putusan yang masuk akal pada seseorang yang bertindak seperti itu akan memanggilnya cacat mental, idiot, gila, binatang lebih dari manusia?
Kami berlindung kepada Allah dari kebutaan setelah melihat, dari pemisahan setelah kontak, dari keterasingan setelah kedekatan dan jarak, dari kesalahan setelah bimbingan, dan dari kekafiran setelah iman yang benar.
Dunia ini adalah seperti sungai yang mengalir besar cepat-sebut di atas. Setiap hari ia membawa lebih banyak air, simbol dari nafsu manusia duniawi, kegemaran mereka terhadap selera, dan bencana yang menimpa mereka sebagai akibat. Adapun panah dan berbagai macam senjata, ini merupakan cobaan yang membawa nasib jalan mereka. Untuk sebagian besar, apa pengalaman manusia di dunia ini adalah serangkaian kemalangan dan kesengsaraan, penderitaan dan kemalangan. Setiap kenyamanan dan kesenangan mereka kebetulan menemukan ada tunduk pada kontaminan berbahaya.
Pelajaran yang ditarik dari ini oleh pengamat harus cerdas bahwa dia tidak memiliki kehidupan nyata atau relaksasi kecuali di akhirat-asalkan ia adalah mukmin [mukmin] karena ini berlaku khusus bagi orang yang beriman. Sebagai Nabi (Allah memberkatinya dan memberinya kedamaian) berkata: “Tidak ada kehidupan kecuali kehidupan akhirat.” Dia juga mengatakan: “Tidak ada kenyamanan bagi orang percaya pertemuan ini sisi Tuhannya.” Ini memiliki relevansi bagi orang percaya, seperti yang lain perkataan-Nya (Allah memberkatinya dan memberinya kedamaian): “Dunia ini adalah penjara mukmin dan surga orang kafir itu.” Dia juga berkata: “Orang saleh adalah dikekang.”
Dalam cahaya dari semua tradisi dan pengalaman langsung kita sendiri, bagaimana bisa kasus dibuat dalam mendukung kehidupan di dunia ini? Kenyamanan hanya benar terletak pada kontak eksklusif dengan Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia), untuk menjadi dalam harmoni dengan-Nya, dan di casting ke dalam penyerahan diri mutlak di hadapan-Nya. Ini adalah bagaimana hamba dapat menemukan kebebasan dari dunia ini, untuk berjemur sejak itu dalam kasih sayang dan rahmat, kebaikan dan amal dan mendukung ramah.
Hanya Allah Maha Mengetahui!
WACANA KEDELAPAN BELAS DARI FUTUH AL-GHAIB
Pada tidak mengeluh
Syaikh (semoga Allah berkenan dengan dia, dan memberinya kepuasan) berkata:
Saya beri Anda sepotong saran: Jangan pernah mengeluh kepada siapa pun tentang keberuntungan Anda, apakah ia menjadi teman atau musuh, dan jangan menuduh Tuhan (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) memperlakukan Anda dengan buruk dan membuat Anda menderita malapetaka. Anda bukan harus mewartakan berkat Anda dan syukur Anda. Lebih baik bahkan untuk berbohong dengan mengungkapkan rasa syukur untuk menguntungkan Anda belum menerima, daripada negara fakta gamblang situasi Anda jujur tetapi sebagai keluhan. Siapa yang benar-benar tanpa anugerah Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia)? Allah (Maha Suci Allah) mengatakan:
Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, Anda tidak akan menjumlahkan semuanya. (16:18)
Berapa banyak berkat Anda menikmati tanpa mengakui mereka atas apa yang mereka! Jangan puas hanya sebagai makhluk apapun kepercayaan Anda dan teman intim, dan memberitahukan kepada siapapun tentang masalah Anda. Hal ini lebih dengan Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) yang Anda harus dengan persyaratan intim dan rahasia, dan setiap keluhan Anda harus mengenai Dia, dan ditujukan kepada-Nya. Tidak mengakui pihak lain, untuk tidak memiliki kekuatan untuk membawa anda rugi atau keuntungan, pendapatan atau pengeluaran, kehormatan atau aib, promosi atau demosi, kemiskinan atau kekayaan, gerakan atau beristirahat. Segala sesuatu adalah ciptaan Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia). Mereka berada di tangan Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) dan cara mereka fungsi pada perintah-Nya dan dengan izin-Nya. Setiap program yang berjalan sampai waktu yang ditentukan, dan segala sesuatu diatur oleh-Nya. Tidak ada kemajuan apa yang telah Dia ditunda, dan tidak meletakkan kembali apa yang telah Dia dibawa ke kedepan. Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) mengatakan:
Jika Allah menimpa Anda dengan merugikan beberapa, tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia; dan jika Dia ada keinginan baik untuk Anda, tidak dapat menolak karunia-Nya. Dia menyebabkannya mencapai siapapun Dia akan hamba-Nya. Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (10:107)
Jika Anda mengeluh tentang Dia (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) sementara Anda berada dalam kesehatan yang baik dan sudah menikmati berkat, hanya ingin mendapatkan lebih banyak dan menutup mata Anda benci untuk keuntungan dan kesejahteraan yang diterima dari-Nya, Dia akan marah dengan Anda dan mencabut Anda dari keduanya. Dia akan memberikan sesuatu yang nyata untuk mengeluh tentang, penggandaan masalah Anda, mengintensifkan siksa dan kejijikan dan kebencian Anda harus menderita, dan casting Anda turun dari melihat-Nya.
Anda harus sangat berhati-hati mengeluh, bahkan jika Anda sedang membedah dan memiliki daging dipotong sendiri pergi dengan gunting. Hati-hati, berhati-hatilah, dan sekali lagi berhati-hatilah! Allah, Allah, dan sekali lagi Allah! Escape, lolos! Berhati-hatilah, berhati-hatilah!
Kebanyakan dari berbagai bencana yang menimpa makhluk adalah manusia karena keluhan nya terhadap Tuhannya (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia). Bagaimana seseorang mempunyai keluhan apapun terhadap-Nya, padahal Dia adalah Maha Penyayang di antara berbelas kasih, yang Terbaik dari semua hakim, Bijaksana lagi Maha Mengetahui, Maha Pemurah, Penyayang, padahal Dia adalah Jenis untuk hamba-Nya dan tidak seorang budak master-kejam; ketika Dia seperti dokter, keluarga simpatik bijaksana dan baik hati?
Apakah Anda menemukan kesalahan seorang ibu lembut hati? Nabi (Allah memberkatinya dan memberinya kedamaian) berkata: “Allah lebih penyayang terhadap hamba-Nya dari seorang ibu terhadap anaknya.”
Jadilah pada perilaku Anda yang terbaik, Anda miskin celaka! Bertahan dalam menghadapi malapetaka, bahkan jika Anda tidak mampu kesabaran. Maka bersabarlah bahkan jika Anda tidak mampu sesuai dengan rahmat yang baik. Kemudian sesuai dengan rahmat yang baik jika Anda berada di sana dapat ditemukan. Kemudian tidak ada lagi jika Anda tak bisa ditemukan. O batu filsuf, di mana kau, di mana Anda dapat ditemukan dan dilihat? Apakah Anda tidak mengindahkan kata-kata-Nya (Maha Kuasa dan Agung adalah Dia):
Memerangi Diwajibkan atas kamu, meskipun akan kebencian kepada Anda. Tapi mungkin terjadi bahwa Anda membenci sesuatu yang baik bagi Anda, dan mungkin terjadi bahwa Anda mencintai sesuatu yang buruk bagi Anda. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (2:216)
Pengetahuan tentang realitas hal-hal yang telah disimpan dari Anda di bawah wraps, dan Anda telah disimpan dari balik layar. Jadi, jangan berbuat jahat diri sendiri, apa pun yang Anda suka atau tidak suka. Ikuti hukum agama apa pun yang mungkin menimpa Anda, jika Anda berada dalam keadaan kesalehan [] taqwa yang merupakan langkah pertama. Ikuti perintah langsung, tanpa melebihi mereka, jika Anda di negara bagian konsekrasi [wilaya] dan kepunahan [keinginan khumud wujud] al-hawa, yang merupakan langkah kedua. Menyelaraskan dengan senang hati dengan tindakan ilahi dan menjadi benar-benar diserap di negara bagian Badaliyya, Ghawthiyya, Qutbiyya dan Siddiqiyya, yang merupakan tahap akhir.
Berdiri jelas jalan takdir itu; keluar dari jalan. Menyerah diri dan keinginan. Jaga lidah Anda dari mengeluh. Asalkan Anda melakukan ini, maka jika apa yang dimaksudkan untuk Anda yang baik, Tuhan akan memberikan Anda kesenangan ekstra, kebahagiaan dan kegembiraan, dan jika buruk, Dia akan membuat Anda aman di layanan taat-Nya ketika menjalankan program tersebut. Dia akan membebaskan Anda dari menyalahkan, dan membuat Anda tidak terpengaruh saat itu berlangsung, sampai ke mana-mana dan menjadi sesuatu dari masa lalu sebagai malam berakhir dengan fajar hari, dan dinginnya musim dingin mengambil cuti ketika musim panas datang. Berikut adalah contoh untuk Anda, jadi perhatikan baik moral.
Ada begitu banyak dosa dan kesalahan dan kemarahan, begitu banyak jenis pelanggaran dan kesalahan yang menyebabkan pencemaran.
Untuk menjadi layak dari perusahaan Tuhan Noble, seseorang harus dibersihkan dari kotoran, dosa dan kegagalan. Tidak ada yang diberikan penonton di pengadilan-Nya, kecuali dia adalah unstained oleh kotoran pretentiousness dan kepuasan akan diri sendiri, seperti tidak ada yang cocok untuk perusahaan raja tanpa dibersihkan dari semua kotoran dan segala macam bau dan kotoran. Kemalangan memiliki efek silih dan mencuci. Sebagai Nabi (Allah memberkatinya dan memberinya kedamaian), jadi jujur berkata: “Suatu hari demam adalah pendamaian untuk [tahun] dosa.”
DUA PULUH DUA WACANA DARI FUTUH AL-GHAIB
Pada pengujian iman orang percaya
Syaikh (semoga Allah berkenan dengan dia, dan memberinya kepuasan) berkata:
Allah selalu menguji hamba-Nya yang beriman dalam proporsi akan imannya. Jadi jika iman seseorang sangat besar dan terus meningkat, pengadilan akan menjadi besar juga. Persidangan rasul lebih besar daripada seorang nabi, karena imannya lebih besar. Persidangan seorang nabi adalah lebih besar dibanding Badal, dan persidangan suatu Badal lebih besar dibanding Wali. Setiap mencoba sesuai dengan iman dan kepastian, atas dasar nasihat ini Nabi (Allah memberkatinya dan memberinya kedamaian): “Kami, Komunitas nabi, adalah orang-orang paling parah mencoba, kemudian orang lain sesuai dengan kesempurnaan iman mereka. “
Allah (Maha Suci Allah) subyek ini empu terhormat untuk pengujian tak henti-hentinya, sehingga mereka akan selalu berada di hadirat-Nya dan tidak pernah bersantai kewaspadaan mereka, karena Ia mengasihi mereka. Mereka adalah orang-orang cinta, yang mengasihi Tuhan Kebenaran, dan kekasih tidak pernah suka berada jauh dari yang tercinta. Penderitaan berfungsi sebagai penjepit untuk hati mereka dan jebakan untuk sifat-sifat egois mereka, memeriksa kecenderungan mereka untuk menyimpang dari tujuan sebenarnya mereka dan menempatkan kepercayaan mereka dan kepercayaan orang lain daripada Pencipta mereka.
Karena ini menjadi kondisi permanen bagi mereka, nafsu mereka meleleh, diri mereka yang rusak, dan kebenaran dibedakan dari dusta. Kemudian cravings, keinginan yang disengaja, dan nafsu makan untuk kesenangan dan kenyamanan di dunia dan akhirat, semua menarik kembali ke ranah diri, sementara terhadap lingkup dari hati timbul kepercayaan dalam janji Tuhan Kebenaran (Maha Kuasa dan Agung adalah Dia), penerimaan ceria keputusan-Nya, kepuasan dengan karunia-Nya, daya tahan penderita cobaan-Nya, dan perasaan aman dari kejahatan makhluk-Nya. Jadi kekuatan jantung diperkuat, dan memperoleh kontrol atas semua anggota badan dan organ-organ tubuh. Kesengsaraan membentengi jantung dan kepastian, memverifikasi iman dan kesabaran, dan melemahkan diri dan nafsu, karena setiap kali penderitaan datang, dan apa bertemu dengan di percaya adalah kesabaran, penerimaan ceria, dan menyerah pada tindakan Tuhan (Maha Kuasa dan Agung adalah Dia), Tuhan Ta’ala senang dengan dia dan mengucapkan terima kasih. Lalu ia juga menerima bantuan, berkat tambahan dan kesuksesan. Allah (Maha Suci Allah) mengatakan:
Jika Anda bersyukur, Aku akan memberi Anda lebih banyak. (14:7)
Ketika diri pindah ke diterapkan pada] hati [qalb untuk kepuasan dari beberapa nafsu duniawi atau kesenangan dalam kesenangan, dan hati setuju untuk permintaan ini tanpa persetujuan dan izin dari Allah (Maha Suci Allah), hasilnya adalah mengabaikan untuk Kebenaran Tuhan, politeisme dan pemberontakan berdosa. Allah (Maha Suci Allah) sehingga akan menghukum mereka berdua kekecewaan, masalah, tunduk kepada orang lain, sakit dan penyakit, cedera dan gangguan. Baik hati dan diri akan mendapatkan bagian ini.
Jika jantung tidak akan memberikan diri apa yang diinginkan, namun, sampai menerima izin dari Tuhan Kebenaran (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) melalui [inspirasi Ilham] dalam kasus Santo, atau wahyu eksplisit [wahy] dalam kasus dari Utusan dan nabi (berkat dan damai sejahtera kepada mereka) dan bertindak sesuai dalam memberikan atau menahan, maka Allah imbalan mereka berdua dengan rahmat dan berkat, kesejahteraan dan kepuasan, ringan dan kearifan, kedekatan dengan diri-Nya, kemakmuran, keamanan dari bencana dan membantu melawan musuh.
Ini, Anda harus tahu dan ingat dengan baik! Bersiaplah untuk masalah jika Anda bergegas untuk menanggapi diri dan semangat! Jauh lebih baik untuk berhenti sejenak dalam kasus-kasus seperti itu, dan menunggu persetujuan Tuhan (Agung adalah Mulia), sehingga Anda dapat tetap aman di dunia dan akhirat, jika Allah (Maha Suci Allah) berkehendak.
WACANA DUA PULUH TIGA FUTUH AL-GHAIB
Pada banyak kepuasan dengan seseorang dari Allah
Syaikh (semoga Allah berkenan dengan dia, dan memberinya kepuasan) berkata:
Puas dengan keadaan susah dan sabar di dalamnya, sampai keputusan takdir berakhir dan Anda dipromosikan ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih halus. Di sana Anda akan dibuat nyaman dipasang dan aman, tidak masalah duniawi atau dunia lain, tidak ada penganiayaan atau pelecehan. Kemudian Anda akan kemajuan luar tahap ini untuk sesuatu yang lebih menyenangkan dan sehat.
Ketahuilah bahwa berbagi ditunjuk Anda tidak akan hilang kepada Anda karena Anda menyerah mengejar setelah itu, sama seperti Anda tidak akan pernah mendapatkan apa yang tidak berbagi, untuk semua mencari serakah, usaha dan tenaga. Bersabar, karena itu, dan mengundurkan diri diri Anda untuk menerima situasi sekarang Anda. Ambil apa-apa dan memberikan apa-apa sendiri kecuali dan sampai Anda memerintahkan untuk melakukannya. Baik bergerak maupun diam atas kemauan sendiri, jika tidak, anda harus menanggung penderitaan bukan hanya Anda sendiri, tetapi makhluk yang lebih buruk dari Anda. Hal ini karena Anda salah bersikap seperti itu, dan pelaku-yang salah tidak diabaikan. Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) mengatakan:
Demikianlah Kami membiarkan beberapa-orang yang lalim memiliki kekuasaan atas orang lain. (6:129)
Anda bahkan di rumah seorang Raja yang perintah yang luas, yang kekuatannya sangat besar, tentara yang sangat luas, yang akan efektif, otoritas yang tak tertahankan, kerajaan yang abadi, yang kedaulatan adalah abadi, yang pengetahuan tepat, yang memiliki kebijaksanaan yang mendalam dan penilaian yang adil. Tidak zarah di bumi atau di langit dimengerti-Nya, juga tidak salah dari pelaku-salah melarikan diri pemberitahuan-Nya. Anda adalah salah-cumi terbesar dan pelaku terburuk, karena Anda telah membuat pasangan kepada-Nya (Maha Esa dan Agung adalah Dia) oleh perilaku Anda degil dalam berurusan dengan diri sendiri dan ciptaan-Nya. Allah (Maha Suci Allah) mengatakan:
Menganggap tidak menyekutukan Allah; mitra ascribing kepada-Nya adalah salah besar. (31:13)
Dia juga mengatakan (Maha Suci Allah):
Allah tidak memaafkan bahwa setiap mitra harus berasal kepada-Nya; kurang dari bahwa Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki. (4:116)
Sangat berhati-hati dalam berhubungan apa pun dengan Allah; tidak datang di dekat itu. Hindari dalam semua perilaku Anda, baik aktif dan pasif, pada malam hari, di swasta dan di depan umum. Waspadalah terhadap ketidaktaatan sama sekali, di kaki Anda dan organ serta dalam hati Anda. Meninggalkan semua dosa, baik lahir dan batin. Jangan lari dari-Nya (Maha Esa dan Agung adalah Dia), karena Ia akan menyusul Anda. Jangan bertengkar dengan-Nya atas keputusan-Nya, Dia akan menghancurkan Anda. Tidak mempertanyakan kebijaksanaan penghakiman-Nya, Dia akan membuat Anda malu. Jangan memperlakukan Dia tak acuh; Dia akan membawa Anda ke indera Anda dan menempatkan Anda untuk menguji. Jangan mulai inovasi di rumah-Nya; Dia akan menghancurkan Anda. Jangan berbicara tentang agama-Nya sesuai dengan kehendak sendiri; Dia akan menghancurkan Anda dan gelap hati Anda, merampok Anda dari iman dan pengertian Anda, dan membuat Anda tunduk pada setan, menurunkan diri Anda, nafsu dan keinginan Anda, keluarga Anda, Anda tetangga, teman Anda, teman-teman Anda dan semua sisa makhluk-Nya, bahkan kalajengking domestik Anda, ular, jin dan hewan liar lainnya. Jadi Dia akan marah hidup Anda di dunia ini dan memperpanjang hukuman Anda di akhirat.
WACANA TIGA PULUH DARI FUTUH AL-GHAIB
Pada cinta tidak salah berbagi tentang Allah
Syaikh (semoga Allah berkenan dengan dia, dan memberinya kepuasan) berkata:
Anda jadi sering berkata: “Tidak peduli siapa atau apa yang saya cinta, cinta saya tidak berlangsung lama. Sesuatu yang selalu datang di antara kami, baik melalui ketiadaan atau kematian atau permusuhan, atau, dalam kasus obyek material, melalui kerusakan atau kerugian.” Well, ini bisa dikatakan kepada Anda: Apakah Anda tidak tahu, ya dicintai Tuhan Kebenaran, jadi merawat dan dirawat, begitu iri melihat dan dijaga, kau tidak tahu bahwa Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) adalah cemburu ? Dia telah menciptakan kamu untuk diri-Nya, dan Anda kerinduan untuk milik seseorang yang lain daripada-Nya! Apakah kamu tidak mendengar kata-Nya (Maha Kuasa dan Agung adalah Dia):
Dia mengasihi mereka dan mereka mencintai-Nya? (5:54)
dan kata-Nya (Maha Suci Allah):
Aku menciptakan jin dan manusia hanya supaya mereka menyembah-Ku. (51:56)
Apakah kamu tidak mendengar perkataan Rasulullah (Allah memberkatinya dan memberinya kedamaian): “Ketika Allah mencintai seorang hamba, Dia menempatkan dirinya melalui sidang pengadilan, dan jika dia sabar, Dia membuatnya sendiri.” Ketika seseorang bertanya: “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan” Dia membuatnya sendiri ‘? ” ia menjawab: “Dia meninggalkan dia baik kekayaan maupun anak-anak.” Hal ini karena jika dia memiliki kekayaan dan anak-anak dia akan mencintai mereka, dan cintanya kepada Tuhannya akan berkurang dan terfragmentasi, karena akan dibagi antara Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) dan lain-lain. Tetapi Allah (Maha Suci Allah) tidak akan menoleransi mitra, karena Ia adalah cemburu, yang berlaku atas segala sesuatu dan dominan atas segala sesuatu. Karena itu ia menghancurkan dan annihilates Nya ‘mitra’, sehingga hati hamba-Nya akan Nya dan Nya saja, tanpa lain untuk berbagi. Kebenaran kata-kata-Nya (Maha Kuasa dan Agung adalah Dia), “Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya,” sekarang dikonfirmasi.
Jantung akhirnya dibersihkan dari semua mitra dan pesaing, seperti istri, harta dan anak-anak, kesenangan sensual dan ketagihan, dan ambisius mengejar posisi otoritas dan kepemimpinan, kekuatan karismatik dan spiritual menyatakan, tahapan dan stasiun, taman-taman surga dan derajat, kedekatan dan kemajuan. Karena tidak akan atau keinginan tetap dalam hati, ia menjadi seperti kapal pecah yang cair tidak dapat ditampung, karena rusak melalui kerja Allah. Setiap kali setiap diri akan muncul di sana, hancur oleh tindakan Allah dan cemburu-Nya. Kemudian sekelilingnya yang bernada tenda yang bermartabat dan mungkin dan kekaguman, dan di depan mereka digali parit dari keagungan dan kekuasaan, sehingga tidak ada keinginan sengaja untuk apa pun bisa mendapatkan akses ke jantung.
Sekarang jantung tidak dapat lagi dirugikan dengan cara apapun, bukan oleh kekayaan, tidak oleh anak-anak, keluarga dan teman-teman, atau belum oleh karunia karismatis, kebijaksanaan, pengetahuan dan tindakan kesalehan. Karena semua ini akan tetap berada di luar hati, ia tidak akan merangsang kecemburuan Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia). Ini bukan akan menjadi suatu tanda kehormatan dan jenis yang nikmat dari Allah kepada hamba-Nya, dan menjadi berkat, penyediaan dan manfaat yang berguna bagi mereka yang datang kepadanya, karena mereka akan dihormati oleh itu, dan menerima rahmat, dan karena ini karunia rahmat mereka akan menikmati perlindungan dari Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia). Karena itu ia akan menjadi penjaga bagi mereka, sayap pelindung, tempat berlindung dan syafaat di dunia dan akhirat.
Pada Allah tidak membenci
Syaikh (semoga Allah berkenan dengan dia, dan memberinya kepuasan) berkata:
Seberapa besar kebencian Anda terhadap Tuhanmu, kecurigaan Anda tentang Dia (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) dan perlawanan Anda kepada-Nya. Seberapa sering Anda atribut ketidakadilan kepada-Nya (Maha Esa dan Agung adalah Dia), dan biaya-Nya dengan keterlambatan penyediaan makanan dan kecukupan dan dalam menghilangkan kesulitan dan kesengsaraan. Apakah Anda tidak tahu bahwa setiap istilah memiliki durasi yang ditentukan, dan bahwa untuk setiap peningkatan dalam kesulitan dan duka ada akhir, pemutusan hubungan kerja dan kesimpulan, yang tidak dapat dibawa ke depan atau ditangguhkan? [Sampai mereka telah menjalankan program yang ditentukan mereka, karena itu] kali percobaan tidak berubah dan berubah menjadi kondisi kesejahteraan, waktu kemalangan tidak berubah menjadi kemakmuran, dan keadaan kemiskinan tidak diubah menjadi kemakmuran.
Jadilah yg berkelakuan baik, kesabaran praktek, kepuasan dan selaras dengan Tuhanmu (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia), dan bertobat untuk kebencian Anda terhadap-Nya dan kecurigaan Anda kepada-Nya di mana tindakan-Nya yang bersangkutan. Di hadapan Tuhan tidak ada ruang untuk menuntut pembayaran penuh dan tidak rewel balas dendam di mana ada tersinggung, bukan untuk jalan ke insting alam, seperti yang biasa dalam hubungan timbal balik antara hamba-Nya. Dia (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) adalah benar-benar sendirian dari kekekalan, sudah ada sebelum segala sesuatu. Dia menciptakan mereka, dan Dia menciptakan manfaat dan kelemahannya. Dia tahu awal mereka, akhirnya mereka dan kepuasan mereka. Dia (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) adalah bijaksana dalam kerja-Nya dan yakin dalam keahlian-Nya. Tidak ada ketidakkonsistenan dalam apa Dia. Dia tidak sia-sia dan menciptakan apa-apa sebagai permainan sia-sia. Tidak ada pertanyaan mengkritik atau mencela-Nya untuk perbuatan-Nya.
Karena itu harus menunggu bantuan, jika Anda terlalu lemah untuk mematuhi-Nya dan untuk tunduk kepada tindakan-Nya dengan senang hati, sampai keputusan nasib berakhir. Kemudian situasi akan menghasilkan untuk berlawanan dengan berlalunya waktu dan penyempurnaan dari jalannya peristiwa, seperti musim dingin menjalankan program dan hasil untuk musim panas, dan malam datang ke akhir dan hasil ke hari. Jika Anda meminta terang hari antara dua jam pertama dari malam, itu tidak akan diberikan kepada Anda. Memang, malam itu akan mendapatkan bahkan lebih gelap, sampai kegelapan mencapai puncaknya, istirahat fajar dan hari kemudian datang dengan cahayanya, apakah Anda meminta ini dan ingin itu, atau mengatakan apa-apa dan bahkan benci. Jika Anda sekarang meminta malam yang akan dibawa kembali, permintaan Anda akan terjawab dan Anda tidak akan mendapatkan apa yang Anda inginkan, karena kamu telah meminta sesuatu pada saat yang salah dan waktu. Karena itu akan ditinggalkan menyesal, kehilangan, kesal dan kecewa. Jadi berikan semua ini dan kepatuhan praktik, berpikir baik tentang Tuhanmu (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia), dan kesabaran anggun. Untuk apa yang Anda tidak akan direbut dari Anda, dan apa yang tidak Anda tidak akan diberikan kepada Anda. Demi Aku yang hidup, Anda berdoa dan membuat permohonan kepada Tuhanmu (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia), penawaran permohonan sederhana sebagai tindakan pemujaan dan ketaatan sesuai dengan perintah-Nya (Maha Suci Allah): “Serulah Aku dan Aku akan menjawab Anda “(40:60), dan kata-kata-Nya (Maha Suci Allah):” Mintalah kepada Allah dari karunia-Nya “(4:32), serta ayat-ayat lain dan tradisi. Anda berdoa, dan Dia akan menjawab Anda pada saat yang tepat dan waktu yang ditentukan, ketika Dia kehendaki, saat itu adalah untuk keuntungan Anda di dunia dan akhirat, dan ketika itu bertepatan dengan keputusan-Nya dan akhir jangka ditetapkan oleh-Nya.
Jangan menjadi curiga pada-Nya ketika Dia keterlambatan respon, dan tidak lelah membuat permohonan kepada-Nya, untuk sementara Anda mungkin tidak memperoleh, kau juga tidak kalah. Jika Dia tidak merespon anda segera, Dia memberi balasan Anda nanti. Menurut tradisi otentik, Nabi (Allah memberkatinya dan memberinya kedamaian) berkata: “Pada hari kiamat hamba akan lihat dalam catatan-nya beberapa perbuatan baik yang dia tidak mengakui. Dia kemudian akan diberitahu bahwa ini adalah kompensasi untuk permintaan dia dibuat di dunia ini, tetapi yang tidak ditakdirkan untuk dipenuhi di dalamnya, “atau sesuatu seperti itu. Kalau begitu, setidaknya negara-negara rohani Anda adalah bahwa Anda harus mengingat Tuhanmu (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia), menegaskan Keesaan-Nya, karena alamat Anda permohonan Anda kepada-Nya dan tidak lain daripada-Nya, dan tidak menyerahkan Anda perlu orang lain selain-Nya (Maha Suci Allah). Anda berada di salah satu atau yang lain dari dua kondisi di sepanjang waktu, dengan malam dan siang hari, di bidang kesehatan dan dalam keadaan sakit, dalam kesulitan dan kemakmuran, dalam kesulitan dan kemudahan:
1. Anda menahan diri dari meminta, dengan senang hati menerima keputusan takdir, mendamaikan diri sendiri dan pergi bersama-sama dengan tindakan-Nya (Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) dengan cara yang santai, seperti mayat di depan mesin cuci ritual orang mati, seperti babe menyusui di tangan perawat, atau seperti bola menunggu pemain-polo untuk mengetuk di sekitar dengan palu itu. Destiny kemudian akan mengubah Anda tentang seperti keinginan. Jika hal itu terjadi untuk menjadi berkat, terima kasih dan pujian adalah datang dari Anda, dan dari-Nya (Maha Esa dan Agung adalah Dia) datang peningkatan hadiah. Sebagaimana Dia telah berkata (Maha Suci Allah): “Jika kamu bersyukur, Aku akan memberi Anda lebih banyak” (14:7). Jika sebuah kesulitan, namun Anda menanggapi dengan kesabaran dan kepatuhan, melalui pertolongan-Nya, sedangkan dari sisi-Nya (Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) datang keyakinan, dukungan, berkat dan rahmat, melalui kebaikan dan kemurahan hati. Sebagaimana firman Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia): “Allah beserta orang yang sabar” (2:153). Artinya, melalui dukungan-Nya dan keyakinan, karena Dia adalah mendukung hamba-Nya terhadap-Nya lebih rendah diri, gairah dan iblis-nya. Dia mengatakan (Maha Suci Allah):
Jika Anda membantu Allah, Dia akan membantu Anda dan membuat perusahaan pijakan Anda. (47:7)
Ketika Anda menolong Allah dengan lawan Anda sendiri dan gairah Anda dengan memberikan perlawanan kepada-Nya dan kebencian tindakan-Nya dalam diri Anda, ketika Anda menjadi musuh dan algojo untuk lebih rendah diri karena Allah, sehingga setiap kali bergerak dengan ketidakpercayaannya dan politeisme memenggal kepala Anda dengan kesabaran Anda, kepatuhan Anda dengan Tuhan dan kepuasan Anda dengan kerja-Nya dan janji-Nya, dan kepuasan Anda dengan mereka berdua, maka Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) akan menjadi penolong bagi Anda. Adapun berkat dan rahmat, memikirkan kata-Nya (Maha Kuasa dan Agung adalah Dia):
Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yang mengatakan, ketika musibah serangan mereka: “Untuk Allah milik kita, dan kepada-Nya kami kembali.” Seperti mereka kepada siapa yang berkat dari Tuhan mereka, dan rahmat. Tersebut adalah mendapat petunjuk. (2:155-157)
2. Kondisi lainnya adalah bahwa di mana Anda membuat permohonan kepada Tuhanmu (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) dengan doa dan permohonan yg sangat mendesak rendah hati, menghormati keagungan-Nya dan mematuhi perintah-Nya. Sekarang hal-hal yang mana mereka benar-benar milik, karena Dia telah mendesak Anda untuk menempatkan permintaan Anda kepada-Nya dan resor kepada-Nya, dan telah membuat bahwa kenyamanan bagi Anda, seorang rasul dari Anda kepada-Nya, kontak dan sarana akses kepada-Nya, dengan syarat bahwa Anda menyerah kecurigaan dan kebencian kepada-Nya dalam hal penundaan jawaban atas doa Anda sampai waktu yang sesuai.
Mencatat perbedaan antara kedua kondisi, dan tidak menjadi salah satu dari orang-orang yang melampaui batas-batas keduanya, karena tidak ada kondisi lain selain kedua. Hati-hati menjadi antara yang melampaui batas perbuatan salah, karena Dia akan menghancurkan Anda (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) tanpa peduli, sebagaimana Dia telah menghancurkan mantan masyarakat masa lalu, dengan mengintensifkan penderitaan-Nya di dunia ini dan dengan-Nya azab yang pedih di selanjutnya.
TIGA PULUH TUJUH WACANA DARI FUTUH AL-GHAIB
Pada kecaman dari iri
Syaikh (semoga Allah berkenan dengan dia, dan memberinya kepuasan) berkata:
Mengapa, percaya O, saya melihat Anda iri tetangga Anda makanannya dan minumannya, pakaiannya, istrinya, rumahnya, kesenangan kekayaan dan berkat-berkat dari Tuhannya (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) dan porsi yang dialokasikan untuk dia? Apakah Anda tidak menyadari bahwa ini adalah jenis hal yang melemahkan iman Anda, menyebabkan Anda jatuh dari pandangan Tuhanmu (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia), dan membuat Anda benci kepada-Nya? Pernahkah Anda mendengar tradisi diturunkan dari Nabi (Allah memberkatinya dan memberinya kedamaian), menurut apa yang Allah (Maha Suci Allah) mengatakan antara lain: “dengki adalah musuh berkat-Ku”? Apakah kamu tidak mendengar bahwa Nabi (Allah memberkatinya dan memberinya kedamaian) juga berkata: “Envy memakan perbuatan baik sebagai kayu api mengkonsumsi”?
Apa yang sebenarnya membuat Anda iri padanya, Anda celaka miskin? Apakah nasibnya atau sendiri? Jika Anda berbagi iri padanya, yang Allah telah dialokasikan kepadanya sesuai dengan kata-kata-Nya: “Kami telah dibagi antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia ini” (43:32), maka Anda tidak adil kepada orang, yang hanya menikmati berkat Tuhan, yang Dia telah ramah diberikan kepada dia dan ditugaskan kepadanya oleh dekrit, dan di mana Dia telah memberikan tidak ada orang lain sebagian atau bagian. Jadi, siapa yang bisa lebih adil, greedier, bodoh dan kurang wajar dari Anda?
Jika, di sisi lain, Anda iri padanya berbagi Anda sendiri, maka Anda mengkhianati ketidaktahuan tinggi, karena saham Anda tidak akan diberikan kepada siapa pun kecuali Anda, dan tidak akan ditransfer dari Anda untuk yang lain. Jauh baik dari Allah [untuk melakukannya]! Sebagaimana Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) mengatakan:
Firman tidak berubah dengan Aku, Aku tiran tidak kepada para pelayan. (50:29)
Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) tidak begitu adil kepada Anda bahwa Dia akan mengambil apa yang Dia telah diberikan Anda dan memberikannya kepada orang lain! Gagasan sangat mengkhianati ketidaktahuan dan ketidakadilan terhadap saudara Anda. Tidak masuk akal lebih baik bagi Anda untuk iri kepada bumi, yang merupakan gudang harta dan menimbun semua jenis emas dan perak dan batu mulia, mengumpulkan oleh raja-raja kuno ‘Ad dan Tsamud, oleh Chosroes dan Caesar, bukan daripada iri tetangga Anda, ia seorang mukmin atau jenis bermoral. Untuk apa dia di rumahnya tidak dapat jumlah bahkan bagian sepersejuta dari apa bumi mengandung.
Anda iri tetangga Anda mengundang perbandingan berikut: Seorang pria melihat seorang raja dengan semua itu mungkin, pasukannya dan rombongannya, kepemilikan dan kontrol perkebunan yang luas, dari mana ia mengumpulkan pajak dan memanfaatkan pendapatan. Dia melihat raja menikmati segala macam kemewahan, kesenangan dan kepuasan-kepuasan, tetapi ia tidak iri padanya semua ini. Lalu ia melihat seekor anjing bertindak sebagai pelayan salah satu anjing raja, berdiri, jongkok, menggonggong, dan diberi sisa makanan dan sisa-sisa makanan dari dapur kerajaan, di mana ia subsists. Orang itu mulai iri anjing ini, menjadi memusuhi itu, keinginan kematian dan kehancuran atasnya dan ingin mengambil tempatnya, untuk alasan berarti dan kecil, tidak dalam semangat asketisme, kesalehan agama dan kepuasan rendah hati. Pernahkah ada orang yang lebih bodoh, tolol dan bodoh?
Selain itu, celaka kau miskin, jika Anda hanya tahu apa yang perhitungan panjang tetangga Anda harus menjalani pada hari kiamat datang! Jika ia belum patuh kepada Allah sehubungan dengan semua manfaat Dia telah diberikan kepadanya, jika dia tidak bisa keluar kewajibannya mana ini prihatin, dengan mentaati perintah-Nya dan mengamati larangan-Nya karena mereka mungkin menerapkan, dan menggunakan keuntungan-nya untuk mendukung pelayanan-Nya dan ketaatan kepada-Nya, bagaimana dia akan berharap bahwa ia pernah diberi atom tunggal semua itu, bahwa ia tidak melihat berkat tunggal pada setiap hari pernah! Apakah kamu tidak mendengar sabda Nabi (Allah memberkatinya dan memberinya damai) karena mereka telah sampai kepada kita dalam tradisi: “Akan ada sekelompok orang yang pasti akan berharap, pada hari kiamat, bahwa mereka mungkin daging dipotong dengan gunting, mengingat pahala mereka melihat diberikan kepada mereka yang telah melahirkan kemalangan. “
Tetangga Anda karena itu akan datang berharap ia berada di tempat Anda di dunia ini, mengingat perhitungan yang panjang dan ia harus menjalani interogasi, dan dia harus berdiri di panas matahari selama lima puluh ribu tahun di Kebangkitan, pada akun kenyamanan, ia menikmati di dunia ini, saat Anda berada di tempat yang jauh dari semua ini, di bawah naungan Arasy, makan dan minum, menikmati diri sendiri, ceria, bahagia dan santai, karena daya tahan pasien Anda kesulitan duniawi, kendala , kesulitan, penderitaan dan kemiskinan, kepuasan dan kesiapan untuk memenuhi Tuhanmu (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia), ketika rencana-Nya dan keputusan berarti kemiskinan bagi Anda dan kemakmuran bagi orang lain, penyakit bagi Anda dan kesehatan yang baik bagi orang lain, kesulitan untuk Anda dan kemudahan untuk orang lain, penghinaan bagi Anda dan kehormatan bagi orang lain. Semoga Allah termasuk kita, dan kamu, di antara mereka yang menanggung kemalangan dengan sabar, yang bersyukur untuk berkat, dan yang mempercayakan urusan mereka kepada Tuhan langit!
WACANA EMPAT PULUH DUA DARI FUTUH AL-GHAIB
Pada kedua kondisi [diri nafs]
Syaikh (semoga Allah berkenan dengan dia, dan memberinya kepuasan) berkata:
The [diri nafs] memiliki dua kondisi dan tidak ada ketiga: Keadaan kesejahteraan dan negara bagian kesengsaraan. Ketika mengalami penderitaan, tanda-tanda yang cemas, mengeluh, jengkel, protes dan kecurigaan terhadap Tuhan Kebenaran (Agung dan Maha Suci Allah), dan kurangnya kesabaran, kepuasan dan kepatuhan. Memang, ada kemungkinan akan perilaku kurang ajar, asosiasi makhluk dan benda-benda dengan Sang Pencipta, dan tidak percaya. Ketika, di sisi lain, di negara bagian kesejahteraan, tanda-tanda keserakahan, ketidaksabaran, dan pengejaran nafsu duniawi dan kesenangan. Segera setelah memuaskan satu keinginan, ia pergi setelah lain, meremehkan berkat-berkat itu sudah memiliki, seperti makanan, minuman, pakaian, pasangan, tempat tinggal dan sarana transportasi. Ini menemukan kesalahan dan cacat dalam setiap salah satu berkat, menginginkan sesuatu yang superior dan lebih halus yang bukan bagian dari banyak perusahaan ditakdirkan, sementara menghindari apa yang telah dialokasikan untuk itu. Jadi orang yang masuk ke segala macam masalah, dan wades ke banyak bahaya dalam proses yang panjang dan lelah yang tidak memiliki akhir atau penghentian dalam baik ini dunia atau akhirat. Seperti kata pepatah: “Sesungguhnya hukuman paling keras adalah keinginan untuk memiliki apa yang tidak berbagi dialokasikan seseorang.”
Ketika diri ini sedang mengalami penderitaan, itu hanya ingin melihatnya dihapus, melupakan semua tentang kenikmatan, nafsu dan kesenangan, dan menginginkan satu pun dari mereka. Setelah dibebaskan dari penderitaan, namun, beralih ke kesembronoan nya, keserakahan dan ketidaksabaran, untuk ketidaktaatan bandel nya dari Tuhannya dan dedikasi terhadap pemberontakan berdosa terhadap-Nya. Ini lupa semua masalah dan penderitaan, semua petaka itu pergi melalui sebelumnya. Sekarang menderita cobaan bahkan lebih keras dan kesengsaraan, karena dosa besar itu telah dilakukan dan berkomitmen, untuk menyapih jauh dari ini dan untuk menahan dari perbuatan dosa di masa depan, karena kesejahteraan dan kenyamanan telah gagal reformasi itu, dan penyimpanan yang terletak agak dalam kesusahan dan kesakitan.
Jika diri sendiri telah bersikap baik ketika penderitaan itu dihapus, dan telah berlatih ketaatan, syukur dan kepuasan dengan banyak perusahaan, hal akan lebih baik untuk itu di dunia dan akhirat. Ini akan meningkatkan kenyamanan berpengalaman, kesejahteraan, persetujuan dari Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia), kesenangan, dan membantu mencapai kesuksesan.
Siapa saja yang ingin untuk keselamatan di dunia ini dan akhirat karena itu harus memupuk kesabaran dan kepuasan. Dia harus menyerah mengeluh kepada orang-orang, kirimkan kebutuhannya kepada Tuhannya (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia), praktek ketaatan kepada-Nya, menunggu kebahagiaan datang dari-Nya, dan ditujukan secara eksklusif kepada-Nya (Maha Esa dan Agung adalah Dia), sejak Dia lebih baik daripada yang lainnya dan dari seluruh ciptaan-Nya. perampasan Nya sebenarnya hadiah, hukuman-Nya berkat, pengadilan-Nya suatu obat, janji-Nya uang tunai, kata-Nya suatu perbuatan, kehendak-Nya suatu keadaan. Tentunya firman-Nya “dan perintah-Nya apabila Dia bermaksud sesuatu, adalah mengatakan untuk itu” Jadilah “, dan” (36:82). Semua perbuatan-Nya adalah baik dan bijaksana dan bermanfaat, meskipun Dia terus pengetahuan tentang manfaat tersembunyi dari hamba-Nya dan cadangan kepada DiriNya sendiri. Untuk hamba-Nya, oleh karena itu, paling tepat dan layak dalam keadaan kepuasan dan ketundukan, harus didedikasikan untuk kehambaan dengan memenuhi perintah-perintah, larangan mengamati, dan tunduk kepada keputusan takdir, untuk meninggalkan keasyikan dan memberantas dengan Mulia, yang merupakan sumber keputusan takdir itu, untuk diam pada pertanyaan mengapa dan bagaimana dan kapan, dan menyerah dugaan Kebenaran Tuhan (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia) dalam semua tahap-Nya bergerak dan istirahat.
Semua ini bersandar pada otoritas hadits dari Ibnu ‘Abbas (semoga Allah berkenan dengan dia dan ayahnya), dari siapa ditularkan oleh’ Ata ‘. Ibnu Abbas mengatakan: “Saya naik di belakang Rasulullah (Allah memberkatinya dan memberinya kedamaian) ketika ia berkata kepadaku:” Anak saya, berhati-hatilah Allah dan Dia akan menjagamu Jagalah Allah dan. Anda akan menemukan-Nya di depan Anda Jadi, ketika Anda memiliki sesuatu untuk bertanya,. meminta Allah, dan ketika Anda mencari bantuan, mencari pertolongan dari Allah. Pena telah kering dari menulis semua yang akan, jadi jika hamba-Nya adalah untuk berusaha untuk membawa Anda beberapa manfaat tidak ditetapkan untuk Anda demi Allah, mereka tidak akan mampu melakukannya, dan jika hamba-Nya adalah untuk berusaha untuk membuat Anda beberapa cedera tidak mentakdirkan untuk Anda oleh Allah, mereka tidak akan mampu melakukannya. Jadi jika Anda dapat berhubungan dengan Allah dengan kejujuran dan kepastian [] yaqin, melakukannya, dan jika Anda tidak bisa, ada banyak baik dalam kesabaran dengan apa yang Anda sukai Tahu membantu itu. berada dalam kesabaran, sukacita dengan kesedihan, dan “dengan kesulitan datang kemudahan “(94:5).” “
Ini setiap orang percaya untuk membuat hadits ini cermin hatinya, untuk memakainya sebagai pakaian dalam dan pakaian luar, untuk memperlakukannya sebagai hadits sendiri, di mana ia harus bertindak di segala kondisi, baik ia bergerak atau diam, supaya ia aman di dunia dan akhirat, dan menerima kehormatan di kedua domain melalui rahmat Allah (Yang Maha Kuasa dan Agung adalah Dia).
@Wongalus,2010
Langganan:
Postingan (Atom)