Abu Yazid al Busthami mengatakan: Para wali Allah
merupakan pengantin-pengantin di bumi-Nya dan takkan dapat melihat para
pengantin itu melainkan ahlinya. Mereka itu terkurung pada sisi-Nya di dalam
hijab (dinding penutup) kegembiraan dan takkan dapat melihat kepada mereka
seorangpun di dunia ini maupun diakhirat, yakni tiada dapat mengetahui rahasia
mereka.
Tanda (alamat) bagi seorang wali itu ada tiga: yakni agar menjadikan
kemauan kerasnya demi untuk Allah, pelariannya kepada Allah dan kemasygulannya
dengan Allah. Pendapat lain menyatakan, bahwa tanda seorang wali adalah
memandang diri dengan kerendahan dan merasa takut akan kejatuhan dirinya dari
martabat yang ia berada di atasnya, sambil tidak percaya dengan sesuatu
kekeramatan yang nyata bagi dirinya, tiada pula ia tertipu dengannya. Tiada ia
memohonkan kekeramatan itu untuk dirinya dan tiada pula ia mengakui
(kekeramatan itu).
Al Khaffaz telah berkata: Apabila Allah berkehendak untuk menjadikan
hamba-Nya seorang wali, niscaya dibukakan baginya pintu dzikir. Apabila ia
telah merasa lezat dengan dzikir itu, maka dibukakan pula atasnya pintu
pendekatan. Kemudian ditinggikan martabat-Nya kepada majelis-majelis
kegembiraan. Lalu ia didudukkan di atas kursi keimanan untuk disingkapkan
(dibukakan) daripadanya hijab (tabir penutup) dan dimasukkannya ia ke pintu
gerbang ke-Esaan serta diungkapkan baginya garis-garis ke-Maha Agungan Allah.
Pada saat penglihatannya tertuju kepada ke-Maha Agungan serta kebesaran-Nya,
niscaya ia akan tinggal tanpa dirinya dan akan menjadi fana (lenyap) untuk tiba
menuju pemeliharaan (penjagaan) Allah, agar terlepas dari segala pengakuan
dirinya. Baru kemudian ia pun menjadi seorang wali.
Mungkin seorang wali menjadi batal kewaliannya dalam sebagian hal ihwal. Akan
tetapi, yang umum atas diri wali di dalam perjalanannya dari tkebatalan kepada
ketetapannya adalah kesungguhan menunaikan hak-hak Allah Swt berbelas kasih
kepada para makhluk-Nya dalam segala hal ihwal dengan hati yang sabar, sambil
memohon kepada Allah segala kebaikan untuk para makhluk. (Mahmud Abul Faidi al
Manufi al Husain, dalam kitabnya Jamharotul Aulia’ Terjemah Abu Bakar
Basymeleh, th.1996, Mutiara Ilmu, Surabaya, hlm. 179).
Al Quthub Abdul Abbas al Mursi, menegaskan dalam kitab yang ditulis oleh
muridnya, Lathaiful Minan, karya Ibnu Athaillah as Sakandari, “Waliyullah itu
diliput ilmu dan makrifat-makrifat, sedangkan wilayah hakekat senantiasa
disaksikan oleh mata hatinya, sehingga ketika ia memberikan nasehat seakan-akan
apa yang dikatakan seperti identik dengan idzin Allah. Dan harus dipahami, bagi
siapa yang diidzinkan Allah untuk meraih ibarat yang diucapkan, pasti akan
memberikan kebaikan kepada semua makhluk, sementara isyarat-isyaratnya menjadi
riasan indah bagi jiwa-jiwa makhluk itu.”
Dasar utama perkara wali itu, kata Abul Abbas, “Adalah merasa cukup bersama
Allah, menerima ilmu-Nya dan mendapatkan pertolongan melalui musyahadah
kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Barang siapa bertawakkal kepada Allah,
maka Dia-lah yang mencukupinya.” (QS. ath Thalaq : 3). “Bukankah Allah telah
mencukupi hambanya?” (az Zumar : 36). “Bukankah ia tahu, bahwa sesungguhnya
Allah itu Maha Tahu?” (QS. al Alaq : 14). “Apakah kamu tidak cukup dengan
Tuhanmu, bahwa sesungguhnya Dia itu menyaksikan segala sesuatu ? (QS.
Fushshilat : 53)”
Wali-wali itu merupakan orang-orang yang akan meneruskan hidup suci dari Nabi,
orang-orang yang mujahadah, orang-orang yang menjaga waktu ibadat, yang
rebut-merebut mengerjakan taat, yang tidak ingin lagi merasakan kelezatan
lahir, kenikmatan panca indera, mengikuti jejak Nabi, mencontoh perbuatan
Muhajirin dan Anshar, lari ke gunung dan gua untuk beribadat, melatih hati dan
matanya untuk melihat Tuhan, merekalah yang berhak dinamakan Atqiya’, Akhfiya’,
Ghuraba’, Nujaba’, dan lain-lain nama-nama sanjungan yang indah yang
dipersembahkan kepada mereka.
Nabi berpesan, bahwa Tuhan mencintai Atqiya’ dan Akhfiya’, Tuhan mencintai
Ghuraba’, yaitu mereka yang ke sana-ke mari menyelamatkan agamanya, yang nanti
akan dibangkitkan pada hari kiamat bersama-sama Isa bin Maryam, Tuhan mencintai
hamba-Nya yang membersihkan dirinya, yang melepaskan dirinya daripada kesibukan
anak bini, cerita-cerita yang indah yang pernah disampaikan oleh Abu Waqqash,
Abdullah bin Umar, Abdullah bin Mas’ud, Abu Umamah dan lain-lain yang menjadi
pembicaraan dalam kitab “Hilliyatul Auliya”, sebagai kitab besar yang menyimpan
keindahan dan kemegahan wali-wali itu.
Diceritakan lebih lanjut dalam kitab-kitab sufi, bahwa wali-wali itu merupakan
qutub-qutub atau khalifah-khalifah Nabi yang tidak ada putus-putusnya terdapat
di atas permukaan bumi ini. Mereka meningkat kepada kedudukannya yang mulia itu
sesudah mengetahui hakekat syari’at, sesudah memahami rahasia kodrat Tuhan,
sesudah tidak makan melainkan apa yang diusahakan dengan tenaganya sendiri,
sesudah tumbuh dan jiwanya suci, tidak memerlukan lagi hidup duniawi, tetapi
semata-mata menunjukkan perjalanannya menemui wajah Tuhan.
Barang siapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman sebagai
penolongnya (awliya’), maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah pasti
menang. (QS. al Maidah : 56)
Bagi Allah, ada orang takkan dapat dikenal melainkan oleh para khusus. Bagi
Allah, ada orang (kelompok) yang dapat dikenal oleh oleh para khusus dan awam.
Bagi Allah, ada orang yang takkan dapat dikenal oleh para khusus maupun para
umum. Bagi Allah, ada yang telah diungkapkan pada “Bidayat” (permulaan)dan
ditutup rapat pada “Nihayat” (kesudahan). Bagi Allah, ada orang yang ditutup
rapat pada “Bidayat” (permulaan) dan diungkapkan pada “Nihayat”. Dan bagi Allah
ada orang (kelompok) yang tidak dapat dikenal selain oleh Dia sendiri. Tiada
yang dapat mengetahui apa yang terjadi antara mereka dan Allah Swt, kecuali
para malaikat.
Seorang wali selalu mengerjakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.
Dia tidak tertarik mengejar keutamaan duniawi, apalagi menguasai seperti
diinginkan banyak orang. Ketika mendapat sedikit nikmat dia tetap bersabar,
jika banyak dia bersyukur. Celaan atau pujian, terkenal atau tidak, baginya
sama saja. Dia tidak sombong dengan kewalian yang dianugerahkan Allah kepada
dirinya. Semakin tinggi Allah menaikkan derajadnya, semakin bertambah
kedudukannya. Dialah orang yang berakhlak baik, sangat ramah dan bijaksana.
Seorang wali senantiasa menyibukkan dirinya dengan hal yang disenangi dan di
sunahkan Allah, sehingga ia dicintai Allah, menyatu dengan-Nya, do’a-do’anya
selalu terkabul dan selalu mendapat perlindungan dari Allah Swt.
Di antara para wali terdapat wali-wali Allah yang pangkatnya sangat digandrungi
oleh para Nabi dan para Syuhada’ pada hari kiamat seperti hadits Rasulullah Saw
:
قَالَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ : اِنَّ مِنْ عِبَادِ اللهِ
عِبَادًا يُغْبِطُهُمُ اْلاَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ. قِيْلَ مَنْ هُمْ يَا
رَسُوْلَ اللهِ، لَعَلَّنَا نُحِبُّهُمْ. هُمْ قَوْمٌ تَحَابُّوْا بِنُوْرِ اللهِ
مِنْ غَيْرِ اَمْوَالِ وَاَنْسَابِ، وُجُوْهُهُمْ نُوْرٌ. وَهُمْ عَلَى
مَنَابِرَمِنْ نُوْرِ لاَيَخَافُوْنَ اِذَا خَافَ النَّاسُ، وَلاَ يَخْزَنُوْنَ
اِذَا حَزِنَ النَاسُ. ثُمَّ تَلاَ. اَلاَ اِنَّ اَوْلِياَءَ اللهِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِمْ
وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ.
Sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para
Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan
Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Swt
seorang dari shahabatnya berkata, siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah?
Dan apa amal perbuatan mereka? Semoga kita dapat mencintai mereka? Nabi Saw
menjawab dengan sabdanya: Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang
dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena
harta benda yang dengannya mereka saling memberi. Demi Allah, wajah-wajah
mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya.
Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka
cita apabila para manusia berduka cita. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam
kitab shahihnya)
Kemudian Rasul membacakan firman Allah Swt:
Ingatlah, sesungguhnya para wali Allah tiada ketakutan pada diri mereka dan tiada
pula mereka berduka cita. (QS. Yunus : 62).
Di antara sifat-sifat mereka adalah dapat mewariskan kepada para kawan
semajelis mereka mengenai kesempurnaan dzikir. Mereka karena cintanya kepada
Allah dan menyatu dengan-Nya, maka setiap orang yang menyebut Allah, mereka pun
harus diingat pula. Dan setiap orang yang menyebut mereka, berarti Allah pun
disebut. Karena nama Allah tidak bisa dipisahkan dengan nama mereka, dan nama
mereka pun tidak bisa dipisahkan dengan nama Allah.
اِنَّ اَوْلِياَئِى مِنْ عِبَادِى وَاَحِبَّانِى مِنْ خَلْقِى
الَّذِيْنَ يُذْكَرُوْنَ بِذِكْرِى وَاذْكَرُ بِذِكْرِهِمْ
Sesungguhnya para wali diantara para hamba-Ku dan para kekasih-Ku di antara
makhluk adalah mereka yang selalu disebut dengan nama-Ku. Begitu juga Aku
disebut dengan sebutan (nama) mereka.
Pernah Rasulullah Saw ditanya tentang siapa para wali Allah itu? Beliau
menjawab: “Mereka itulah pribadi-pribadi yang apabila dilihat orang, niscaya
Allah Swt disebut bersama (nama)-Nya.” Mereka terbebas (terselamatkan) dari
fitnah dan cobaan dan terhindar dari malapetaka.
Nabi bersabda :
اِنَّ ِللهِ ضَنَائِنَ مِنْ عِبَادِهِ يُعْذِيْهِمْ فِى رَحْمَتِهِ
وَيُحْيِيْهِمْ فِى عَافِيَتِهِ اِذَا تَوَافَّاهُمْ تَوَافاَّهُمْ اِلَى
جَنَّتِهِ اُولَئِكَ الَّذِيْنَ تَمُرُّ عَلَيْهِمُ الْفِتَنُ كَقَطْعِ اللَّيْلِ
الْمُظْلِمِ وَهُوَ مِنْهَا فِى عَافِيَةٍ
Sesungguhnya bagi Allah ada orang-orang yang baik (yang tidak pernah
menonjolkan diri di antara para hamba-Nya yang dipelihara dalam kasih sayang
dan dihidupkan di dalam afiat (sehat yang sempurna). Apabila mereka diwafatkan,
niscaya dimasukkan kedalam surganya. Mereka terkena fitnah atau ujian, sehingga
mereka seperti berjalan di sebagian malam yang gelap, sedang mereka selamat
daripadanya.
Wahab bin Munabbih meriwayatkan, bahwa para hawariyun telah bertanya kepada
Nabi Isa tentang siapa para wali Allah yang tiada merasa takut dan berduka
cita? Nabi Isa menjawab: Mereka adalah para hamba yang selalu memandang kepada
batin dunia ini, padahal para manusia yang lain memandang dari sisi lahirnya.
Mereka mempersiapkan ajal (habisnya umur) dunia ini, ketika para manusia
melihat pada kehidupan yang kini saja. Mereka menjauhkan diri dari sesuatu yang
akan menodai kehambaan mereka. Pengingkaran mereka terhadap dunia ini merupakan
suatu kemerdekaan dan kegembiraan mereka terhadap apa yang mereka capai
daripadanya (dunia ini) merupakan duka cita.
Sebagaimana disebutkan dalam hadits kudsi berikut ini :
ياَ أَوْلِيَائِى، جَزَائِى لَكُمْ اَفْضَلُ الْجَزَاءِ، وَعَطَائِى
لَكُمْ اَجْزَلُ الْعَطَاءِ، وَبَذْلِى لَكُمْ اَفْضَلُ الْبَذْلِ، وَفَضْلِى
عَلَيْكُمْ اَكْثَرُ الْفَضْلِ، وَمُعَامَلَتِى لَكُمْ اَوْفَى مُعَامَلَةٍ
وَمُطَالَبَتِى لَكُمْ اَشَدُّ الْمُطَالَبَةِ. اَناَ مُجْتَبَى الْقُلُوْبِ
وَاَناَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ وَاَناَ مُرَاقِبُ الْحَرَكَاتِ وَمُلاَحِظُ اللَّحَظَاتِ
اَناَالْمُشْرِفُ عَلىَ الْخَوَاطِرِ، اَناَ الْعَالِمُ بِمَا جَالَ الْفِكْرُ
فَكُوْنُوْا دُعَاةً لِى لاَ يَفُزُّ عَنْكُمْ ذَوِى سُلْطَانٍ سِوَايَ، فَمَنْ
عَادَاكُمْ عَادَيْتُهُ وَمَنْ وَالاَكُمْ وَالَيْتُهُ وَمَنْ اَذَاكُمْ
اَهْلَكْتُهُ وَمَنْ اَحْسَنُ اِلَيْكُمْ جَازَيْتُهُ، وَمَنْ هَجَرَكُمْ
قَلَّيْتُهُ
Wahai para aulia-Ku, pemberian-Ku kepadamu adalah sebaik-baiknya pahala.
Derma-Ku demi untukmu adalah semulia-mulianya pendermaan. Anugerah-Ku
terhadapmu adalah sebanyak-banyaknya anugerah. Pergaulan-Ku kepadamu adalah
setepat-tepatnya pergaulan. Tuntutan-Ku atas kamu adalah sekeras-kerasnya
tuntutan. Akulah pemilik setiap hati sanubari. Akulah Yang Maha Mengetahui
segala yang gaib. Akulah pemandang segala gerak-gerik. Akulah pengawas segala
lirikan mata. Akulah yang melihat atas lintasan-lintasan hati. Akulah yang
mengetahui gerakan pikiran.
Dengan demikian hendaklah kamu menjadi para pemanggil demi untuk-Ku. Janganlah
kamu merasa takut kepada raja dan penguasa selain-Ku. Barang siapa yang berani
memusuhi kamu, niscaya Akulah yang menjadi lawannya. Barang siapa yang
menyakiti hati kamu, niscaya Akulah yang akan membinasakannya. Barang siapa
yang berbuat baik kepadamu, niscaya Akulah yang memberinya pahala dan barang
siapa yang meninggalkan kamu, niscaya Akulah yang membencinya.
Dalam riwayat yang lain, yaitu dari Dzunnun yang juga berkenaan dengan sifat
mereka adalah bersegera kepada amal kebaikan, berpaling daripada senda gurau
dan terbebas dari keraguan serta kekejian. Mereka seperti orang-orang yang bisu
dan buta, padahal mereka fasih dan melihat, malah mereka memiliki pandangan
yang tajam. Tentang kaum ini, tiada seorang pun yang berkemampuan untuk
menguraikan seluruh dari hal ihwal mereka. Bersama mereka, dapat tercegah balas
dendam dan atas mereka diturunkan berbagai keberkahan di muka bumi. Merekalah
manusia yang paling indah dalam bertutur kata, manusia-manusia yang sangat
memenuhi janji setia, cahaya bagi para hamba yang memberi sinar terang kepada
Negara, pelita dimalam gelap gulita, pancaran hikmat kebijaksanaan, tiang yang
kokoh bagi umat dan masyarakat. Tulang rusuk mereka amat renggang dari tempat
tidur, memiliki sifat pemaaf dan gemar memberi keringanan. Tangan mereka
terbuka serta dermawan. Mereka memandang pahala Allah dengan jiwa-jiwa yang
penuh kerinduan. Dengan lirikan mata yang tepat. Amal perbuatan mereka yang
rapi penuh dengan kesesuaian.
Mereka itulah yang telah mendapatkan cahaya Ilahiyat dengan nur ar Rahman,
sehingga dapat memandang keindahan maut dan memandang akhirat dengan mata
keridlaan. Membeli yang kekal dengan yang fana. Alangkah nikmatnya apa yang
mereka jual-belikan dengan menghimpun dua kebaikan dan menyempurnakan dua
kelebihan. Nabi bersabda :
اَحَبُّ الْعِبَادِ إِلىَ اللهِ اْلاَتْقِيَاءُ اْلاَخْفِيَاءُ
الَّذِيْنَ اِذَا غَابُوْا لَمْ يَفْتَقِدُوْا وَاِذَا شَهِدُوْا لَمْ يَعْرِفُوْا
اُولَئِكَ هُمْ أَئِمَّةُ الْهُدَى وَمَصَابِيْحُ الْعِلْمِ
Hamba yang paling cinta kepada Allah adalah yang tersembunyi. Apabila mereka
gaib (tidak hadir), sekali-kali tiada orang yang dapat mengenalnya. Mereka itu
adalah para imam hidayat dan lampu-lampu ilmu pengetahuan.
Sabda Beliau Saw yang lain :
اِنَّ مِنْ خِيَارِ اُمَّتِى قَوْمٌ يَضْحَكُوْنَ جَهْراً مِنْ سَعَةِ
رَحْمَةِ رَبِّهِمْ وَيَبْكُوْنَ سِرًّا مِنْ خَوْفِ شِدَّةِ عَذَابِ رَبِّهِمْ
عَزَّ وَجَلَّ يَذْكُرُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ وَيَدْعُوْنَهُ
بِأَلْسِنَتِهِمْ رَغَبًا وَرَهَباً وَيَشْتَاقُوْنَ اِلَيْهِ بِقُلُوْبِهِمْ
عَوْدًا وَبَدَأَ مُؤْنَتُهُمْ عَلىَ النَّاسِ خَفِيْفَةً وَعَلىَ اَنْفُسِهِمْ
ثَقِيْلَةً عَلَيْهِمْ مِنَ اللهِ تَعَالىَ شُهُوْدٌ حَاضِرَةٌ وَاَعْيُنٌ
حَافِظَةٌ وَنِعَمٌ ظَاهِرَةٌ يَتَوَسَّمُوْنَ الْعِبَادَ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِى
الْبِلاَدِ اَجْسَادُهُمْ فِى اْلاَرْضِ وَقُلُوْبُهُمْ فِى السَّمَاءِِ
Orang yang terbaik di antara umatku adalah suatu kaum yang tersenyum karena
luasnya rahmat dan kasih sayang Allah. Di samping itu, mereka manangis
tersedu-sedu sambil mencucurkan air mata karena takut akan kerasnya adzab
(siksa) Allah. Mereka senantiasa berdzikir dan berdoa sambil menaruh penuh
harapan dan rasa takut. Mereka merindukan Rabb-Nya dengan hati yang tulus.
Beban mereka atas manusia sangat ringan tapi atas diri mereka sendiri berat
sekali. Penyaksian atas mereka dari Allah Swt dengan penglihatan yang
memelihara dan aneka nikmat yang nyata. Mereka melihat tanda-tanda seorang
hamba dan memikirkan negerinya. Jasad mereka berada di permukaan bumi, sedang
hati sanubari mereka menjulang tinggi di langit.
Kemudian Beliau bersabda :
Yang demikian itu adalah bagi orang yang takut akan menghadap kehadirat-Ku dan
takut akan ancaman-Ku. (QS. Ibrahim : 14)
Al Hakim at Tirmidzi, salah satu sufi besar generasi abad pertengahan,
menulis kitab yang sangat monumental hingga saat ini, Khatamul Auliya’
(tanda-tanda kewalian), yang diantaranya berisi 156 pertanyaan mengenai dunia
sufi, dan siapa yang bisa menjawabnya, maka ia akan mendapatkan tanda-tanda
kewalian itu.
Sumber : Wasiat Sufi (Drs. K. Ahmad Mufid)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar